Lars and The Real Girl
December 21, 2008, 7:37 pm
Filed under:
Film
Kamis, 2008 Desember 18
Persoalan iPod selesai juga, yes! Sayang earbud-nya cuma ada satu, mendengarkan iPodnya jadi kurang maksimal. Namun, untuk sementara masalah selesai, the conflict is temporary terminated.
Saya menghabiskan sepanjang siang dengan menonton sebuah film yang quirky dan solid berjudul Lars and the Real Girl. Film ini dibintangi Ryan Gosling, Emily Mortimer (Match Point, 30 Rock, Paris, I Love You di segmen yang ada Oscar Wilde-nya), Paul Schneider, favorit saya Patricia Clarkson, dan Kelli Garner. Kesemuanya berakting dengan adorable. Ini pertama kalinya saya menyaksikan akting Ryan Gosling dan saya menyukainya. Eh nggak, deng. Sebelumnya saya sudah melihat Gosling di film United States of Leland yang kualitasnya agak biasa.
Alkisah Lars, tokoh protagonis film ini, adalah seorang anti-sosial yang benar-benar merasakan kesakitan apabila disentuh orang lain. Yang tidak disadari oleh Lars adalah bahwa sebetulnya ia dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, ketika Lars menderita kelainan delusional yang membuatnya mengakui Bianca, sebuah boneka sex, sebagai kekasihnya, ketulusan kasih sayang dari orang-orang di sekitar Lars mendapatkan ujian. Apakah mereka akan ikut dalam pemahaman Lars bahwa Bianca merupakan sosok yang hidup senyata mereka? Lars and the Real Girl bercerita tentang bagaimana kehadiran sebuah boneka sex justru ‘mengembalikan’ Lars kepada orang-orang yang menyayanginya.
Lars and the Real Girl disutradarai oleh Craig Gillespie, saya tidak terlalu mengenal karyanya yang lain, tetapi Lars sendiri cukup bagus. Cerita laki-laki dan boneka ini sedikit banyak mengingatkan saya kepada film Dummy, yang dibintangi Adrien Brody, Vera Vermiga, dan Milla Jovovich. Meskipun dalam Dummy karakter yang diperankan Adrien Brody tidak mengalami kelainan delusional. Skenario Lars ditulis oleh Nancy Oliver, seorang penulis veteran HBO yang juga menulis Six Feet Under, True Blood, dll. Selain akting yang enak dilihat, cerita film ini juga sangat-sangat menghangatkan hati. Pokoknya cocok dengan selera Sundance Americindie saya :). DVD bajakan film ini bisa dipinjam di Comic Corner, Bandung.
Sisterhood of Traveling Pants 2
Rabu, 2008 Desember 17
Seperti yang sudah diduga urusan iPod ini menjadi semakin lama dan tidak jelas akan berujung ke mana. Untung hari ini saya menyempatkan ke Comic Corner dan menyewa film jadinya agak terhibur, berikut film yang saya sewa: Sixteen Candles, Lars and the Real Girl, The Sisterhood of Traveling Pants 2, dan Love Songs.
Pertama-tama saya akan menulis tentang The Sisterhood of Traveling Pants 2,berhubung baru ini film yang sudah saya tonton. Film ini sangat-sangat mengangkat problematika young woman. Saya setengah berbisik ketika mengutarakan hendak meminjamnya pada penjaga rental film, Comic Corner. Namun resensi yang lumayan bagus dari para kritikus top di situs Rotten Tomatoes membuat saya cuek menonton film ini. Serial The Sisterhood of Traveling Pants dibintangi idola-idola (dan mantan idola) remaja saat ini. Ada America Ferrera (Ugly Betty), Blake Lively (Gossip Girl), Alexis Bledel (Gilmore Girls), dan Amber Tamblyn (Joan of Arcadia, ada yang ingat serial ini pernah diputar di Global TV?). Sanaa Hamri, sutradara Sisterhood, pun tidak bisa dianggap kacangan. Sebelum mengarahkan film ini, Hamri telah menyutradarai film Something New yang diakui oleh para kritikus sebagai film yang berhasil mengangkat masalah rasialisme dengan kritis meskipun berbumbu komedi romantis.
Alkisah musim panas ini adalah musim panas kesekian sejak musim panas di mana para tokoh utama: Carmen, Lena, Tibby, dan Bridget, pertama kali menghabiskan waktu dengan celana jeans yang muat di badan mereka berempat, sekalipun ukuran tubuh mereka berbeda. Para gadis kini sudah berstatus sebagai mahasiswa di perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat. Carmen masuk Yale, Lena diterima di Rhode Island School of Design, Tibby mengikuti program film di New York University, dan Bridget masuk Brown. Masing-masing punya masalah tertentu, entah Tibby takut hamil dan takut berkomitmen dengan pasangan, Lena mesti berhadapan dengan cinta pertamanya, Carmen harus mengatasi sifat pemalunya, dan upaya Bridget berdamai dengan keluarganya. Persahabatan mereka pun diuji dengan semakin sedikitnya waktu yang dihabiskan bersama-sama, dan semakin beratnya masalah yang harus dihadapi sendiri.
