Kali Ini Pendek Saja
29 Jun. 08
Berhubung
internet di rumah mati dan saya sedang konsentrasi bikin resensi, entry diary kali ini pendek saja.
Berhubung kemarin
sore hujan turun sangat deras, peserta yang hadir pada Reading Lights Writer’s Circle in
Indonesian tak sebanyak biasanya. Kami
adalah Mirna, Erick, Myra, Wahyu, Selvi, saya, dan Nila the newcomer.
Berhubung Erick
telat dan mengejar agar pertemuan The
Circle kelar jam enam, latihan menulis tidak diadakan. Sebagai gantinya
kami membacakan karya yang ada. Saya membaca sebuah cerpen lama dan resensi
ini. Mirna membacakan esei tentang interpretasi seni rupa yang elusif dan
eksklusif. Erick membacakan resensi Alexandra yang berhalangan datang.
Pengumuman:
Berhubung
materinya adalah meresensi lukisan karya anak-anak, maka pada tanggal 12 Juli, pertemuan
The Circle akan diadakan di Jendela
Ide di Sabuga mulai dari jam 2 siang.
Sabtu Nonton
20 Juni 08
Setiap sebulan
sekali, Reading Lights Writer’s Circle in
Indonesian melakukan acara nonton bersama. Jika There Will Be Blood merupakan film yang sama-sama ditonton terakhir,
maka kali ini filmnya adalah Persepolis,
sebuah film yang diangkat dari novel grafis otobiografi berjudul sama karya
Marjane Sartrapi.
Persepolis adalah film
pilihan Erick. Selain film ini, sebetulnya putra dari aktor Robert Syarif ini
juga membawa alternatif film lain, judulnya Pom
Poko. Persepolis akhirnya jadi
pilihan Erick untuk ditonton bersama karena ia juga belum menonton film ini. Selain
Erick, adapun yang pada sore hari kemarin sama-sama belum menonton Persepolis adalah Uli, Fadil, Alexandra,
Zia, Opik, Selvi, Wahyu, saya, dan Myra—dengan kata lain ini merupakan
pengalaman pertama bagi kami semua. Sayang Dea sedang nggak ada, padahal dia
suka dengan versi komiknya.

Kopi Persepolis yang kemarin diputar didapatkan
Erick dengan mengunduh dari internet. “Nggak apa-apa,” ujarnya ketika memasang
kabel yang menghubungkan laptop
dengan in-focus, “Film ini nggak
muncul-muncul di bioskop, dan lagi bajakan yang ada subtitle-nya nggak betul,
padahal ini pakai Bahasa Perancis.”
Lampu dimatikan,
film pun diputar. Berlatarbelakangkan perubahan situasi politik di Iran, Persepolis bercerita tentang proses
pencarian jati diri Marjane Sartrapi. Persepolis sendiri merupakan nama ibukota
Iran sebelum berganti menjadi Teheran. Pergantian kekuasaan bisa jadi
menyebabkan pergantian nama tempat, contoh: Irian Jaya -> Papua, Leningard
-> St. Petersburg, dll. Persepolis
menggunakan plot yang bergerak mundur, yang membedakan antara masa kini dengan
masa lalu adalah warna. Apabila pada bagian masa lalu warnanya hitam putih, ada
warna lain di bagian masa kini. Film ini juga menggunakan narasi voice over.
Erick menyalakan
lampu pada bagian credit ends.
Seperti biasa ia menugakan kami untuk membuat tulisan, entah resensi atau
sekadar catatan tentang momen mana yang paling berkesan. Erick mengatakan
selain menyukai musiknya, dia juga memikirkan tentang berapa besar porsi
pengalaman pribadi yang dijadikan cerita komik, berapa besar porsi komik yang
dijadikan ke film, berapa besar bagian yang dikarang-karang untuk membuat film jadi
seru. Alexandra mengatakan ia harus membaca tentang Marjane Sartrapi sebelum
bisa berkomentar lebih jauh. Uli terkagum dengan jalan hidup Marjane. Saya suka
karena adaptasi ini setia dengan komiknya. Saya terkagum dengan film kartun
hitam putih. Sederhana tetapi tegas, walaupun kadang-kadang karakternya terasa
kurang menyatu dengan background.
Saya kepikiran perkataan Erick tentang porsi pengalaman pribadi yang dijadikan
ke komik dan jadi ingin berkomentar, “Katakanlah lu bikin graphic diary. Mestinya lu menggambar tentang kehidupan elu,
bukan kehidupan orang lain.” Hahaha!
Kebetulan sewaktu
menulis diary ini saya bertemu dengan
Selvi di Yahoo! Messenger. Tiba-tiba
saya terpikir membuat wawancara dadakan yang setelah diedit sedikit akan saya
jadikan penutup tulisan ini. Ngomong-ngomong, kemarin Erick bilang dua minggu
lagi, tanggal 5 Juli, programnya adalah belajar membuat resensi untuk seni rupa
jadi kumpulnya di Jendela Ide. Kepastiannya minggu depan, sih. Untuk ide film
buat acara nonton bareng bulan depan, saya mau mengajukan Me and You and Everyone We Know. Sepertinya saya harus mulai
berpromosi dari minggu depan untuk bisa menggolkan film ini.
