Dan Hujan pun Berhenti
December 15, 2007, 11:15 pm
Filed under:
Books




Apa? Novel bergenre teen
angst yang mengantarkan penulisnya, Farida Susanty, menjadi nominator
Khatulistiwa Literary Awards 2007 kategori Penulis Muda Berbakat. Farida ini
adalah seorang mahasiswi ITB tingkat pertama yang tengah berjuang menghadapi
masalah eating disorder.
Bagaimana? Leo adalah siswa SMA bermasalah. Tidak betah dengan
kondisi rumah orang tuanya yang selalu panas, Leo memutuskan untuk minggat ke
apartemen ibunya. Berbekal tampang indo, mobil Escudo, dan gang Bunch of Bastards Leo menjadi berandalan di sekolah sebagai
topeng untuk menutupi ketidakbahagiaannya. Kesuraman mewarnai hari-hari Leo
sampai suatu hari, setelah membakar kaca mobil temannya, ia tanpa sengaja
menggagalkan usaha bunuh diri Spiza, seorang siswi yang sempat ia yakini
merupakan reinkarnasi dari perempuan yang pernah menyentuh hatinya: Iris.
Mengapa(1)? Kebetulan saya mengenal Farida secara langsung melalui
kegiatan-seminggu-dua-kali saya, Klab Nulis Tobucil. Dalam beberapa sesi
pembacaan karya, saya kagum dengan deskripsi-deskripsi Farida yang terasa
spontan dan lepas. Ketika berbincang lebih lanjut, saya jadi mengetahui bahwa
ulikan kata Farida telah menghasilkan sebuah novel berjudul Dan Hujan pun
Berhenti, membuat saya penasaran untuk membaca novel itu. Maka ketika saya
mendengar bahwa novel tersebut masuk nominasi KLA 2007, saya langsung merasa
wajib untuk punya dan baca.
Mengapa(2)? Di antara tema kekerasan, cinta, bunuh diri, dll, ada
sebuah tema sangat menarik yang disodorkan oleh buku ini, yaitu kegagalan
sekolah, sebagai badan pendidikan, dalam membantu murid-murid bermasalah.
Segala permasalahan seakan langsung selesai dengan skorsing. Guru BK
digambarkan sebagai orang yang begitu judgmental dan tak terlalu peduli dengan
akar masalah. Seandainya sekolah memiliki sistem yang peduli dengan
siswa-siswinya tentu tragedi di Columbine tak perlu terjadi, begitu pun di
Virginia Tech. Siswa-siswi di Indonesia tak perlu gantung diri karena tak mampu
membayar pungutan sekolah. Sebetulnya sistem yang peduli murid bukan hal yang
mustahil untuk dibangun, kan?
Saya juga menyukai sepiring anggur yang disajikan sebagai kata pengantar
novel ini. Sebetulnya saya bukan penggemar penulis yang menulis kata pengantar
di bukunya sendiri. Namun di Dan Hujan pun Berhenti, selain setumpuk ucapan
terima kasih, kata pengantar juga berfungsi sebagai pembeberan proses kreatif.
Dari kata pengantar, saya mengetahui betapa hebohnya riset di balik pembuatan
Dan Hujan pun Berhenti. Akhir kata, saya berharap Farida tidak bosan untuk
terus belajar, meriset, dan menulis sehingga dapat memperkaya khazanah teenlit, atau bahkan bukan teenlit, Indonesia dengan karya-karyanya
yang bermutu.
The Fact That No One Understands You Doesn’t Make You an Artist
Sunday, December 2,
2007
Oleh Primadonna Angela
Bincang Kecil Tono
oleh dikadiman
Kisah yang baik, sepantasnya dimulai dengan kalimat pembuka dan paragraf yang
dapat menarik perhatian pembaca. Sayangnya, tidak demikian di kisah ini. Awal
yang biasa-biasa saja, membuat saya sebagai pembaca memiliki ekspektasi yang
rendah.
Dimulai dengan, “Sore hari awal perkuliahan ini tidak terasa istimewa bagi
Tono.” Reaksi awal saya sebagai pembaca, ingin berkata, “Terus kenapa?”