Agak pusing juga mengikuti film ini, mungkin karena saya kurang memahami permasalahan yang dikemukakan, karena saya bukan target market Sisterhood. Kecepatan alurnya, juga bukan di kecepatan yang saya suka. Film ini bergulir lumayan cepat, dengan konflik yang betul-betul padat. Beberapa storyline terasa kurang meyakinkan. Contoh: ketakutan Tibby pada kehamilan, dan dilema cinta pertama Lena. Adegan yang menunjukkan ketakutan Tibby dibuat agak slapstick, sementara akting Alexis Bledel, yang memerankan Lena, entah bagaimana terasa sedemikian datar sehingga tidak menimbulkan keterkaitan dengan penonton. Oke, dia memang cantik, pucat dan bermata bagus. Namun suara manjanya terlalu manis, membuat saya betul-betul ingin mencekiknya dengan bantal. Suara Bledel mungkin cocok buat serial Gilmore Girls, di mana dia berperan sebagai know-it-all daughter, tetapi akan sangat menyebalkan mendengar suaranya pada film-film lain. Out of topic, saya lega dengan siratan nasibnya pada film Sin City, yang berarti besar kemungkinan ia tak akan muncul lagi pada Sin City 2. Walaupun demikian, ada satu kelebihan dari film ini, penonton akan percaya bahwa keempat tokoh utamanya memang benar-benar bersahabat.
Namun, dengan segala kekurangannya, saya cukup merekomendasikan The Sisterhood of Traveling Pants 2. I can’t help it! Film ini mengingatkan saya dengan seorang teman. Nilainya 7, deh.
True Blood
December 21, 2008, 6:29 pm
Filed under:
Television
Senin, 15 Desember 2008
Siang ini, setelah membayar kartu kredit dan coba menebus iPod di IBCC, saya iseng mencari-cari DVD di Vertex. Tanpa disangka saya menemukan True Blood! Serial HBO yang sudah lama saya incar karena dibuat oleh Alan Ball, yang juga membuat Six Feet Under dan menulis skenario American Beauty. Premis True Blood, yang diangkat dari novel berseri The Southern Vampire Mysteries, sebetulnya agak mirip dengan Twilight:(Serial yang cuma saya baca buku pertamanya dan tidak saya tonton filmnya, tapi cukup untuk membuat saya dituduh sebagai penggemarnya.) seorang perempuan aneh yang jatuh cinta kepada vampir ganteng. Memang harus diakui, sejauh ini episode-episode yang saya tonton kualitasnya lumayan so-so.
Mungkin yang menarik di serial ini, para vampir diceritakan sudah legal berkeliaran di dunia manusia. Terima kasih kepada para ilmuwan Jepang yang menemukan minuman substansi pengganti darah bermerk Tru Blood, sehingga kaum vampir bisa keluar dari persembunyiannya malam-malam dan membaur dengan manusia. (Istilahnya mainstreaming.) Tentu ada beberapa vampir yang tidak puas dengan Tru Blood, dan masih menebar ancaman pada manusia. Plot berkisar pada kasus pembunuhan berantai di Bon Temps, kota fiksional di Louisiana. Benang merahnya, setiap perempuan yang dibunuh pernah berhubungan dengan vampir. Entah hubungan seks, hubungan pertemanan, atau hubungan adiksi terhadap darah vampir yang memang bikin kecanduan. Magnet yang membuat saya menonton True Blood adalah hubungan romantik kering antara si vampir mainstream Bill Compton (Stephen Moyer) dan si tokoh utama Sookie Stackhouse (Anna Paquin), seorang waitress yang bisa membaca pikiran setiap orang, kecuali Bill dan tentu saja, inilah yang menjadi daya tarik si vampir. Serial ini mungkin lebih sebagai guilty pleasure daripada a must-watch television series. Nonton lagi, ah!
The Cool Political Movie
November 25, 2008, 3:28 am
Filed under:
Film
Jarang saya bertemu film dengan latar belakang Hubungan Internasional yang sukses mencuri hati. Biasanya yang ditemukan adalah film-film berbau propaganda, biopik, spionase, atau teori konspirasi. Kesemuanya itu bukan tema favorit saya, apalagi kalau ending-nya depressing, disturbing, dan debatable. Dan lagi kalau tak ada amanat lain yang bisa diambil dari film-film tersebut selain, ‘Politik itu kotor’. Aduh!
