futualblog


The Office
November 28, 2007, 9:07 am
Filed under: Television

346206070_2afb36411f


Apa?
Serial televisi Amerika Serikat yang diadaptasi dari
serial produksi BBC Inggris yang berjudul sama. The Office pertama kali diputar
di NBC sebagai serial baru di tengah musim. Pada awal kemunculannya serial ini
disebut-sebut gagal menyamai kelucuan yang dicapai The Office buatan Inggris.
Namun seiring dengan bergulirnya musim kedua, The Office Amerika ini mulai
menemukan karakternya dan mendapatkan rating yang cukup kuat. Eh
ngomong-ngomong meskipun bergenre komedi, The Office ini bukan sitkom. Bisa
dibilang serial ini adalah mockumentary. Selain pengadeganan standar, ada saat
di mana tokoh-tokohnya berbicara straight to the camera (kurang lebih seperti John
Cusack di High Fidelity). Castnya antara lain: Steve Carell,
Rainn Wilson,
John
Krasinski
, Jenna Fischer, B.J. Novak.

 

Bagaimana? The Office bercerita tentang keseharian di sebuah kantor
cabang perusahaan kertas Dunder Mifflin di Scranton, Pennsylvania. Membosankan?
Tunggu dulu sampai bertemu dengan karyawan-karyawannya! Mulai dari Michael si
bos eksentrik, sampai dengan Ryan, pegawai magang yang hampir membakar kantor.

 

Siapa? Berhubung kelucuan The Office terkait erat dengan
karakterisasi tokoh-tokohnya. Kali ini saya mencoba mendeskripsikan sebagian
karakter-karakter dalam The Office.

 

-Michael Scott: Regional Manager Dunder Mifflin, Scranton ini termasuk
orang yang mempunyai gambaran yang salah tentang dirinya sendiri. Hm, mungkin
semua orang begitu, tapi Michael ini termasuk sangat parah. Michael menganggap
dirinya adalah bos yang baik, lucu, dan pengertian. Namun pada prakteknya, para
karyawan menganggap Michael adalah bos yang merepotkan, cenderung meremehkan
karyawan: perempuan, ras minoritas, penderita obesitas, sampai homoseksual,
dengan ide yang selalu salah sasaran. Hm, bisa dibilang serial ini cocok untuk
penikmat humor sinis berselera sadis, tapi lama-lama humornya jadi nggak
terlalu sadis, kok.

-Dwight Schrute: Pria berkacamata ini sebetulnya adalah sales terbaik yang
dimiliki perusahaan. Namun lagi-lagi tokoh ini eksentrik. Dwight itu tipikal
karyawan yang haus kekuasaan tapi agak bodoh. Semacam wet blanket bagi karyawan
yang lain. Dwight besar di sebuah tanah pertanian Amish. Ketika dewasa, Dwight
jadi percaya Star Trek, Lord of the Ring, Battlestar Galactica, Harry Potter,
pokoknya segala hal yang berhubungan dengan fantasi. Di akhir pekan Dwight
biasa menjadi sukarelawan di kantor Sherif.

-Jim Halpert: Berbeda dengan Michael dan Dwight, Jim ini termasuk normal.
Dia pintar dan gampang disukai. Masalahnya Jim bekerja di Scranton, tempat di
mana dia nggak bisa menggali potensinya lebih jauh. Untuk menjaga kewarasannya,
Jim menjalin hubungan romantis kering dengan Pam, yang sebenarnya sudah bertunangan.
Bersama Pam inilah Jim melakukan kejailan-kejailan kecil kepada Dwight.

-Pam Beesly: Sebetulnya Pam ini ingin menjadi ilustrator buku anak-anak,
tapi dengan alasan keamanan akhirnya dia bekerja sebagai resepsionis. Pam
bertunangan dengan Roy, pegawai gudang, juga dengan alasan keamanan. Di mana
sebetulnya ia takut untuk sendirian. Gampang ditebak, demi menjaga kewarasan
akhirnya Pam bersahabat baik dengan Jim. Sepanjang musim pertama dan kedua,
roman kering antara Pam dan Jim termasuk ke cerita sentral.

