Filed under: Diary Klab Nulis
11 Mei 2008
Seperti biasa kemarin
Klab Nulis dilaksanakan di smoking area toko
buku Reading Lights. Dihadiri Uli,
Fadil, Ina, Anas, Zia, Erick, saya, Myra, dan Uut, kemarin kami mempraktekkan sebuah
teknik menggali ide yang didapatkan Erick dari buku Creative Writing.
Jadi instruksi
pertama: kami semua diminta menuliskan nama, nama orang asli yang kami kenali—bukan
nama yang dikarang-karang, sebanyak mungkin selama lima menit. Instruksi
selanjutnya, dari daftar nama tersebut dilakukan penglasifikasian, contoh: nama
Imroatus Solihah akan sangat cocok untuk cerita-cerita yang berlatar belakang
kehidupan beragama islam (atau malah generik, ya?). Terakhir, kami diminta menulis
dan membacakan sinopsis cerita yang tokoh-tokohnya berasal dari nama yang telah
ditulis dan diklasifikasikan tadi.
Menurut saya,
teknik yang diberikan Erick itu cukup berhasil. Dari nama-nama itu saya jadi
membayangkan sebuah cerita yang betul-betul ingin digarap. Dan ini lumayan oke.
Saya suka ide Uut yang ‘saya belum mencintaimu’. ‘Belum mencintaimu’! Bukan ‘tidak
mencintaimu’! Hahaha!
Kalaupun ada kesulitan,
paling bagaimana mesti berkomentar sehabis peserta lain membacakan tulisan. Masalahnya
tulisan yang dibacakan adalah sinopsis cerita, jadi belum banyak yang bisa
dikomentari. Dan sebetulnya saya juga kurang suka kalau mesti berkomentar yang
menuntut adanya perubahan cerita. Misalnya, ‘bagaimana kalau si A mati saja?’ atau
‘tokohnya yang itu, tapi bagaimana kalau ceritanya gini gini gini’, aduh! Baru
terpikir sekarang, sebetulnya kemarin si fasilitator klab bisa lebih keren
dengan melontarkan pertanyaan, ‘Bagaimana teknik ini membantu, nggak? Kalau ya,
kenapa? Kalau nggak, juga kenapa?’ Jadi interaksinya bisa lebih dua arah. Kalau
peserta baru kecenderungannya kan iya-iya saja, atau malah nggak?
Dapat dikatakan
Klab Nulis kemarin cukup menyenangkan, tapi bukan menyenangkan yang
menggembirakan juga, sih. Hahaha! Menurut saya interaksi antar peserta sangat
penting. Semua peserta harus merasa memiliki kesempatan untuk membela
diri/membela tulisan. Karena kalau saya tidak memiliki kesempatan itu, bukankah
saya tak punya cukup alasan buat datang ke Klab Nulis lagi?
TRIVIA
1. Sebelum sesi menulis dimulai, beberapa
dari kami sempat membicarakan pengalaman nonton film. Saya Friends With Money, Ina Kunfayakun
dan DO di bioskop FFB, dan Anas August Rush. Namun kami semua gagal
mengalahkan Erick dalam hal spoiling
menceritakan pengalamannya menonton The
Host. Ia bercerita dari awal, tengah, klimaks, sampai ending film Korea
tersebut. HELP!
2. Erick bawa dua contoh Nelen Matahari, buku cerita bergambar imut
yang digarapnya bersama Dea ‘Sundea’. Menurut Fadil buku itu lucu tetapi
anak-anak kecil diragukan bisa memahami joke-joke-nya.
Sementara itu kira-kira Zia berkomentar, ‘Mataharinya kayak keluar begitu saja.’
3. Di sela-sela pembacaan karya, kami mendapat
kuliah psikologi menarik dari Uut, sang sarjana psik0logi. Bertolak dari
tulisan Zia, Uut menjelaskan mulai dari definisi neurotis, klasifikasi neurotik,
sampai menjawab pertanyaan Anas, “Apakah penderita Schizophrenia dikaruniai
otak yang sangat-sangat cerdas?” Sepertinya Uut bisa dijadikan sebagai life coach Klab Nulis.***
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>