futualblog


Kenangan Mudik yang Nyaris Terlupakan
September 27, 2007, 6:20 am
Filed under: Me and My Pathetic Life

Saya ikut mudik
bersama keluarga begitu cukup besar untuk melakukan perjalanan panjang. Bagi kedua
orang tua saya yang perantau, papa asli Solo dan mama asli Magelang, mudik
hukumnya wajib. Tali silaturrahmi harus tetap tersambung, tegas mereka. Maka setiap
lebaran orang tua saya mengambil cuti dan memboyong dua anaknya menemui
keluarga besar di kampung halaman.

 

Agar terhindar
dari kemacetan arus lalu lintas, biasanya keluarga kami berangkat dari rumah di
Bandung sebelum H-7. Selain itu kami sering melakukan perjalanan malam.
Perjalanan malam memudahkan saya lekas tidur dan baru bangun ketika sudah
sampai di rumah orang tua papa di Semarang. Kami selalu menginap beberapa hari di
Semarang sebelum hari lebaran pertama. Pada malam takbir baru kami pindah ke
rumah orang tua mama di Magelang. Pengaturan ini disebabkan keluarga papa
sebagian besar nasrani. Mereka maklum bila keluarga kami merayakan lebaran di
rumah orang tua mama yang berlatar belakang muslim.

 

Ketika masih kecil,
mudik adalah salah satu kegiatan tahunan yang selalu saya nantikan. Saya, yang
waktu itu belum kenal puasa, tarawih, dan putus asa karena macet, selalu tak
sabar untuk bermain bersama sepupu-sepupu yang jarang saya temui. Ke Semarang berarti
main-kartu-yang-kalah-dicolek-bedak, petak umpet tengah malam di pabrik
timbangan milik eyang, dan memanggil tukang bakso yang mangkal di ujung jalan. Ke
Magelang berarti memanjat pohon kersen, tiduran di dangau tengah sawah,
jauh-jauhan melempar sendal di pekarangan, juga berlebaran dengan anak-anak
panti asuhan milik orang tua mama. Di mana-mana disangoni, seru!

 

Waktu tak pernah menunggu.
Semakin besar saya jadi semakin terikat dengan kesibukan di kota tempat saya menetap.
Bermain dengan sepupu di kampung halaman bukan lagi hal yang sangat saya
tunggu. Begitu juga dengan yang lain. Ada banyak hal yang terjadi dalam
keluarga besar kami, di Semarang: serangan stroke eyang kakung dan eyang putri,
kematian eyang kakung, kematian eyang putri, air pasang laut yang kerap
membanjiri rumah, dan peninggian rumah yang banyak menghilangkan kenangan masa
kecil. Di Magelang: sepupu yang tak lagi datang saat lebaran, kesumpekan rumah
Magelang, kematian kakek, pohon kersen yang dipotong pendek nenek karena
dianggap berbahaya, dan krisis ekonomi. Internal keluarga kami: kematian papa
dan kakak yang kini enggan mudik.

 

Perubahan membawa
banyak perbedaan pada keadaan keluarga kami. Memang tak sedrastis perbedaan
nilai seratus ribu rupiah sebelum dan sesudah tahun sembilan tujuh yang membuat
saya berharap dulu uang sangu dibayar
dengan dollar. Namun perbedaan tetap menuntut adaptasi dari kami, sebagai
anggota keluarga. Dan kami pun beradaptasi dengan cara kami masing-masing.
Acara menginap di Semarang hilang digantikan acara berkunjung. Ini berarti saya
bertemu dengan para sepupu hanya dalam hitungan jam. Nenek di Magelang
mengabaikan kesulitan anak-anaknya yang sebagian besar tinggal di bagian barat
pulau Jawa. Beliau bersikeras melanjutkan tradisi berlebaran di Magelang. Naluri
berbakti membuat mama mengabaikan saya dan kakak yang malas bila harus ikut
bermacet-macet dalam perjalanan mudik. Tanpa perlawanan, mama setuju dengan
tekad nenek melanjutkan tradisi mudik ke Magelang.

