Filed under: Diary Klab Nulis
18 Mei 2008
Hari Sabtu
kemarin Klab Nulis melakukan acara nonton bareng untuk pertama kalinya semenjak
saya ikut bergabung. Sekitar jam empat lebih, kami semua sudah berkumpul di
lantai atas toko buku Reading Lights
yang sudah diset untuk acara nonton bareng. Kami adalah Dea, Myra, Erick, Nia,
Uli, Anas, saya, dan Ina. Kami belum menentukan film yang akan diputar. Pilihan
filmnya antara lain, Grave of the
Fireflies, Curse of the Golden Flower
(saran Erick), There Will Be Blood (saran
saya), dan beberapa film lain yang menurut Erick tidak penting. Hm, sangat
disayangkan teman-teman yang lain tidak ikut merekomendasikan film kesukaan
mereka. Bukannya lebih baik kalau kami memiliki sebanyak mungkin pilihan yang
ada? Adapun syarat-syarat yang mesti dipenuhi film yang akan diajukan adalah:
bersifat fresh di Rotten Tomatoes (ratingnya 60% ke atas),
memiliki plot yang tak konvensional, dan tidak mengandung nudity. Apa mungkin film-film yang memenuhi syarat-syarat ini
termasuk sulit untuk dicari? Berhubung Dea tak mau menonton Grave of the Fireflies dan saya
mati-matian merekomendasikan There Will
Be Blood, demi semangat demokrasi akhirnya Erick memilih There Will Be Blood. Lampu dimatikan dan
film pun diputar.
There Will Be Blood adalah
film arahan Paul Thomas Anderson, sutradara Boogie
Night, Magnolia, dan Punch Drunk Love. Akting Daniel Day
Lewis dalam film ini menyabet piala Oscar kategori Aktor Terbaik. Uut dan teman
Anas datang di tengah-tengah film. Tema film ini menyentuh minyak, ketamakan,
gereja, dan pilihan untuk menyendiri. There
Will Be Blood berlatarkan Amerika Serikat yang lain. Amerika Serikat yang
belum berubah menjadi negara super power
tunggal yang dikendalikan para teknokapitalis dengan politik luar negeri yang assertive, unilateral, dengan war on terrorism yang tak menilik akar
permasalahan … ck, apa sih? Pokoknya yang disorot dalam film ini adalah
Amerika Serikat dengan padang ilalang yang luas, berpasir, alam yang belum
terjamah, dll. Rentang film ini dari tahun 1908 sampai 1920-an. Hal inilah yang
luput dari pemikiran saya ketika merekomendasikan There Will Be Blood.
Film yang
rentangnya sepanjang ini, durasinya pasti lama. Dan durasi yang lama tidak
mengakomodasi kepentingan masing-masing dari kami. Bagaimana kalau ada yang
pulang duluan untuk urusan lain? Bagaimana kalau ada yang mau sholat di
tengah-tengah film? Bagaimana kalau Myra nggak selesai menonton karena harus
bekerja? Bagaimana kalau film ini membuat Erick telat mengapel? Bagaimana
dengan Dea yang tak suka pulang malam? Pikiran saya sebelumnya tidak ke situ.
Dan benar saja, Uli meninggalkan kami di tengah-tengah film. Myra juga sempat
meninggalkan film untuk sholat dan ke bawah entah untuk apa. Mungkin minta
izin, “Eh, gua mulai kerjanya agak telat, ya? Filmnya masih lama!” Akhirnya
hampir semua orang sempat sibuk dengan ponsel masing-masing, mungkin
memberitahu bahwa mereka akan telat. Maaf, semuanya! Selain itu kami menonton film sampai selesai.
Saya sendiri senang ‘menonton’ reaksi teman-teman lain yang menonton There Will Be Blood. Dan menonton reaksi
mereka atas adegan terakhir sangatlah priceless.
Film selesai diiringi musik ceria. Credit
dimulai. Saya meminta agar DVD jangan dimatikan dulu. Tangan saya teracung
ke layar ketika nama Jonny Greenwood muncul sebagai penata musik. “Jonny Greenwood
adalah gitaris Radiohead,” ujar saya. “Pantesan musiknya bagus,” komentar Dea.
“Suka, nggak?
Dengan film ini?” tanya saya. Erick menyukai shot-shot film ini yang
indah. Myra ’sukaaa’ banget sama film ini. Anas dan Ina menjawab suka, tapi seperti
kurang tulus begitu, sepertinya mereka masih shock dengan bagaimana film ini berakhir, hahaha. Uut bilang tak
bisa menjawab karena dia baru datang di tengah-tengah film. Nia suka musiknya
yang kata dia, “Mirip Bjork.” Dea tidak suka film ini, “Perasaan gua jadi nggak
enak.” Yah sepertinya saya memilih film yang salah, I’m sorry! Semoga cepat baikan! Sebelum semua bubar, Erick
menugaskan pada kami untuk menuliskan adegan yang paling membekas pada film ini
dan karakter mana yang mengingatkan kami dengan seseorang. Dia juga mempunyai
ide agar acara nonton bareng ini diadakan sebulan sekali. Boleh!
Belajar dari kali
ini, ada baiknya film yang akan diputar durasinya tidak lebih dari dua jam.
Teman-teman yang lain juga sebaiknya turut merekomendasikan film. Soalnya kalau
Erick terus, filmnya pasti yang art house-b movie-superhero movie begitu. Kalau
saya terus, pasti yang dipilih yang melodrama melulu. Syaratnya juga nggak
terlalu berat kan?***
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>