Selain Michael, Dwight, Jim, dan Pam sebetulnya masih ada banyak karakter
yang nggak kalah menarik untuk diceritakan. Cuma malas ngetik saja.

346206118_82f06149cb

THE OFFICE — Pictured: (l-r) Standing: Phyllis Smith as Phyllis Lapin,
Paul Lieberstein as Toby, Oscar Nuñez as Oscar Martinez, Jenna Fischer as Pam
Beesly, Angela Kinsey as Angela, B.J. Novak as Ryan Howard, Creed Bratton as
Creed, Steve Carell as Michael Scott, Brian Baumgartner as Kevin, Kate Flannery
as Meredith Palmer, Melora Hardin as Jan Levinson, Leslie David Baker as
Stanley, David Denman as Roy; Seated: John Krasinski as Jim Halpert, Mindy Kaling
as Kelly, Rainn Wilson as Dwight Schrute — NBC Photo: Mitchell Haaseth

Mm, DVD
bajakan The Office sudah beredar sampai musim ketiga. Musim pertama dan kedua
gambarnya dan subtitle bagus. Musim ketiga gambarnya dari TV tapi tertolong
dengan subtitlenya yang lumayan. Dari segi cerita sih favorit saya musim kedua.



2 Days in Paris
November 23, 2007, 5:19 pm
Filed under: Film

2_days_in_paris_1


Apa? Film bergenre komedi romantis yang ditulis, disutradarai,
dibintangi, bahkan di-scoring-i oleh Julie Delpy (Before Sunrise, Before
Sunset). Selain Delpy, film yang dirilis tahun 2007 ini juga dibintangi Adam
Goldman (mantan Delpy dalam kehidupan sebenarnya) dan kedua orang tua kandung
Delpy.

 

Bagaimana? Jack, seorang Yahudi-born-Amerika, tengah berlibur di
Eropa bersama dengan pacar-dua-tahunnya, Marion, si fotografer asli Perancis. Setelah
Venice, pasangan itu singgah dua hari di Paris, hometown Marion. Di sana mereka
tinggal di apartemen satu kamar di atas kediaman orang tua Marion. Dari sini
dimulailah momen lost in translation Jack, di mana ia berhadapan dengan orang
tua Marion yang tak berbahasa Inggris, perdebatan Marion-sopir taksi yang tidak
ia mengerti, sampai ‘teman-teman pria’ Marion yang membuat Jack sangat cemburu.

 

Mengapa? Heuhh, saya selalu punya soft spots buat komedi-komedi
romantis. Mulai dari yang bersetting jadul (Sense and Sensibility, A Knight’s
Tale, Pride and Prejudice) sampai yang bersetting masa kini (Must Love Dogs,
Love Actually, Moonstruck). Maka saya langsung tertarik ketika mendengar Julie
Delpy membuat film tentang perjalanan dua hari pasangan Amerika-Perancis di
Paris. Saya bertanya-tanya, wah, apa ini semacam pengulangan Before Sunset?
Before Sunset adalah film full dialog buatan sutradara favorit saya Richard
Linklater (Before Sunrise, School of Rock) yang dibintangi Ethan Hawke juga
Julie Delpy sendiri. Apakah Delpy bisa mengulang atau bahkan melampaui sukses
Before Sunset? Dan pertanyaan-pertanyaan itu pun terjawab ketika akhirnya saya
menonton 2 Days in Paris: film ini sangat segar dan layak tonton!

Meskipun settingnya sama, film ini berbeda dengan Before Sunset. 2 Days in
Paris bertutur dengan caranya sendiri. Temanya matang, komedinya nggak slapstick,
dan romantisnya nggak picisan. Kebetulan di DVD bajakan yang saya tonton
subtitlenya buruk, tapi justru membuat saya makin paham bagaimana si Jack
merasa terkucilkan di tengah orang-orang berbahasa Perancis. Menurut saya yang juga
bikin film ini tambah oke adalah narasi voice overnya. Manis dan personal.
Kalau sedang ingin feel good daripada baca buku self helping mending nonton
film ini saja.