 

Ketika Semarang
hanya dinikmati dalam hitungan jam, perjalanan mudik di benak saya hanya
tentang nenek di Magelang. Tekad mulia nenek tak diikuti dengan pengembangan
yang membuat anak cucunya tetap ketagihan datang ke kampung halaman. Bertambahnya
usia membuat nenek enggan berubah. Rumah nenek sangat minim teknologi. Contoh
konkret, di sana tak ada kulkas ataupun kompor gas. Nenek masak pakai kayu,
mungkin kedengaran romantis, tapi jadi depressing
begitu asapnya masuk ke dalam rumah. Hal ini secara nggak langsung membuat
masakan nenek jadi tak higienis. Semut di sop merupakan hal yang lazim. Cicak
dan kecoa sering dijumpai di meja makan. Dodolnya hal itu tak mengurangi gairah
nenek untuk memasak. Alhasil setiap lebaran paling sedikit dua tante bekerja di
dapur siang malam mengawasi mutu makanan yang dimasak nenek.

 

Rumah nenek juga
sangat kekurangan di departemen hiburan. Di sana tak ada satu pun permainan
anak besar. Tidak ada monopoli, ular tangga, ludo, halma, kartu (nenek percaya semua
permainan kartu adalah judi), play
station
, apalagi jaringan internet dua empat tujuh. Otomatis cucu nenek
yang sudah besar cenderung memojok di sudut masing-masing. Mereka sibuk dengan
ponsel, play station portable, atau
mainan lain yang mereka bawa sendiri-sendiri. Merasa bosan, kebanyakan dari
mereka tak kembali lagi saat lebaran. Ini sudah tidak seru lagi, tetapi pusing!

 

Mudik. Saya rindu
bertemu sepupu, menyapa, mengobrol, dan bersenda gurau. Saya tak rindu
kemacetan, masakan nenek, dan kebosanan yang biasa menemani saya di kampung
halaman.

 

Sampai saat ini
mama masih meminta agar saya dan kakak saya ikut mudik ke Magelang. Saya pun bertanya,
buat apa mudik, Ma? Untuk menyenangkan nenek, jawab mama. Buat apa menyenangkan
hati orang yang tak peka dengan keadaan kita? Tanya saya lagi. Hus! Seru mama. Begitu-begitu
dia ibu mama.

 

Tahun ini saya
belum tahu akan mudik atau tidak. Rasanya tidak nyaman. Kalau dipaksa takutnya
membuat kenangan indah mudik jadi semakin kabur. Kalau ditinggal berpotensi
membuat keluarga di Semarang dan nenek menjadi sedih. Nenek pasti sedih karena
berpikir keluarganya sudah malas bersilaturrahmi. Ya nenek, pikir saya kecewa.

 

Kalau saja nenek
murah hati menyisihkan uang untuk memasang internet di rumah. Kalau saja nenek
mau membuka diri pada Friendster
maupun My Space. Nenek kan jadi
mengerti bahwa jalur silaturrahmi sekarang tak cuma lewat mudik saja.



Apel Jeruk dan Penggemar Jeruk
September 25, 2007, 6:42 am
Filed under: Fiksi

LEBARAN

“Minal Aidin, Danang.”
“Sama-sama, Bude.”
“Sekarang kamu kelas berapa?”
“Kelas tiga, Bude.”
“Oh ya! Kamu kan sebaya sama anak bude, si Joko! Joko mau
melanjutkan ke perminyakan ITB, katanya gampang kerja, doakan dia lulus ya? Memang
masuknya sulit, tapi dia tahu bakatnya memang di situ, doakan dia ya?”
“Iya Bude.”
“Kamu mau melanjutkan ke mana?”
“Ke Marnat, Bude. Kemarin saya lulus USM nya di jurusan kedokteran.”
“Nggak ikut SPMB?”
“Nggak Bude. Hahaha, saya sadar kemampuan, hahahaha.”
“Begitu? Jadi maksud kamu Joko nggak sadar kemampuan?”
“Wah! Ya nggak begitu bude! Saya…”

 

