Filed under: Me and My Pathetic Life
Belakangan ini saya merasakan ada yang salah dengan diri saya. Ada banyak
tanda yang mengindikasikan bahwa saat ini saya sedang bermasalah.
Indikator 1
Sebagai orang yang gemar membaca, saya otomatis gemar belanja buku. Biasanya
buku yang saya beli, akan cepat saya baca. Apabila saya terlihat lagi di toko
buku, artinya saya sudah selesai membaca semua buku yang dibeli sebelumnya. Namun
saat ini saya mendapati setumpuk buku yang sudah lama dibeli tapi belum juga
selesai dibaca, bahkan ada yang belum disentuh sama sekali:
1) Vernon God Little
karya DBC Pierre. Pas pertama kali baca, saya agak terganggu dengan terjemahan
buku ini yang agak kurang lazim. Mabok setelah baca beberapa halaman, buku ini
pun saya tinggalkan. Eeh, tahu-tahunya beberapa bulan kemudian buku ini
direview oleh kolom Pustakaloka di harian Kompas. Alhasil saya, yang
‘mainstream’ ini, jadi merasa ada kewajiban untuk membaca buku ini sampai
tuntas. Namun kenyataannya buku itu belum saya keluarkan lagi dari lemari.
2) Orang-Orang Proyek
karya Ahmad Tohari. Buku ini sedang kubaca, tapi entah kapan selesainya karena
saya bahkan sekarang jarang membaca buku.
3) Abarat II karya
Clive Barker. Buku ini belum dibaca karena dibeli secara patungan bersama kakak.
Excuse macam apa itu?! Tetap saja buku ini jadi prioritas terakhir untuk bacaan
saya.
4) The Heart is a
Lonely Hunter karya Carson McCullers. Sebetulnya saya nggak sabar untuk baca
buku ini, tapi saya nggak enak bacanya kalau belum menyelesaikan Orang-Orang
Proyek nya Ahmad Tohari.
5) Wilt karya Tom
Sharpe. Selain overpriced (dasar gagas!), ternyata terjemahan buku ini juga
kurang menarik.
6) The Firework-Maker’s
Daughter karya Philip Pullman. Ini baru sekali dibuka sejak dibeli minggu lalu.
7) In Cold Blood karya
Truman Capote. Buku ini malah belum dibaca sama sekali.
A Word Child karya
Iris Murdoch. Buku ini didapat karena memenangkan lomba scrabble secara
kontroversial. Berhubung pakai bahasa Inggris, usaha saya membaca buku ini
mentok pada halaman pertama.
Mengapa ini semua dianggap indikator krisis dalam diri saya? Karena saya
nggak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti! Secara kalap saya konstan
mengeluarkan uang tanpa melalui pertimbangan cerdas yang biasa dilakukan. Tadi
siang di kampus saya beli bukunya Ong Hok Ham yang dijual pada acara November
Festival. Tidak hanya itu, saya juga berniat untuk beli/baca Jukstaposisi:
Cerita tuhan Mati karya Calvin Michel Sidjaja, buku karangan kakak kelas (HI
Unpar 2004!) yang jadi Juara III Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian
Jakarta. Selain itu saya juga merasa perlu untuk membaca Dan Hujan pun Berhenti
karya Farida Susanty, sesama anak Klab Nulis yang novelnya ini masuk sepuluh besar
Khatulistiwa Award 2007 kategori Penulis Muda Berbakat, di mana saya betul-betul
appreciate dengan apa yang sudah dia lakukan. Hah! Bukannya masih ada banyak
buku yang bisa dibaca?
Indikator-Indikator
yang Lain
Selain belanja buku yang nggak berhenti, saya sekarang punya kebiasaan lain
yang nggak bisa berhenti pula:
1) Duduk di depan
televisi tanpa henti. Entah untuk nonton acara televisi ataupun nonton DVD. Dua
minggu terakhir ini kurang lebih saya sudah nonton kurang lebih sepuluh film
(baik yang diputar di TV maupun di DVD). Sebut saja: Zodiac, Year of the Dog,
All About My Mother, Breaking and Entering, Moonstruck, dll. Maraton season
lima Seinfeld. Jelas ini nggak sehat. Kalau biasanya di depan TV itu dua-tiga jam, sekarang bisa sampai lima jam lebih.