The Boy in the Striped Pyjamas
November 18, 2007, 3:24 pm
Filed under: Books

Stripedpyjamas





















Apa? Buku
karangan John Boyne produksi tahun 2006 yang edisi berbahasa Indonesianya telah
diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

 

Bagaimana? Bercerita
tentang kehidupan seorang anak laki-laki bernama Bruno.

 

Hah? Pokoknya
buku ini highly recommended. Titik. Bukan apa-apa, tapi sebaiknya pas baca buku
ini kita nggak tahu tentang apa yang ditulis. John Boyne, sang pengarang,
sangat marah ketika harian terkemuka The Guardian
dalam reviewnya mencantumkan ending buku ini. Yang bisa diceritakan paling
proses kreatif pengarangnya, di mana konon Boyne menulis draft pertama buku ini
hanya dalam dua hari saja(!). Selama dua hari itu Boyne nggak tidur, ia
langsung menulis inspirasi yang ada di kepalanya. Hm, kabarnya buku ini sedang
dibuat filmnya. Mudah-mudahan bisa sebagus bukunya.



Krisis
November 15, 2007, 1:33 pm
Filed under: Me and My Pathetic Life

Belakangan ini saya merasakan ada yang salah dengan diri saya. Ada banyak
tanda yang mengindikasikan bahwa saat ini saya sedang bermasalah.

 

Indikator 1

Sebagai orang yang gemar membaca, saya otomatis gemar belanja buku. Biasanya
buku yang saya beli, akan cepat saya baca. Apabila saya terlihat lagi di toko
buku, artinya saya sudah selesai membaca semua buku yang dibeli sebelumnya. Namun
saat ini saya mendapati setumpuk buku yang sudah lama dibeli tapi belum juga
selesai dibaca, bahkan ada yang belum disentuh sama sekali:

1) Vernon God Little
karya DBC Pierre. Pas pertama kali baca, saya agak terganggu dengan terjemahan
buku ini yang agak kurang lazim. Mabok setelah baca beberapa halaman, buku ini
pun saya tinggalkan. Eeh, tahu-tahunya beberapa bulan kemudian buku ini
direview oleh kolom Pustakaloka di harian Kompas. Alhasil saya, yang
‘mainstream’ ini, jadi merasa ada kewajiban untuk membaca buku ini sampai
tuntas. Namun kenyataannya buku itu belum saya keluarkan lagi dari lemari.

2) Orang-Orang Proyek
karya Ahmad Tohari. Buku ini sedang kubaca, tapi entah kapan selesainya karena
saya bahkan sekarang jarang membaca buku.

3) Abarat II karya
Clive Barker. Buku ini belum dibaca karena dibeli secara patungan bersama kakak.
Excuse macam apa itu?! Tetap saja buku ini jadi prioritas terakhir untuk bacaan
saya.

4) The Heart is a
Lonely Hunter karya Carson McCullers. Sebetulnya saya nggak sabar untuk baca
buku ini, tapi saya nggak enak bacanya kalau belum menyelesaikan Orang-Orang
Proyek nya Ahmad Tohari.

5) Wilt karya Tom
Sharpe. Selain overpriced (dasar gagas!), ternyata terjemahan buku ini juga
kurang menarik.

6) The Firework-Maker’s
Daughter karya Philip Pullman. Ini baru sekali dibuka sejak dibeli minggu lalu.

7) In Cold Blood karya
Truman Capote. Buku ini malah belum dibaca sama sekali.

8)  A Word Child karya
Iris Murdoch. Buku ini didapat karena memenangkan lomba scrabble secara
kontroversial. Berhubung pakai bahasa Inggris, usaha saya membaca buku ini
mentok pada halaman pertama.

