futualblog


Libur Telah Tiba, Sebagai Selingan Saya Pun Menulis Diary 1
May 25, 2008, 7:58 am
Filed under: Diary Klab Nulis

25 Mei 2008

 
KLAB NULIS

Pemeran tetap musim ini:

Uut, Myra, Opik, Fadil,
Aji, Anas, Erick, dan saya sebagai Andika Budiman.

 
Memperkenalkan:

Gilang, editor
buku pelajaran yang beralih menjadi editor fiksi.

 
Recurring
Characters
:

Selvi, the missing child.

Mirna, eks-pemeran
tetap yang meninggalkan opera sabun Australia Neighbours demi mengejar karir di Inggris sebagai bintang pop.
Seperti biasa ia melanjutkan perannya sebagai fasilitator yang narsis, tak bisa
diam, dan … ehm, perhatian.

 
Plot:

Berlatarkan toko buku Reading Lights kegiatan pada
Klab Nulis Sabtu kemarin adalah latihan menulis dialog. Pertama-tama kami
diinstruksikan Mirna untuk menulis deskripsi kurang lebih sepuluh kalimat.
Contoh, Myra menulis:

 
Bim-bim
dan Sevrin berada di sebuah kamar 4 x 4 milik tante Sevrin. Ruangan dengan
kasur, meja baca, dan beberapa kotak kardus yang mengindikasikan ruangan itu
tidak terpakai. Bim-bim fokus pada layar komputer, sementara Sevrin duduk
malas-malasan di tempat tidur dengan laptop di pangkuannya sambil sekali-sekali
memijit-mijit pundaknya. Tidak adanya ventilasi udara membuat ruangan itu tidak
panas. Atap-atap yang tinggi dan kelembapan di dalam ruangan itu menjadi alasan
Bim-bim dan Sevrin tetap mengetik tanpa mengeluhkan suhu udara.

 
Instruksi kedua,
deskripsi kami yang kami tulis dibacakan dan ditukar dengan deskripsi peserta
lain. Berdasarkan deskripsi dari peserta lainlah masing-masing menulis sebuah
sebuah dialog yang akan dibacakan sebagai tugas akhir latihan ini. Berdasarkan
deskripsi Myra di atas saya menulis:

 
“Mas
Har kurang asem!” seru Sevri sambil menampar kasur yang didudukinya. “Paper lagi. Paper lagi. Padahal kalau nggak ada paper aku mau pulang ke Surabaya!”

Bim-bim
hanya tersenyum mendengar keluhan gadis itu. Matanya terpaku pada monitor
komputer, memilah-milah data yang dikeluarkan oleh search engine. Sejenak ia membiarkan Sevri beristirahat.

“Tapi
untung paper-nya per kelompok, ya
Bim! Jadi kan nggak terlalu berat!” Sevri kembali asyik dengan laptopnya.

Jempol
Bim-Bim teracung. “Begitu dong! Positive
thinking
, bagianku juga sudah hampir selesai, kok! Penyebaran fast food dan sifat-sifat fast food. Kalau begini terus bisa, deh!
Paper MIHI kita selesai hari ini!”

Sevri
pun tersenyum. Jemarinya kian lincah mengetik keyboard laptopnya. “Menurut kamu bagaimana, Bim? Film Super Size Me termasuk, nggak?” Sevri
meminta pendapat.

“Kamu
sudah berapa halaman?” tanya Bim-bim.

“Baru
tiga!”

“Kalau
begitu masukkan saja Super Size Me
sebagai counter culture budaya fast food!” saran Bim-bim.

Setelah
beberapa saat copying, pasting, editing, dan memasukkan referensi, Bim-bim
mengumumkan, “Aku sudah selesai! YM kamu dinyalain, dong!”

Sevri
tertawa. “Memang kamar kos kamu ini ada wi
fi
nya?”

Tawa
Bim-bim pecah juga. “Iya, ya. Kebiasaan ngerjain tugas di Senpus kebawa-bawa
sampai ke sini.”

“Laptop
kamu nggak bervirus, kan Bim?” tanya Sevri sembari menangkap USB yang
dilontarkan Bim-bim.

“Nggak
ada. Tapi discan saja buat
jaga-jaga,” jawab Bim-bim. Ia pun pindah duduk ke sebalah Sevri, kepalanya
menengadah menghadap plafon kamar kosnya. Mulut Bim-bim setengah terbuka.

 
 “Gagal,” keluh saya setelah membacakannya.

 
Pointless,” tambah Mirna menyetujui.

 
Tentu saja tidak
berakhir di hasil akhir. Saya lantas tergugah untuk menggali apa yang terjadi
di dalam proses penulisan sehingga tulisan saya menjadi pointless. Setelah berpikir sejenak, saya rasa dalam pembuatan tulisan
ini saya terlalu hati-hati. Belum apa-apa saya sudah menetapkan standar: harus
logis, tak boleh berlebihan, harus bagus, dll. Sebetulnya nggak terlalu salah
juga, saya nggak mau mempermalukan diri di depan Mirna, hahaha. Namun
standarisasi menjadi salah ketika hal itu membatasi saya untuk menulis dengan
bebas—memasukkan semangat menulis ke dalam kotak-kotak yang sempit.
Standarisasi juga salah kalau itu membuat saya melupakan tujuan awal dari
latihan ini: membuat dialog. Seharusnya saya mencoba menulis dialog yang
menjadi basis dari cerita. Namun yang saya lakukan adalah memutuskan tema
cerita tertentu, memaksanya masuk ke dalam deskripsi, dan menjadikan dialog
soal belakang. Bukannya mendahulukan membuat dialog yang pas, saya malah
mendahulukan membuat cerita yang nyata buat saya: tugas-tugas kuliah jahanam
dan usaha mahasiswa dalam menunaikan kejahanaman itu. Dan ini salah besar.
Tidak heran tulisan saya menjadi a very
boring conversation
.

 
Di akhir diary kali ini saya ingin menyampaikan
kekaguman saya kepada Mirna. Jadi kemarin ia sempat mengritik tulisan Opik
dengan agak dalam. Lalu Opik bertanya, “Tulisan Kakak sudah dimuat di mana
saja?” Agak offensive menurut saya. Saya
kira Mirna akan memberi Opik jawaban bernada tinggi, tak disangka anak itu menjawab
dengan ceria, “Tulisan saya yang diterbitkan baru buku pesanan orang. Ada juga
proyek-proyek yang nggak selesai. Kalau cerpen sih banyak di internet, search deh Freyja Gryffin. Saya berani
mengritik karena saya membaca banyak!” Saya tertegun butuh kematangan emosi
untuk menjawab pertanyaan offensive
dengan sebaik itu. Sungguh Mirna keren minggu ini!




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>