KETIKA KAKEK MENINGGAL

“Pakde, saya ikut berduka cita.”
“Wajarlah ‘Nang, beliau kan kakekmu juga.”
“Kata Mama, Pakde paling dekat sama kakek. Ya sudahlah.”
“Iya sudah. Ngomong-ngomong bagaimana kedokteran Marnat?”
“Nggak gimana-gimana, Pakde.”
“Senang di kampus?”
“Ya, Pakde.”
“Banyak teman?”
“Ada, Pakde.”
“Kalau si Joko temannya banyak, setiap hari di rumah ada saja temannya yang
datang, Joko itu anaknya aktif di kampus.”
“Iya, Pakde.”
“Kamu ikut kegiatan apa di kampus?”
“Ngg, nggak ikut apa-apa, Pakde, hahaha.”
“Nggak ikut apa-apa?”
“Ya, paling di semester depan kalau belajarnya sudah mantap saya mau coba jadi
reporter jurnal jurusan.”
“Biasanya kalau ditunda-tunda orang jadi malas.”
“Hahaha, saya kagum sama Joko, kampus di ITB, kuliah di jurusan favorit, sempat
juga ikut kegiatan kampus, hebat.”
“Kamu nyindir ya? Danang, kampus Joko bukan di ITB, dia sekarang kuliah di
polman!”
“Ah! Maaf, Pakde, saya kira …, ah sudahlah …”

 

DI GEDEBAGE

“Bude!”
“…”
“Bude Sum!”
“Danang?”
“Ternyata memang betul Bude Sum, saya kira salah orang, habis dipanggil nggak
noleh-noleh sih!”
“…”
“Bude sedang apa di sini?”
“Biasalah, belanja baju. Kamu?”
“Habis belanja baju juga, baru mau pulang, eh lihat Bude.”
“Begitu? Kamu belum punya pacar, ya? Belanja baju kok sendirian.”
“Belum, Bude.”
“Hah belum!? Si Joko sudah, pacarnya orang sunda, hitam manis, berjilbab,
anaknya sopan pisan, kuliahnya di psikologi Unpad! Bude jadi tenang, eh
sekarang kamu sudah tingkat tiga, ya?”
“Iya Bude.”
“Di sana ada teman yang islam nggak?”
“Ada, Bude.”
“Ada dosen yang islam?”
“Ada, Bude.”
“Banyak yang keturunan Cina?”
“Tergantung jurusannya, Bude.”
“Kalau mereka agamanya apa ya?”
“Wah kurang tahu, Bude.”
“Bukan islam ya?”
“Mungkin, Bude.”
“Hati-hati kamu! Jangan terlalu pilih-pilih nanti dapetnya malah yang nggak
seiman, beda latar belakang. Ke depannya susah! Jangan harap dapat restu dari
…”

TELEPON

“Assalamualaikum.”
“Iya halo? Di sini rumah Pak Mardi.”
“Danang? Assalamualaikum.”
“Oh Pakde, ya? Mau bicara sama papa, ya? Papa lagi istirahat, nanti saya
pesenin, biar papa yang telepon balik.”
“Ya sudah. Danang baru wisuda, ya?”
“Nggak baru juga sih, Pakde. Saya diwisuda awal tahun ini.”
“Apa?”
“Nggak baru …ah, bukan apa-apa kok Pakde.”
“Si Joko semester depan lulusnya, kamu sekarang sibuk kerja apa?”
“Nggak ngapa-ngapain, Pakde. Paling sekarang saya ambil kursus bahasa Jerman,
rencananya Desember ke Jerman, ngelanjutin kuliah.”
“Kamu sekarang ada usaha sampingan nggak?”
“Nggak ada, Pakde.”
“Kalau Si Joko lagi bisnis studio musik, pemasukannya lumayan, dan …”

SUAMI ISTRI PENGGEMAR JERUK
“Bagaimana si Mardi, Mas?”
“Kata Danang lagi istirahat.”
“Maghrib-maghrib begini? Katanya Danang sudah lulus, ya?”
“Iya, tapi sekarang dia masih nganggur katanya mau ngelanjutin di Jerman.”
“Nggak heranlah, kuliahnya cuma di kampus kelas dua begitu mana kredibel. Jatuhnya
harus kuliah di luar negeri lagi, biaya lagi.”
“Kalau kulihat dia itu belum bisa kerja, kurang mandiri. Bergaulnya saja
susah.”
“Juga kurang cekatan, ngomongnya saja dia pintar, kalau lawan bicaranya nggak
lebih pintar mungkin sindiran dia itu nggak terasa!”
“Nggak heranlah. Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Danang juga bisa dibilang
kurang religius, tadi aku ‘Assalamualaikum’ sampai dua kali nggak dibalas, tapi
kita nggak bisa menyalahkan dia juga, ini salah komunitasnya.”
“Iya,
ya. Alhamdulillah Joko nggak begitu ya, Mas.”

***