 

Mengapa ini semua dianggap indikator krisis dalam diri saya? Karena saya
nggak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti! Secara kalap saya konstan
mengeluarkan uang tanpa melalui pertimbangan cerdas yang biasa dilakukan. Tadi
siang di kampus saya beli bukunya Ong Hok Ham yang dijual pada acara November
Festival. Tidak hanya itu, saya juga berniat untuk beli/baca Jukstaposisi:
Cerita tuhan Mati karya Calvin Michel Sidjaja, buku karangan kakak kelas (HI
Unpar 2004!) yang jadi Juara III Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian
Jakarta. Selain itu saya juga merasa perlu untuk membaca Dan Hujan pun Berhenti
karya Farida Susanty, sesama anak Klab Nulis yang novelnya ini masuk sepuluh besar
Khatulistiwa Award 2007 kategori Penulis Muda Berbakat, di mana saya betul-betul
appreciate dengan apa yang sudah dia lakukan. Hah! Bukannya masih ada banyak
buku yang bisa dibaca?

 

Indikator-Indikator
yang Lain

Selain belanja buku yang nggak berhenti, saya sekarang punya kebiasaan lain
yang nggak bisa berhenti pula:

1) Duduk di depan
televisi tanpa henti. Entah untuk nonton acara televisi ataupun nonton DVD. Dua
minggu terakhir ini kurang lebih saya sudah nonton kurang lebih sepuluh film
(baik yang diputar di TV maupun di DVD). Sebut saja: Zodiac, Year of the Dog,
All About My Mother, Breaking and Entering, Moonstruck, dll. Maraton season
lima Seinfeld. Jelas ini nggak sehat.  Kalau biasanya di depan TV itu dua-tiga jam, sekarang bisa sampai lima jam lebih.

2) Saya nggak terlalu
menggemari internet, tapi entah kenapa sekarang setiap ada jeda iklan di
televisi bawaannya online teruus. Entah cek e-mail, cek kemudian.com,
blogwalking, dll. Kalau cuma sebentar sih nggak apa-apa, tapi pada kasus saya
saat ini sudah sampai pada taraf yang mengganggu.

3) Bergesernya jam
kuliah pada hari Senin ternyata berpengaruh juga. Saya sekarang jadi nggak bisa
ikutan Klab Nulis Senin yang notabene lebih penting karena ada sesi menulisnya.
Dodolnya, waktu luang akibat hilangnya Klab Nulis Senin dari jadwal mingguan
tanpa pikir panjang saya isi dengan mengikuti Klab Filsafat, yang ternyata
membuat saya tambah tertekan. Memang materi yang didiskusikan sangat menarik,
memang para klabber-nya juga menarik. Masalahnya pendapat/pertanyaan yang
muncul dalam diskusinya membuat saya tergugah, membuat saya mempertanyakan diri
sendiri, membuat saya berharap lebih banyak pada diri sendiri. Dan lagi,
mungkin kedengarannya dangkal, saya jauh lebih muda daripada klabber lainnya. Apa
yang sedang saya perhatikan rasanya tidak sesignifikan pengalaman hidup klabber
lainnya, saya merasa masih ingusan. Ya sudah berhenti datang saja! Nggak bisa
begitu, saya masih bisa mengikuti, kok. Dulu pas pertemuan-pertemuan awal Klab
Nulis, saya juga sering males kok. Butuh waktu lagi untuk bisa beradaptasi.

4) Temperamen yang
buruk.

 

Saya jadi teringat dengan komik Slam Dunk. Ada saat di mana Pak Anzai,
pelatih Shohoku, menasihati Sakuragi dengan kalimat yang mengesankan saya. Bunyinya
kira-kira begini: proses belajar untuk jadi lebih baik dimulai dari kesadaran
dan pengakuan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan

 

Analisis dan Solusi

Saya menduga indikator-indikator ini muncul akibat ketidakmampuan saya
menyelesaikan masalah yang ada di hadapan saya. Buku, televisi, internet, klab,
semuanya saya jadikan pelarian. Masalahnya malah nggak disentuh sama sekali. Saat
ini misalnya, bukannya mengerjakan power point untuk presentasi tugas BIHI yang
akan dipresentasikan besok (Huaaaa!), saya malah sibuk membuat tulisan untuk
diposting di blog. Meskipun ini dilakukan bukan tanpa alasan (di mana blog ini
ditulis duluan sebagai refleksi agar saya semangat buat power point), tapi ini
nggak bisa terus-terusan. Waktu terus berjalan, skala prioritas harus terus
dibuat.

