Filed under: Diary Klab Nulis
3 Mei 08
Klab Nulis di
toko buku Reading Lights dimulai
kurang lebih sejak jam empat sore. Yang hadir hari ini antara lain, Erick, Aji,
Uli, teman Anas, Anas, Myra, Neni, Zia, saya, dan Dea.
Pertemuan dimulai
dengan Erick, fasilitator yang membicarakan pengalamannya menonton film super hero. Film yang baru dia tonton
adalah Iron Man. Intinya omongan
Erick, meskipun Iron Man mengikuti
kaidah film super hero: ada
transformasi dari orang biasa menjadi sang pahlawan, ada mentor, ada romance, ada musuh, dan ada asisten yang
lucu, tetapi di dalam Iron Man
aspek-aspek itu dibuat menjadi sangat mungkin terjadi. Kata Erick, plausible. Dan itu bagus. Bertolak dari
film ini Erick menugaskan anak-anak untuk menulis sebuah thriller. Hmm, saya nggak terlalu yakin apa korelasinya antara film
super hero ini dengan thriller. Sepertinya ada missing link di sini. Apa menurut si
Erick Iron Man merupakan thriller?
Awalnya saya agak
kesulitan dalam menentukan ingin menulis apa. Tapi waktu terus berjalan. Erick
memberikan waktu dua puluh menit untuk menulis thriller masing-masing. Maka saya mencoba membuat tulisan sadis
garing, kira-kira begini:
Di
dinding depan ranjang terlihat siluet pisau yang meneteskan darah. Husen
gemetaran hebat di belakang pintu. Telinganya menempel ke dinding. Dadanya naik
turun seperti pompa air. Suara derap langkah ibu menandakan keberadaan beliau
yang semakin dekat saja.
“TIDAK!”
seru Nani, adik Husen. “TI ….” Tak terdengar suara lagi. Entah apa kata bapak
kalau tahu Nani mati.
Menyadari
kemungkinan bahwa ibu tengah sibuk menyantap daging Nani, Husen memberanikan
untuk melarikan diri dari kamar. Dan benar saja, dari sudut matanya, di ruang
tengah ia melihat ibu tangah menyantap paha Nani yang di betisnya masih
terpasang kaus kaki warna pink.
Sial
bagi Husen, ternyata ibu juga melihatnya. Dari telapak tangan ibu tiba-tiba
keluar sebuah rantai berujung lancip yang seketika menancap di kemaluan Husen.
Darah berhamburan. Daging berhamburan. Secara paksa Husen mencoba melepaskan
ujung rantai yang tertancap kukuh di selangkangannya. Namun, usahanya sia-sia.
Alih-alih, ibu kembali mengeluarkan rantai yang kali ini ujungnya menancap di
bahu Husen.
Kesadaran
Husen kini sudah setipis selembar tissue.
Piyama merahnya terkoyak dan semakin merah lagi oleh darah. Di dada dan
selangkangannya menancap ujung-ujung rantai yang terbuat dari logam berkarat.
Darah Husen mulai menggenangi marmer putih yang susah payah diimpor bapak dari
Italia. Ibu telah selesai dengan Nani, sementara itu badan Husen makin lama
makin terseret ke tubuh ibunya, sang monster. Di akhir hayatnya Husen berpikir,
“Sudah terlambatkah bagiku untuk menyadari akan ada kehidupan setelah
kematian?”
Kalau dibaca lagi
memang nggak begitu bagus, tapi inilah usaha terbaik saya dalam waktu dua puluh
menit. Dan rupanya ini cukup membuat beberapa teman merasa jijik, hahaha.
Tulisan
teman-teman yang lain juga bagus, kok. Myra menulis tegangnya backstreet, Zia tentang seorang ayah
yang abusive, Dea menulis Coki, Dodo,
dan Barry yang mengincar mangga, Erick tentang keterdamparan, Aji menulis sepak
bola, Uli tentang seorang perawan tua yang menghantui dukun, teman Anas menulis
tentang bangun kesiangan dan takut dosen, aih! Dengan bahasa yang puitis! Dan
Anas menulis tentang orang tersesat yang sebetulnya merupakan eksperimen.
Dapat dikatakan
Klab Nulis tadi siang cukup menyenangkan. Pengajarannya lumayan sistematik (saya
masih agak bingung, euy: korelasi Iron Man sama thriller itu apa ya?), suasananya juga nggak terlalu kompetitif.
Klab diakhiri, saya bermain scrabble
dan tiba-tiba mendapat terobosan teori tentang bagaimana pembantai tulisan Myra
sebetulnya naksir dengan Myra.
2 Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Gag ada korelasinya. Iron man itu buat sharing, thriller atau suspense itu buat latihan. Tapi gua lupa ngasi bates jadi kesannya nyambung.
Erick 05.04.08 @ 9:26 pmTeori naksir ya? Gw nebaknya kaya satu kisah di buku chicken soup for the writer’s soul, yg profesor mengkritik tulisan karena iri tulisan mahasiswanya lebih bagus dari kemampuan dia menulis.
saya sukakan dya tapi saya tidak pasti dya sukakan saya……………
nor iffah nazirah 07.04.09 @ 1:28 am