Beruntung baru-baru ini saya menemukan dua film yang rasanya tidak termasuk dalam kategori ‘film politis yang biasa ditemukan’. Judulnya The Girl in the Cafe dan The Visitor. Menonton keduanya merupakan kejutan yang cukup menyenangkan dan membuat saya ingin membaginya. Oke, langsung saja:
The Girl in the Cafe (2005) disutradarai oleh David Yates (sutradara tiga film terakhir Harry Potter) dan skenarionya ditulis oleh Richard Curtis. Alkisah Lawrence (Bill Nighy, yang memerankan sisa rocker di Love Actually) adalah seorang staf ahli Konsulat Perdagangan Kerajaan Inggris. Ia hidup sendirian dan yang menjadi indikator dari seberapa buruk harinya adalah seberapa banyak ia menambahkan gula ke dalam tehnya. Pada suatu hari cafe penuh, dan Lawrence harus berbagi meja dengan seorang perempuan yang jauh lebih muda (dan cantik tentu saja) bernama Gina (Kelly McDonald). Ketika Lawrence mendapat tugas mendampingi menteri keuangan dalam G8 summit di Reykjavik, ia memberanikan diri untuk mengajak serta Gina. Tanpa banyak kata, Gina pun menyetujui.
Dengan munculnya nama Curtis sebagai penulis skenario, tentu saja saya berasumsi bahwa film ini bergenre komedi romantis seperti Notting Hill, Love Actually, Bridget Jones’s Diary, sampai Four Weddings and a Funeral. Dari sinopsis yang saya tulis pun kelihatannya seperti komedi romantis. Asumsi saya tetap terjaga nyaris hingga film selesai. Dan ketika muncul sebuah twist yang sukses membuka kedok film ini sebagai film yang lebih politis ketimbang romantis, saya tak sedikit pun kecewa. Ketika saya teliti lebih lanjut, ternyata film ini memang dibuat sebagai film televisi yang menjadi bagian dari kampanye besar Make Poverty History (Ingat ketika bintang-bintang papan atas Holywood tiba-tiba mengampanyekan ini dalam klip hitam-putih dalam siaran Metro TV?). Harus diakui memang agak ganjil bagi seorang Richard Curtis untuk menulis film serius yang diakhiri dengan kutipan dari Nelson Mandela (Film-filmnya memang suka menggunakan unsur politis, tetapi biasanya cuma untuk guyonan). Namun sekali lagi saya tidak kecewa. Mungkin The Girl in the Cafe agak berbau propaganda, tetapi propaganda itu hampir tidak terasa di mata.
Film kedua berjudul The Visitor (2008). Ditulis dan disutradarai oleh Thomas McCarthy, yang saya anggap berbakat (Filmnya yang lain berjudul The Station Agent, ratingnya sangat positif di Rotten Tomatoes). Film ini dibuka dengan kocak tetapi sedih, di mana pada usia agak tua Walter (Richard Jenkins, yang juga memerankan Nathaniel Fisher Sr dalam serial Six Feet Under) memulai belajar piano pada seorang wanita sebayanya. Belakangan (di adegan pembuka) diketahui kalau piano tersebut adalah peninggalan istrinya yang meninggal beberapa bulan yang lalu.
Walter adalah seorang profesor ekonomi Connecticut College yang mesti mempresentasikan makalah koleganya di New York. Di New York, ia mendapati apartemen lamanya ternyata ditempati secara ilegal oleh pasangan imigran ilegal dari Afrika, Tarek dan Zainab. Setelah mendapati bahwa pasangan tersebut tidak memiliki tempat tinggal yang lain, Walter mempersilakan keduanya untuk tinggal bersamanya. Hubungan satu atap menjadi hubungan pertemanan ketika Tarek, seorang musisi, mengajarkan Walter, yang payah dalam piano, bermain jembe. Keakraban mengalami ancaman ketika suatu hari Tarek ditangkap polisi.
Penonton The Visitor akan dibawa memahami situasi yang tumbuh antara Walter (seorang profesor kaya yang WASPy) dengan keluarga Tarek yang ilegal, Afrika, dan Islam. Sebagai catatan, film ini berlatarkan situasi New York paska-9/11. Di akhir film, saya tidak merasa mual karena terlalu banyak dijejali propaganda. Justru dengan sukarela saya jadi bersikap kritis. Tidak lupa, harus dicatat, nilai tambah film ini terletak pada permainan jembenya. Penonton akan merasa ingin juga belajar main jembe! Lagi-lagi hati ini adalah film yang berhasil mengemas pesan politiknya dengan halus. Bandingkan dengan The Life of David Gale, misalnya, yang agak-agak know-it-all (Hanya pendapat pribadi tentu saja:)).
Sekian untuk kali ini. Kedua film bisa dipinjam DVD-nya di Comic Corner, Bandung.