 

Jadi bagaimana dengam buku dan yang lainnya?

1) Untuk buku. Sebelum
beli buku baru lagi saya berkomitmen untuk menyelesaikan membaca paling tidak
setengah dari buku yang belum dibaca. Saya berjanji pada diri sendiri.

2) Untuk televisi.
Rencananya dalam sehari saya hanya akan menonton maksimal tiga acara televisi
reguler dan satu film saja. Dengan begitu saya punya waktu untuk mengerjakan
hal-hal lainnya. Menulis fiksi misalnya. Mungkin ini saatnya untuk mulai
melepas ketergantungan pada latihan menulis Klab Nulis. Di mana hal-hal seperti
setting, plot, penokohan, dialog, harus rajin-rajin saya latih sendiri.

3) Untuk Internet. Akan
saya batasi sehari dua kali saja: pagi dan malam. Masing-masing antara setengah
jam sampai satu jam saja.

4) Untuk dilema Klab
Filsafat. Saya harus bisa menarik garis batas, di mana ada hal-hal di mana saya
harus bisa kritis sesuai dengan apa yang saya yakini. Jadi intinya ada pegangan
sehingga saya nggak merasa ada tekanan.

5) Untuk temperamen
yang buruk. Sabar. Gampang dikatakan susah dilakukan. Tarik napas dalam-dalam. Perlakukan
orang lain bukan sebagai obyek, melainkan subyek yang juga punya perasaan.

 

Rasanya cukup.



Zodiac
November 11, 2007, 6:11 pm
Filed under: Film

408pxzodiac32432

























Apa? Film suspense produksi tahun 2007 ini disutradarai oleh David Fincher
(sutradara Se7en, The Fight Club, dll). Aktor-aktrisnya keren-keren antara lain
Jake Gyllenhaal, Mark Ruffalo (aktor kesukaanku), Robert Downey Jr., Chloe
Sevigny dll.

 

Bagaimana? Berdasarkan kisah nyata, kota San Francisco pada dekade
70an dirudungi sebuah momok. Momok itu berupa pembunuhan beruntun yang
dilakukan oleh seorang yang menamakan dirinya sebagai ‘Zodiac’. Meskipun sering
membunuh, hebatnya kedok si Zodiac ini tidak pernah berhasil diungkap oleh
polisi. Padahal setelah membunuh Zodiac selalu menghubungi polisi dan mengontak
surat kabar terkemuka. Robert Graysmith, seorang komikus lurus [tidak merokok,
minum, atau mengumpat (not that there is something wrong with them)] yang
bekerja di surat kabar penasaran untuk mengungkap kedok Zodiac. Sebagian besar
film ini menceritakan usaha polisi, reporter kriminal surat kabar, dan Robert
Graysmith yang diperankan Jake Gyllenhaal dalam memecahkan misteri indentitas
Zodiac.


Mengapa? Film ini signifikan karena super luar biasa keren.
Konklusinya tidak instan. Rentang waktu film ini antara akhir enam puluhan
sampai pertengahan tahun sembilan puluhan. Nonton film ini sekilas aku teringat
dengan All the President’s Men (filmnya
Alan J. Pakula, dibintangi Robert Redford dan Dustin Hoffman) yang bercerita
tentang investigasi kasus Watergate di AS. Menurutku kesamaan antara dua film
itu, selain sama-sama bertema investigasi, adalah keduanya menggambarkan
situasi bekerja di sebuah surat kabar besar pada tahun 70an. Mmm, jadi pengen
tahu rasanya hidup di masa itu. Yang menarik sebenarnya film ini disiapkan
untuk berkompetisi dalam Oscar 2007, tapi karena durasinya terlalu panjang
(sebelum diedit lagi sampai tiga jam lebih) akhirnya film ini dirilis untuk
berkompetisi dalam Cannes saja. Versi yang kutonton durasinya cuma dua jam
lebih. Sayang di DVD bajakan yang kusewa nggak ada special features nya, jadi
adegan yang dipotong nggak bisa diliahat. Aku sempet bingung kok film sekeren
ini nggak terlalu kedengeran gaungnya, tapi itulah gunanya DVD kan?