2) Saya nggak terlalu
menggemari internet, tapi entah kenapa sekarang setiap ada jeda iklan di
televisi bawaannya online teruus. Entah cek e-mail, cek kemudian.com,
blogwalking, dll. Kalau cuma sebentar sih nggak apa-apa, tapi pada kasus saya
saat ini sudah sampai pada taraf yang mengganggu.
3) Bergesernya jam
kuliah pada hari Senin ternyata berpengaruh juga. Saya sekarang jadi nggak bisa
ikutan Klab Nulis Senin yang notabene lebih penting karena ada sesi menulisnya.
Dodolnya, waktu luang akibat hilangnya Klab Nulis Senin dari jadwal mingguan
tanpa pikir panjang saya isi dengan mengikuti Klab Filsafat, yang ternyata
membuat saya tambah tertekan. Memang materi yang didiskusikan sangat menarik,
memang para klabber-nya juga menarik. Masalahnya pendapat/pertanyaan yang
muncul dalam diskusinya membuat saya tergugah, membuat saya mempertanyakan diri
sendiri, membuat saya berharap lebih banyak pada diri sendiri. Dan lagi,
mungkin kedengarannya dangkal, saya jauh lebih muda daripada klabber lainnya. Apa
yang sedang saya perhatikan rasanya tidak sesignifikan pengalaman hidup klabber
lainnya, saya merasa masih ingusan. Ya sudah berhenti datang saja! Nggak bisa
begitu, saya masih bisa mengikuti, kok. Dulu pas pertemuan-pertemuan awal Klab
Nulis, saya juga sering males kok. Butuh waktu lagi untuk bisa beradaptasi.
4) Temperamen yang
buruk.
Saya jadi teringat dengan komik Slam Dunk. Ada saat di mana Pak Anzai,
pelatih Shohoku, menasihati Sakuragi dengan kalimat yang mengesankan saya. Bunyinya
kira-kira begini: proses belajar untuk jadi lebih baik dimulai dari kesadaran
dan pengakuan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan
Analisis dan Solusi
Saya menduga indikator-indikator ini muncul akibat ketidakmampuan saya
menyelesaikan masalah yang ada di hadapan saya. Buku, televisi, internet, klab,
semuanya saya jadikan pelarian. Masalahnya malah nggak disentuh sama sekali. Saat
ini misalnya, bukannya mengerjakan power point untuk presentasi tugas BIHI yang
akan dipresentasikan besok (Huaaaa!), saya malah sibuk membuat tulisan untuk
diposting di blog. Meskipun ini dilakukan bukan tanpa alasan (di mana blog ini
ditulis duluan sebagai refleksi agar saya semangat buat power point), tapi ini
nggak bisa terus-terusan. Waktu terus berjalan, skala prioritas harus terus
dibuat.
Jadi bagaimana dengam buku dan yang lainnya?
1) Untuk buku. Sebelum
beli buku baru lagi saya berkomitmen untuk menyelesaikan membaca paling tidak
setengah dari buku yang belum dibaca. Saya berjanji pada diri sendiri.
2) Untuk televisi.
Rencananya dalam sehari saya hanya akan menonton maksimal tiga acara televisi
reguler dan satu film saja. Dengan begitu saya punya waktu untuk mengerjakan
hal-hal lainnya. Menulis fiksi misalnya. Mungkin ini saatnya untuk mulai
melepas ketergantungan pada latihan menulis Klab Nulis. Di mana hal-hal seperti
setting, plot, penokohan, dialog, harus rajin-rajin saya latih sendiri.
3) Untuk Internet. Akan
saya batasi sehari dua kali saja: pagi dan malam. Masing-masing antara setengah
jam sampai satu jam saja.
4) Untuk dilema Klab
Filsafat. Saya harus bisa menarik garis batas, di mana ada hal-hal di mana saya
harus bisa kritis sesuai dengan apa yang saya yakini. Jadi intinya ada pegangan
sehingga saya nggak merasa ada tekanan.
5) Untuk temperamen
yang buruk. Sabar. Gampang dikatakan susah dilakukan. Tarik napas dalam-dalam. Perlakukan
orang lain bukan sebagai obyek, melainkan subyek yang juga punya perasaan.
Rasanya cukup.
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>