Oleh-Oleh dari Jendela Ide
Sekilas
saya menemukan banyak hal ‘aman’ dalam lukisan Tiara: awan biru, burung-burung dua
garis lengkung, rumput hijau, kayu coklat, dan latar belakang yang putih polos
karena tidak diapa-apakan. Kesan pertama yang saya dapat adalah pelukisnya
merupakan anak kecil yang pretensius. Maksudnya dia terlalu banyak mengambil
langkah aman supaya lukisannya bisa dibilang bagus. Kaki ini ingin beranjak
sebelum kepala saya menegurnya, “Hei, bukannya kamu juga pretensius?”
Waktu
kecil ada banyak aturan yang muncul ketika guru saya memerintahkan muridnya
melukis. Jangan bikin kotor! Warnanya mesti rata! Jangan melampaui garis! Mewarnainya
mesti searah! Dan sebagainya. Dan
lain-lain. Lama-lama saya takut sendiri kalau-kalau sketsa saya kotor saat
diwarnai. Saya mulai membuat gambar-gambar yang aman untuk diwarnai—termasuk
dua gunung dan sebuah matahari di tengah-tengahnya. Saya teridentifikasi dengan
lukisan Tiara dan merasa kenal si pelukisnya secara personal. Saya suka Tiara
apa adanya, meskipun lukisannya terlalu aman.
Begitu
kenal dan suka, saya jadi betah memandangi lukisan ini lama-lama. Bahkan saya
mendadak tersadar ternyata Tiara tak sekadar berpegang pada yang ‘aman’, tetapi
juga bisa melakukan hal yang tidak biasa! Alih-alih mewarnai wajah anak
perempuan dalam lukisannya dengan warna kuning atau coklat muda, Tiara memilih
warna biru. Jemari si anak perempuan diwarnai hijau muda serasi dengan matanya.
Matahari pun berwarna merah. Tidak kalah keren Tiara memakaikan si anak perempuan
dalam gambar sweater leher kura-kura kuning yang kerahnya semerah celana
panjangnya.
Saya
sangat terwakili oleh lukisan ini, yang di satu sisi terlalu ‘aman’, tetapi di
sisi lain berusaha tetap orisinal. Bisa jadi jatuhnya kelihatan biasa saja. Seperti
orang-orang yang memandang saya biasa atau malah kurang penting. Barangkali ini
hanya sebentuk narsisme saya saja. Namun ingin rasanya memeluk lukisan ini dan
membawanya pulang.
Tulisan ini dibuat ketika Reading Lights Writer’s Circle mengadakan pertemuan mingguannya di Jendela Ide, Sabuga. Foto oleh Erick.
Reportase lengkap Myra dalam waktu dekat bisa dilihat di sini. <!– ckey="6DF48C85" –>
Huek, Resensi Yang Ditolak 2: Trip to the Wound
July 9, 2008, 12:22 am
Filed under:
Film

Judul film: Trip
to the Wound
Sutradara dan
Penulis skenario: Edwin
Penata Kamera:
Sidi Saleh
Pemain: Ladya
Cheryll, Carlo Genta Saputra
Dua kali saya
menonton Trip to the Wound.
Pengalaman pertama berlangsung di sebuah pertemuan penulis pemula yang rutin
saya kunjungi. Arief Ash-Shiddiq, fasilitatornya kala itu, tengah membuat
tulisan tentang film-film Edwin, sutradara Trip
to the Wound. Sambil membuat kerangka tulisannya, redaktur majalah Visual
Art itu menjelaskan pengaruh struktur bagi penyampaian makna cerita kepada
saya dan penulis pemula lainnya.
“Sekalipun
ceritanya rumit, kalau strukturnya jelas maka orang lain juga bisa paham,”
kurang lebih begitu kata Arief. Sebagai contoh ia lantas memutarkan A Very Slow Breakfast, Dajang Soembi, Kara, A Very Boring
Conversation, dan Trip to the Wound
secara berurutan. Kelar dua film diputar, Arief memperlihatkan adanya kesamaan
struktur antara keduanya yang bisa dijadikan petunjuk untuk memahami film
tersebut. Pertama, Edwin menggunakan ‘panggung’ dalam kedua film, panggung yang
dibuat begitu sempit sehingga karakter-karakternya terpaksa berinteraksi.
Kedua, Edwin memanfaatkan hal-hal teknis, seperti perubahan gerak kamera, tata
suara, pencahayaan, dsb, guna menekankan adegan-adegan yang dianggapnya
penting.
Ketika struktur
yang sama dan makin matang keluar pada film-film berikutnya, kami mulai bisa
meraba-raba apa yang sebenarnya ingin disampaikan sutradara. Kekaguman kami
memuncak pada A Very Boring Conversation
yang menjebak. Sayang kami gagal memecahkan makna Trip to the Wound. Arief sendiri saat itu bilang tak melihat adanya
gebrakan pada Trip to the Wound,
“Edwin udah membuat penonton jadi pengganggu di Kara. Penonton juga udah berburuk sangka di Boring Conversation. Mana yang baru?” Kami pun setuju tanpa banyak
perdebatan.