The Kite Runner
November 8, 2007, 3:45 am
Filed under: Books

Kite_runner

















Apa? Buku yang
ditulis oleh
Khaled
Hosseini
ini merupakan buku ketiga paling laku di Amerika Serikat
pada tahun 2005 menurut Nielsen rating. Edisi berbahasa Indonesianya
diterbitkan oleh penerbit Qanita dan diterjemahkan oleh Berliani M. Nugrahani
(yang menerjemahkan buku favoritku Middlesex dengan sangat baik).

 

Bagaimana? Buku ini bercerita tentang persahabatan beda kasta yang
terjalin di Afghanistan pada tahun 70an. Afghanistan pada masa itu merupakan
negara berkembang yang tidak tertinggal modernisasi (diceritakan film Charles
Bronson masuk ke Afghanistan dan didubbing dalam bahasa Iran, jangan disamakan
dengan Afghanistan era Taliban). Persahabatan dalam buku ini terjalin antara
dua orang anak lelaki, Amir dan Hassan. Persahabatan mereka tidak berbeda
dengan persahabatan lainnya di mana selain ada saat-saat menyenangkan, ada juga
saat-saat ketika yang satu mengecewakan yang lain.

 

Mengapa? Ceritanya sangat logis dan believeable. Penulisnya
sendiri lahir dan tumbuh di Afghanistan pada masa yang sama ketika tokoh cerita
ini hidup. Selain itu buku ini punya kadar drama yang hebat. Semua hal yang
disinggung dalam cerita memang betul-betul menyentuh. Sebut saja: persahabatan,
iri hati, perbedaan kasta, kadang-kadang uang bukan segalanya, masalah perang,
kesempatan untuk mulai hidup baru, pengkhianatan, petualangan, sampai rahasia.
Lengkap untuk nangis-nangisan, bukan berarti ini buku yang cengeng.



Efter brylluppet aka After the Wedding
November 3, 2007, 9:55 pm
Filed under: Film

After_the_wedding_2


Apa?
Film drama produksi Denmark ini masuk nominasi Oscar
untuk film berbahasa asing terbaik tahun 2006. Sutradaranya Susanne Bier (
Things We Lost
in the Fire
).

 

Bagaimana? Ceritanya tentang Jakob, seorang pria bule single
idealis  (it’s not that there is something wrong about them) pengelola panti asuhan bagi anak-anak miskin di India. Bule itu
dihadapkan pada fakta bahwa dirinya mesti kembali lagi ke Denmark, tanah
kelahiran pun masa lalunya. Tujuan Jakob pulang kampung adalah mencari sokongan
dana bagi panti asuhan yang dikelolanya. Ia berniat kembali ke India segera
setelah urusan dengan donatur rampung. Namun rupanya di Denmark Jakob menemukan
bahwa ternyata ia punya keluarga yang juga harus dipertimbangkan.

 

Mengapa? Film ini signifikan karena ceritanya logis, sederhana
tapi digarap dengan total. Benar-benar total. Plotnya yang lurus (yang
berpotensi membosankan) dibuat jadi indah dengan angle kameranya yang luar biasa.
Kasarnya After the Wedding adalah versi bagusnya Heart [meskipun antara film
ini dan Heart bisa diibaratkan seperti langit dan bumi (hahahahahah)]. Secara
pribadi yang membuat saya suka dengan After the Wedding adalah lagu-lagunya. Pembukaannya
saja Sigur Ros yang Vaka. Pedih tapi uplifting, film ini sangat direkomendasikan.