Memangnya yang spesial bagi Tono seperti apa? Memangnya seperti apa sih, Tono
ini? Tidak begitu jelas. Mungkin kalau diganti dengan, “Kalaupun ada yang
menciumnya di bibir pagi ini, Tono masih akan beranggapan harinya biasa-biasa
saja.” Dengan membaca kalimat ini, pembaca bisa berkesimpulan, barangkali
Tono tipe yang memandang dunia dengan pahit, atau, tak ada apa pun yang bisa
membuatnya kaget.
Dan penjabaran kisah yang apa adanya, deskripsi yang menurut saya sebaiknya
diganti aksi (show, don’t tell!), membuat kisah ini terasa semakin datar
saja. Sebagai contoh, lihat tiga kalimat dari paragraf pertama ini:
Kegagalannya meraih nilai baik pada semester pendek membuat Tono bosan
kuliah. Tidak hanya itu, ternyata kegagalan akademis ini juga membuatnya malas
bergaul. Maka, alih-alih menyapa pacar atau teman-teman, alih-alih memberi
tanda tangan pada anak-anak baru, begitu jam tangan menunjukan pukul setengah
empat, Tono langsung menuju ke ruang kuliah. Padahal perkuliahan sendiri baru
dimulai setengah jam lagi.
Tono dikisahkan sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, malas bergaul, dan
sebagainya. Daripada menceritakan apa adanya seperti ini, mungkin akan lebih
menarik kalau Tono digambarkan sedang terburu-buru menuju kelas (begitu sampai
di sana, baru diceritakan padahal kelasnya masih setengah jam lagi, jadi
sebenarnya dia tidak punya alasan kuat untuk tergesa-gesa), dengan sengaja
menghindari para mahasiswa baru, melengos saat ada yang berusaha menegurnya.
Para pembaca akan dapat menarik kesimpulan, oh, barangkali Tono orangnya
penyendiri, agak antisosial.
Tiadanya konflik juga membuat kisah ini terasa flat. Tono mau kuliah,
bertemu teman, mengaku dia homo, diterima, kemudian mendapatkan teman baru(?).
Sebagai pembaca, saya tidak merasa ada keterlibatan emosi dengan Tono. Tidak
ada misteri yang membuat saya bersemangat untuk membaca kisah ini sampai akhir.
Barangkali penulis memaksudkan, asalkan Tono mau membuka diri pada seseorang,
dia akan sadar, bahwa sebenarnya tidak semua orang punya prasangka buruk pada
homoseksualitas. Ini adalah tema atau pesan moral yang bagus, dan patut
dikembangkan.
Barangkali kalau penulis memasukkan sedikit flash back, mengenai trauma
Tono dalam menjalin persahabatan, kisah akan menjadi lebih hidup. Mungkin untuk
membangun suspense, saat Tono memberitahu Herman bahwa dia homo, ada jeda yang
signifikan. Ekspresi tertentu di wajah Herman, gerak-gerik tubuhnya, yang
membuat Tono merasa dirinya akan menerima penolakan. Lagi, (walau ternyata
tidak demikian kejadiannya.) menurut saya juga, sebaiknya dituturkan sedikit
mengapa Herman bisa menerima Tono begitu mudahnya. Apa karena dia sendiri
adalah seorang homo? Atau karena dia tipe yang mudah bersimpati? Sayangnya
karakter Herman kurang tergali, padahal sebagai teman berbicara Tono, menurut
saya, Herman sebaiknya diberikan porsi yang cukup penting.
Pesan saya pada penulis, dalam menuliskan sebuah kisah, jangan takut untuk
“menyiksa” para karakter, asalkan mereka diberi bekal untuk menanggulangi
cobaan itu. Mungkin akan lebih seru dan menggigit kalau Tono mengalami hari
yang benar-benar menyebalkan, hingga saat bertemu Herman, dia belum apa-apa
sudah emosi? Atau, saat Herman ingin bertanya lebih lanjut pada Tono mengenai
homoseksualitas (bukan untuk mencela, hanya sekadar ingin tahu), Tono
marah-marah atau langsung berprasangka buruk? Saya yakin, penulis pasti mampu
menuliskan adegan yang lebih memesona bagi pembaca, dengan sedikit latihan!
Hasil resensi yang diadakan oleh kemudian.com. Ada dua kemungkinan positif
yang bisa diambil dari sini:
- Saya terpacu untuk terus
melatih pembukaan dan pendalaman karakter. Atau:
- Saya bisa jadi lebih fokus mendalami
ilmu hubungan internasional (bercanda).