Berbulan-bulan
kemudian saya kembali menonton Trip to
the Wound. Kali ini pada pemutaran antologi 9808 di Selasar Sunaryo. Rupanya
film ini termasuk dalam sepuluh film pendek dalam 9808, sebuah antologi sepuluh tahun reformasi yang bertolak dari
peristiwa Mei 1998. Trip to the Wound
bercerita tentang seorang perempuan muda (Ladya Cheryll) yang berjumpa
laki-laki sebayanya (Carlo Genta Saputra) dalam sebuah perjalanan. Entah dari
mana si perempuan tahu ada bekas luka di bahu si laki-laki, mereka pun terlibat
dalam percakapan tentang luka. Seiring bergulirnya roda-roda bus, mereka tak
cuma terlibat dalam percakapan saja. Tiba-tiba lampu di kepala saya menyala.
Saya baru sadar ada satu lagi petunjuk yang tak didapatkan waktu pertama kali
menonton Trip to the Wound: latar
belakang film. Teka-teki makna film ini pun sedikit terkuak.
Saya teringat
pesan Arief, untuk memahami film Edwin perhatikan hal-hal teknis yang berubah.
Saat Edwin yang biasanya minim berdialog (kecuali A Very Boring Conversation)
tiba-tiba jadi cukup cerewet dalam Trip
to the Wound, penonton boleh percaya kalau dialognya memuat pesan penting.
Perubahan suasana kembali terasa ketika kamera menyorot para karakter dari
sela-sela bangku bus, membuat penonton mengalami sensasi mengintip. Dan memang
mengintip. Besar kemungkinan adegan ini juga salah satu kunci pemaknaan Trip to the Wound. Coba kaitkan dialog
dan adegan ‘mengintip’ tadi dengan peristiwa Mei 1998 yang merupakan titik
tolak pembuatan film ini. Apakah lampu di kepala Anda juga menyala?
Bagi saya Trip to the Wound bisa jadi merupakan
cerita tentang luka yang dalam. Luka yang sekalipun akan kering, namun bekas
lukanya tetap sulit dipercakapkan. Luka ini belum tentu dipahami semua orang,
meskipun si perempuan telah mencoba menunjukkannya. Meskipun Edwin telah
mencoba menunjukkannya. Percakapan soal
bekas luka berujung pada bagaimana luka terjadi dan tak semua orang ingin
kembali ke ingatan terburuknya.***
Gambar
dipinjam dari sini
Pindahan
8 Juli 08
Reading Lights Writer’s Circle Diary pindah ke blog
baru. Kali ini siapa saja bisa ikut menulis. Siapa saja bisa ikut berkomentar.
Enjoy!
Kali Ini Pendek Saja
29 Jun. 08
Berhubung
internet di rumah mati dan saya sedang konsentrasi bikin resensi, entry diary kali ini pendek saja.
Berhubung kemarin
sore hujan turun sangat deras, peserta yang hadir pada Reading Lights Writer’s Circle in
Indonesian tak sebanyak biasanya. Kami
adalah Mirna, Erick, Myra, Wahyu, Selvi, saya, dan Nila the newcomer.
Berhubung Erick
telat dan mengejar agar pertemuan The
Circle kelar jam enam, latihan menulis tidak diadakan. Sebagai gantinya
kami membacakan karya yang ada. Saya membaca sebuah cerpen lama dan resensi
ini. Mirna membacakan esei tentang interpretasi seni rupa yang elusif dan
eksklusif. Erick membacakan resensi Alexandra yang berhalangan datang.
Pengumuman:
Berhubung
materinya adalah meresensi lukisan karya anak-anak, maka pada tanggal 12 Juli, pertemuan
The Circle akan diadakan di Jendela
Ide di Sabuga mulai dari jam 2 siang.
Sabtu Nonton
20 Juni 08
Setiap sebulan
sekali, Reading Lights Writer’s Circle in
Indonesian melakukan acara nonton bersama. Jika There Will Be Blood merupakan film yang sama-sama ditonton terakhir,
maka kali ini filmnya adalah Persepolis,
sebuah film yang diangkat dari novel grafis otobiografi berjudul sama karya
Marjane Sartrapi.
Persepolis adalah film
pilihan Erick. Selain film ini, sebetulnya putra dari aktor Robert Syarif ini
juga membawa alternatif film lain, judulnya Pom
Poko. Persepolis akhirnya jadi
pilihan Erick untuk ditonton bersama karena ia juga belum menonton film ini. Selain
Erick, adapun yang pada sore hari kemarin sama-sama belum menonton Persepolis adalah Uli, Fadil, Alexandra,
Zia, Opik, Selvi, Wahyu, saya, dan Myra—dengan kata lain ini merupakan
pengalaman pertama bagi kami semua. Sayang Dea sedang nggak ada, padahal dia
suka dengan versi komiknya.

