Filed under: Books
Apa? Novel bergenre teen
angst yang mengantarkan penulisnya, Farida Susanty, menjadi nominator
Khatulistiwa Literary Awards 2007 kategori Penulis Muda Berbakat. Farida ini
adalah seorang mahasiswi ITB tingkat pertama yang tengah berjuang menghadapi
masalah eating disorder.
Bagaimana? Leo adalah siswa SMA bermasalah. Tidak betah dengan
kondisi rumah orang tuanya yang selalu panas, Leo memutuskan untuk minggat ke
apartemen ibunya. Berbekal tampang indo, mobil Escudo, dan gang Bunch of Bastards Leo menjadi berandalan di sekolah sebagai
topeng untuk menutupi ketidakbahagiaannya. Kesuraman mewarnai hari-hari Leo
sampai suatu hari, setelah membakar kaca mobil temannya, ia tanpa sengaja
menggagalkan usaha bunuh diri Spiza, seorang siswi yang sempat ia yakini
merupakan reinkarnasi dari perempuan yang pernah menyentuh hatinya: Iris.
Mengapa(1)? Kebetulan saya mengenal Farida secara langsung melalui
kegiatan-seminggu-dua-kali saya, Klab Nulis Tobucil. Dalam beberapa sesi
pembacaan karya, saya kagum dengan deskripsi-deskripsi Farida yang terasa
spontan dan lepas. Ketika berbincang lebih lanjut, saya jadi mengetahui bahwa
ulikan kata Farida telah menghasilkan sebuah novel berjudul Dan Hujan pun
Berhenti, membuat saya penasaran untuk membaca novel itu. Maka ketika saya
mendengar bahwa novel tersebut masuk nominasi KLA 2007, saya langsung merasa
wajib untuk punya dan baca.
Mengapa(2)? Di antara tema kekerasan, cinta, bunuh diri, dll, ada
sebuah tema sangat menarik yang disodorkan oleh buku ini, yaitu kegagalan
sekolah, sebagai badan pendidikan, dalam membantu murid-murid bermasalah.
Segala permasalahan seakan langsung selesai dengan skorsing. Guru BK
digambarkan sebagai orang yang begitu judgmental dan tak terlalu peduli dengan
akar masalah. Seandainya sekolah memiliki sistem yang peduli dengan
siswa-siswinya tentu tragedi di Columbine tak perlu terjadi, begitu pun di
Virginia Tech. Siswa-siswi di Indonesia tak perlu gantung diri karena tak mampu
membayar pungutan sekolah. Sebetulnya sistem yang peduli murid bukan hal yang
mustahil untuk dibangun, kan?
Saya juga menyukai sepiring anggur yang disajikan sebagai kata pengantar
novel ini. Sebetulnya saya bukan penggemar penulis yang menulis kata pengantar
di bukunya sendiri. Namun di Dan Hujan pun Berhenti, selain setumpuk ucapan
terima kasih, kata pengantar juga berfungsi sebagai pembeberan proses kreatif.
Dari kata pengantar, saya mengetahui betapa hebohnya riset di balik pembuatan
Dan Hujan pun Berhenti. Akhir kata, saya berharap Farida tidak bosan untuk
terus belajar, meriset, dan menulis sehingga dapat memperkaya khazanah teenlit, atau bahkan bukan teenlit, Indonesia dengan karya-karyanya
yang bermutu.
1 Comment so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>




thanks banget Ndik…
Farida Susanty (author) 12.29.07 @ 11:49 pm