Filed under: Me and My Pathetic Life
Saya ikut mudik
bersama keluarga begitu cukup besar untuk melakukan perjalanan panjang. Bagi kedua
orang tua saya yang perantau, papa asli Solo dan mama asli Magelang, mudik
hukumnya wajib. Tali silaturrahmi harus tetap tersambung, tegas mereka. Maka setiap
lebaran orang tua saya mengambil cuti dan memboyong dua anaknya menemui
keluarga besar di kampung halaman.
Agar terhindar
dari kemacetan arus lalu lintas, biasanya keluarga kami berangkat dari rumah di
Bandung sebelum H-7. Selain itu kami sering melakukan perjalanan malam.
Perjalanan malam memudahkan saya lekas tidur dan baru bangun ketika sudah
sampai di rumah orang tua papa di Semarang. Kami selalu menginap beberapa hari di
Semarang sebelum hari lebaran pertama. Pada malam takbir baru kami pindah ke
rumah orang tua mama di Magelang. Pengaturan ini disebabkan keluarga papa
sebagian besar nasrani. Mereka maklum bila keluarga kami merayakan lebaran di
rumah orang tua mama yang berlatar belakang muslim.
Ketika masih kecil,
mudik adalah salah satu kegiatan tahunan yang selalu saya nantikan. Saya, yang
waktu itu belum kenal puasa, tarawih, dan putus asa karena macet, selalu tak
sabar untuk bermain bersama sepupu-sepupu yang jarang saya temui. Ke Semarang berarti
main-kartu-yang-kalah-dicolek-bedak, petak umpet tengah malam di pabrik
timbangan milik eyang, dan memanggil tukang bakso yang mangkal di ujung jalan. Ke
Magelang berarti memanjat pohon kersen, tiduran di dangau tengah sawah,
jauh-jauhan melempar sendal di pekarangan, juga berlebaran dengan anak-anak
panti asuhan milik orang tua mama. Di mana-mana disangoni, seru!
Waktu tak pernah menunggu.
Semakin besar saya jadi semakin terikat dengan kesibukan di kota tempat saya menetap.
Bermain dengan sepupu di kampung halaman bukan lagi hal yang sangat saya
tunggu. Begitu juga dengan yang lain. Ada banyak hal yang terjadi dalam
keluarga besar kami, di Semarang: serangan stroke eyang kakung dan eyang putri,
kematian eyang kakung, kematian eyang putri, air pasang laut yang kerap
membanjiri rumah, dan peninggian rumah yang banyak menghilangkan kenangan masa
kecil. Di Magelang: sepupu yang tak lagi datang saat lebaran, kesumpekan rumah
Magelang, kematian kakek, pohon kersen yang dipotong pendek nenek karena
dianggap berbahaya, dan krisis ekonomi. Internal keluarga kami: kematian papa
dan kakak yang kini enggan mudik.
Perubahan membawa
banyak perbedaan pada keadaan keluarga kami. Memang tak sedrastis perbedaan
nilai seratus ribu rupiah sebelum dan sesudah tahun sembilan tujuh yang membuat
saya berharap dulu uang sangu dibayar
dengan dollar. Namun perbedaan tetap menuntut adaptasi dari kami, sebagai
anggota keluarga. Dan kami pun beradaptasi dengan cara kami masing-masing.
Acara menginap di Semarang hilang digantikan acara berkunjung. Ini berarti saya
bertemu dengan para sepupu hanya dalam hitungan jam. Nenek di Magelang
mengabaikan kesulitan anak-anaknya yang sebagian besar tinggal di bagian barat
pulau Jawa. Beliau bersikeras melanjutkan tradisi berlebaran di Magelang. Naluri
berbakti membuat mama mengabaikan saya dan kakak yang malas bila harus ikut
bermacet-macet dalam perjalanan mudik. Tanpa perlawanan, mama setuju dengan
tekad nenek melanjutkan tradisi mudik ke Magelang.
Ketika Semarang
hanya dinikmati dalam hitungan jam, perjalanan mudik di benak saya hanya
tentang nenek di Magelang. Tekad mulia nenek tak diikuti dengan pengembangan
yang membuat anak cucunya tetap ketagihan datang ke kampung halaman. Bertambahnya
usia membuat nenek enggan berubah. Rumah nenek sangat minim teknologi. Contoh
konkret, di sana tak ada kulkas ataupun kompor gas. Nenek masak pakai kayu,
mungkin kedengaran romantis, tapi jadi depressing
begitu asapnya masuk ke dalam rumah. Hal ini secara nggak langsung membuat
masakan nenek jadi tak higienis. Semut di sop merupakan hal yang lazim. Cicak
dan kecoa sering dijumpai di meja makan. Dodolnya hal itu tak mengurangi gairah
nenek untuk memasak. Alhasil setiap lebaran paling sedikit dua tante bekerja di
dapur siang malam mengawasi mutu makanan yang dimasak nenek.
Rumah nenek juga
sangat kekurangan di departemen hiburan. Di sana tak ada satu pun permainan
anak besar. Tidak ada monopoli, ular tangga, ludo, halma, kartu (nenek percaya semua
permainan kartu adalah judi), play
station, apalagi jaringan internet dua empat tujuh. Otomatis cucu nenek
yang sudah besar cenderung memojok di sudut masing-masing. Mereka sibuk dengan
ponsel, play station portable, atau
mainan lain yang mereka bawa sendiri-sendiri. Merasa bosan, kebanyakan dari
mereka tak kembali lagi saat lebaran. Ini sudah tidak seru lagi, tetapi pusing!
Mudik. Saya rindu
bertemu sepupu, menyapa, mengobrol, dan bersenda gurau. Saya tak rindu
kemacetan, masakan nenek, dan kebosanan yang biasa menemani saya di kampung
halaman.
Sampai saat ini
mama masih meminta agar saya dan kakak saya ikut mudik ke Magelang. Saya pun bertanya,
buat apa mudik, Ma? Untuk menyenangkan nenek, jawab mama. Buat apa menyenangkan
hati orang yang tak peka dengan keadaan kita? Tanya saya lagi. Hus! Seru mama. Begitu-begitu
dia ibu mama.
Tahun ini saya
belum tahu akan mudik atau tidak. Rasanya tidak nyaman. Kalau dipaksa takutnya
membuat kenangan indah mudik jadi semakin kabur. Kalau ditinggal berpotensi
membuat keluarga di Semarang dan nenek menjadi sedih. Nenek pasti sedih karena
berpikir keluarganya sudah malas bersilaturrahmi. Ya nenek, pikir saya kecewa.
Kalau saja nenek
murah hati menyisihkan uang untuk memasang internet di rumah. Kalau saja nenek
mau membuka diri pada Friendster
maupun My Space. Nenek kan jadi
mengerti bahwa jalur silaturrahmi sekarang tak cuma lewat mudik saja.