Kopi Persepolis yang kemarin diputar didapatkan
Erick dengan mengunduh dari internet. “Nggak apa-apa,” ujarnya ketika memasang
kabel yang menghubungkan laptop
dengan in-focus, “Film ini nggak
muncul-muncul di bioskop, dan lagi bajakan yang ada subtitle-nya nggak betul,
padahal ini pakai Bahasa Perancis.”
Lampu dimatikan,
film pun diputar. Berlatarbelakangkan perubahan situasi politik di Iran, Persepolis bercerita tentang proses
pencarian jati diri Marjane Sartrapi. Persepolis sendiri merupakan nama ibukota
Iran sebelum berganti menjadi Teheran. Pergantian kekuasaan bisa jadi
menyebabkan pergantian nama tempat, contoh: Irian Jaya -> Papua, Leningard
-> St. Petersburg, dll. Persepolis
menggunakan plot yang bergerak mundur, yang membedakan antara masa kini dengan
masa lalu adalah warna. Apabila pada bagian masa lalu warnanya hitam putih, ada
warna lain di bagian masa kini. Film ini juga menggunakan narasi voice over.
Erick menyalakan
lampu pada bagian credit ends.
Seperti biasa ia menugakan kami untuk membuat tulisan, entah resensi atau
sekadar catatan tentang momen mana yang paling berkesan. Erick mengatakan
selain menyukai musiknya, dia juga memikirkan tentang berapa besar porsi
pengalaman pribadi yang dijadikan cerita komik, berapa besar porsi komik yang
dijadikan ke film, berapa besar bagian yang dikarang-karang untuk membuat film jadi
seru. Alexandra mengatakan ia harus membaca tentang Marjane Sartrapi sebelum
bisa berkomentar lebih jauh. Uli terkagum dengan jalan hidup Marjane. Saya suka
karena adaptasi ini setia dengan komiknya. Saya terkagum dengan film kartun
hitam putih. Sederhana tetapi tegas, walaupun kadang-kadang karakternya terasa
kurang menyatu dengan background.
Saya kepikiran perkataan Erick tentang porsi pengalaman pribadi yang dijadikan
ke komik dan jadi ingin berkomentar, “Katakanlah lu bikin graphic diary. Mestinya lu menggambar tentang kehidupan elu,
bukan kehidupan orang lain.” Hahaha!
Kebetulan sewaktu
menulis diary ini saya bertemu dengan
Selvi di Yahoo! Messenger. Tiba-tiba
saya terpikir membuat wawancara dadakan yang setelah diedit sedikit akan saya
jadikan penutup tulisan ini. Ngomong-ngomong, kemarin Erick bilang dua minggu
lagi, tanggal 5 Juli, programnya adalah belajar membuat resensi untuk seni rupa
jadi kumpulnya di Jendela Ide. Kepastiannya minggu depan, sih. Untuk ide film
buat acara nonton bareng bulan depan, saya mau mengajukan Me and You and Everyone We Know. Sepertinya saya harus mulai
berpromosi dari minggu depan untuk bisa menggolkan film ini.
Andika Budiman
(AB): Selvi, lagi sibuk nggak?
Selvi (S): Nggak.
Memangnya kenapa?
AB: Mau ngajak
ngobrol saja, saya lagi stuck bikin diary tentang acara nonton kemarin.
S: (Tertawa) Silakan
saja!
AB: Jadi
bagaimana pendapat kamu tentang Persepolis
bagus, nggak?
S: Bagus banget. Saya
tadi cari komiknya tapi nggak ketemu, di toko buku Gramedia nggak ada.
AB: Dalam versi
Indonesia judulnya bukan Persepolis, Sel.
Penerbitnya menggantinya jadi Revolusi Iran
Dongeng Seorang Anak. Tapi mungkin di Gramedia nggak ada juga, penerbitnya
Resist Book. Dulu saya beli di toko buku Togamas.
S: Oh pantesan.
(Tertawa) Pinjam, dong!
AB: Boleh.
Ngomong-ngomong bagian mana yang paling berkesan buat kamu?
S: Waktu Marjane,
si tokohnya, hidup sendiri tanpa keluarga setelah pergi dari Iran dan dia
sempet jadi gembel.
AB: Kalau
dipikir-pikir Marjane kan seumuran kamu waktu dia jadi gembel. Kamu jadi mau
ngegembel juga, ya?
S: (Tertawa) Iya.
Dia keren! Saya sih nggak bakal bisa kayak gitu.
AB: Jangan
pesimis begitu. Kita kan nggak pernah betul-betul tahu.
S: Iya, sih. Menurut
kamu?
AB: Saya sih
selalu berniat buat membuka diri pada setiap kesempatan yang ada.
S: Maksudnya?
AB: Jangan takut
dengan hal-hal baru. Apalagi kalau itu sesuai dengan apa yang kita yakini …
apa sih! Kalau saya berkesan banget dengan adegan waktu dia kembali lagi ke
Iran, waktu dia jadi depresi. Di Austria merasa jadi orang asing, kembali ke Iran
jadi orang asing lagi.
S: Iya yang itu.
Keren, sedih. Ending-nya terasa gimana gitu ….
AB: Kalau kamu
ada di posisi yang sama dengan Marjane: diselingkuhi pacar, dianggap orang
asing dll, apa yang kamu lakukan? Kamu bakal ngegembel juga atau bagaimana?
S: Saya bakal melakukan
hal yang sama, bakal jadi gembel!
AB: Kenapa?
S: Tapi kayaknya saya
bakal nggak kuat mental. Ngegembel kan gila (Tertawa).
AB: Yee, terus bagaimana
dong?
S: Saya mau jadi
gembel, tapi kayaknya saya nggak bakalan kuat kalau dikasih masalah yang segitu
banyak.
AB: Tapi kalo
masalahnya sudah ada?
S: Yah dijalanin
….
AB: Tergantung
kondisi, ya Sel?
S: Masalah kan
membuat kita jadi dewasa, bukan waktu.
AB: Iya, sih.
S: Kalau kamu
bagaimana?
AB: Saya
ngegembel juga. Perasaan saya pasti campur aduk kalau mengalami hal seperti
itu. Punya masalah kecil saja suka jadi stress-stress yang nggak penting.
S: Iya jadi aral!
Dan depresi mendadak.***
ProsA liRIS, je t’aime
15 Jun. 08
Banyak juga anak-anak
Reading Lights Writer’s Circle in Indonesian yang hadir pada kemarin sore. Ada
Mirna, Devi the newcomer, Uli, Anas,
Opik, Dea, Erick, Farida, Myra, Fadil, Wahyu the missing child, saya, dan Ina. Tiga belas orang! Padahal kali
ini kami membahas sesuatu yang menurut saya agak berat: prosa liris. Kebayang
dong bagaimana sesaknya smoking area
toko buku Reading Lights yang memang
bukan untuk tiga belas orang. Akhirnya kami hijrah ke lantai atas yang jauh
lebih luas. Tikar digelar, bantal dibagi, makanan dipindahkan, pertemuan pun
dilanjutkan.
Awal cerita
bagaimana prosa liris terpilih jadi tema pertemuan The Circle minggu ini terjadi pada minggu lalu. Paska Opik
membacakan tulisan yang ambigu itu, Myra berkomentar ada baiknya Opik
menggunakan metafora yang punya asosiasi khusus dengan hal yang dimetaforakan
(lihat posting minggu lalu). Sebagai
contoh, Myra menjanjikan akan membacakan sebuah prosa liris karya Dewi Lestari
yang diambil dari buku Filosofi Kopi. Kata mahasiswi Sastra Inggris Universitas
Padjadjaran angkatan 2004 itu, karya Opik mirip tulisan Dewi Lestari, agak-agak
prosa liris. Dengan demikian, ditetapkanlah prosa liris sebagai tema pertemuan
untuk minggu ini.
Diskusi tentang
prosa liris kemarin dibuka dengan Myra yang membacakan Surat Yang Tak Pernah
Sampai karya Dewi Lestari yang sarat dengan analogi. Begitu selesai, Myra
menoleh ke arah Opik. “Tulisan lu juga kayak gitu, kan?” katanya. Opik
mengiyakan. Myra lalu menjelaskan bagaimana Dewi Lestari memberikan pesan
melalui tulisan yang beranalogi seperti yang juga dilakukan Opik. Dua-duanya
sukar dipahami. Namun setelah dibaca berulang kali, pembaca akan mengerti
tulisan Dewi Lestari karena analoginya menerangi pemahaman pembaca, bukan malah
mengaburkan. Kemudian Anas membacakan contoh prosa liris yang dia ambil dari
buku … dari buku … oh sial saya lupa! Tapi kalau nggak salah judulnya ada
burung-burungnya, ya? Rupanya mendengar karya Dewi Lestari membuat Mirna, si
titisan Narcissus, bersemangat untuk membacakan karya lamanya yang juga mengambil
bentuk prosa liris. Menyadari bahwa prosanya, prosa Opik, bahkan prosa Dewi
Lestari sama-sama tentang cinta, Mirna mengutarakan pendapatnya bahwa prosa
liris umumnya ditulis saat: a) ketika seseorang jatuh cinta; dan b) ketika seseorang
putus cinta. Saya jadi curiga sebetulnya Mirna masih punya stok prosa liris
tentang jatuh cinta yang tidak dibacakannya. “Tapi pas pertama kali si Opik nulisnya
tentang telat kuliah, kok!” sahut Erick. Dea lantas menyetujui. Menurutnya
prosa liris sebetulnya bisa tentang apa saja. Sebagai contoh, Dea membacakan
prosa liris tentang bagaimana sifat-sifat plastik keresek mengingatkannya
kepada Tuhan. Berhubung tidak ada di antara kami yang betul-betul tahu definisi
dari prosa liris, maka yang bisa kami lakukan adalah meraba-raba. Caranya?
Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menulis prosa liris-mu sendiri. Mirna
menginstruksikan, tulis sesuatu sedang dirasakan, dan cobalah menggunakan
analogi-analogi dalam penyampaiannya, waktu yang diberikan lima belas menit. Di
tengah-tengah penulisan, saya tersadar bahwa tulisan saya terlalu absurd untuk dibacakan pada pertemuan
ini. Tidak kehabisan akal, saya membuka-buka catatan harian saya sebelum tidur.
Saya memilih secara acak paragraf yang kiranya menyerempet prosa liris, dan
mengeditnya agar pantas dibaca. Ketika sesi membacakan dimulai, saya sedikit
minder dengan tulisan teman lain yang memang bagus. Myra, Anas, Ina, Uli, Opik,
Fadil, dan Devi bergantian mendapat komentar positif dari Dea, Mirna, atau
Erick. Dengan kurang percaya diri saya membacakan tulisan ini,
18 Mei 2008. Kadang-kadang,
barusan, saya mempertanyakan apa kegunaan dari menulis buku harian ini. Buat
apa menulis daftar tugas? Toh buku ini hanya dibuka setiap saya hendak tidur.
Dan kebanyakan hal yang saya tulis tidak lagi bermakna pada keesokan hari. Kadang-kadang
saya berpikir bahwa saya ini palsu. Bukan. Saya berpikir orang lain berpikir
bahwa saya palsu. Kelakuan saya semuanya palsu. Apakah memang begitu? Saya
melihat diri saya sendiri dalam wujud teman saya, sebut saja X. Dan saya rasa
dia palsu. Tadi saya mengecek profil friendster-nya
dan tampak palsu. Bagaimana bisa seseorang menyatakan bahwa dirinya menyukai semua
film Keanu Reeves seakan-akan ia telah menonton semua film Keanu Reeves.
Seakan film sejelek apapun akan jadi bagus asalkan dibintangi Keanu Reeves. Saya
melihat diri saya sendiri dalam diri X. Individu yang mengisi profil friendster-nya dengan segala aspek yang
dianggapnya keren. Seakan orang akan membacanya dan merasa terkesan. Ataukah
ini hanya dalam pikiran saya saja?
Ah, kalau salah biarin saja, pikir
saya setelah membacakan. Dibantai juga nggak apa-apa, kalau ditertawakan saya
malah bakal ikut senang. Tak disangka Mirna malah memberikan komplimen, “Ini
adalah tulisanmu yang paling bagus dari tulisan-tulisan yang lain. Sangat intense! Kamu sangat efektif dalam
menggunakan pengulangan-pengulangan.” Saya pun terbengong tidak percaya. Dodol!
Yang benar saja? Bagaimana mungkin tulisan asal yang diambil dari catatan
sebelum tidur itu lebih bagus daripada tulisan yang dikonsep berminggu-minggu-siang-dan-malam?
Elu ngawur ah, Mir!
Kira-kira
begitulah jalannya pertemuan mingguan The
Circle kemarin. Maklumilah saya yang tak spesifik menuliskan setiap prosa
liris yang dibuat oleh para peserta. Bukan karena tak mau, melainkan kemarin
saya tak terpikir untuk mem-back up
ingatan lemah saya dengan membuat catatan kejadian. Jadi mungkin tulisan ini
kurang mewakili apa yang terjadi pada kemarin sore. Oh ya, saya sempat iseng
membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebelum menulis diary ini. Menurut KBBI definisi prosa
liris adalah … well teman-teman,
ternyata tidak ada definisi khusus tentang prosa liris di kamus ini. Alih-alih KBBI
mencantumkan prosa lirik, yang didefinisikan sebagai prosa berima. Jemari saya
lantas melompat mundur ke kurang lebih dua ratus halaman sebelumnya. Di sana
mata saya menemukan kata ‘liris’, sebuah kata sifat yang bermakna emosional; penuh
perasaan. Maka dapat dikatakan prosa liris merupakan prosa yang emosional,
prosa yang penuh perasaan. Yea, betapa lebarnya pintu interpretasi terbuka
untuk definisi seperti ini.***