Andika Budiman
(AB): Selvi, lagi sibuk nggak?
Selvi (S): Nggak.
Memangnya kenapa?
AB: Mau ngajak
ngobrol saja, saya lagi stuck bikin diary tentang acara nonton kemarin.
S: (Tertawa) Silakan
saja!
AB: Jadi
bagaimana pendapat kamu tentang Persepolis
bagus, nggak?
S: Bagus banget. Saya
tadi cari komiknya tapi nggak ketemu, di toko buku Gramedia nggak ada.
AB: Dalam versi
Indonesia judulnya bukan Persepolis, Sel.
Penerbitnya menggantinya jadi Revolusi Iran
Dongeng Seorang Anak. Tapi mungkin di Gramedia nggak ada juga, penerbitnya
Resist Book. Dulu saya beli di toko buku Togamas.
S: Oh pantesan.
(Tertawa) Pinjam, dong!
AB: Boleh.
Ngomong-ngomong bagian mana yang paling berkesan buat kamu?
S: Waktu Marjane,
si tokohnya, hidup sendiri tanpa keluarga setelah pergi dari Iran dan dia
sempet jadi gembel.
AB: Kalau
dipikir-pikir Marjane kan seumuran kamu waktu dia jadi gembel. Kamu jadi mau
ngegembel juga, ya?
S: (Tertawa) Iya.
Dia keren! Saya sih nggak bakal bisa kayak gitu.
AB: Jangan
pesimis begitu. Kita kan nggak pernah betul-betul tahu.
S: Iya, sih. Menurut
kamu?
AB: Saya sih
selalu berniat buat membuka diri pada setiap kesempatan yang ada.
S: Maksudnya?
AB: Jangan takut
dengan hal-hal baru. Apalagi kalau itu sesuai dengan apa yang kita yakini …
apa sih! Kalau saya berkesan banget dengan adegan waktu dia kembali lagi ke
Iran, waktu dia jadi depresi. Di Austria merasa jadi orang asing, kembali ke Iran
jadi orang asing lagi.
S: Iya yang itu.
Keren, sedih. Ending-nya terasa gimana gitu ….
AB: Kalau kamu
ada di posisi yang sama dengan Marjane: diselingkuhi pacar, dianggap orang
asing dll, apa yang kamu lakukan? Kamu bakal ngegembel juga atau bagaimana?
S: Saya bakal melakukan
hal yang sama, bakal jadi gembel!
AB: Kenapa?
S: Tapi kayaknya saya
bakal nggak kuat mental. Ngegembel kan gila (Tertawa).
AB: Yee, terus bagaimana
dong?
S: Saya mau jadi
gembel, tapi kayaknya saya nggak bakalan kuat kalau dikasih masalah yang segitu
banyak.
AB: Tapi kalo
masalahnya sudah ada?
S: Yah dijalanin
….
AB: Tergantung
kondisi, ya Sel?
S: Masalah kan
membuat kita jadi dewasa, bukan waktu.
AB: Iya, sih.
S: Kalau kamu
bagaimana?
AB: Saya
ngegembel juga. Perasaan saya pasti campur aduk kalau mengalami hal seperti
itu. Punya masalah kecil saja suka jadi stress-stress yang nggak penting.
S: Iya jadi aral!
Dan depresi mendadak.***
ProsA liRIS, je t’aime
15 Jun. 08
Banyak juga anak-anak
Reading Lights Writer’s Circle in Indonesian yang hadir pada kemarin sore. Ada
Mirna, Devi the newcomer, Uli, Anas,
Opik, Dea, Erick, Farida, Myra, Fadil, Wahyu the missing child, saya, dan Ina. Tiga belas orang! Padahal kali
ini kami membahas sesuatu yang menurut saya agak berat: prosa liris. Kebayang
dong bagaimana sesaknya smoking area
toko buku Reading Lights yang memang
bukan untuk tiga belas orang. Akhirnya kami hijrah ke lantai atas yang jauh
lebih luas. Tikar digelar, bantal dibagi, makanan dipindahkan, pertemuan pun
dilanjutkan.
Awal cerita
bagaimana prosa liris terpilih jadi tema pertemuan The Circle minggu ini terjadi pada minggu lalu. Paska Opik
membacakan tulisan yang ambigu itu, Myra berkomentar ada baiknya Opik
menggunakan metafora yang punya asosiasi khusus dengan hal yang dimetaforakan
(lihat posting minggu lalu). Sebagai
contoh, Myra menjanjikan akan membacakan sebuah prosa liris karya Dewi Lestari
yang diambil dari buku Filosofi Kopi. Kata mahasiswi Sastra Inggris Universitas
Padjadjaran angkatan 2004 itu, karya Opik mirip tulisan Dewi Lestari, agak-agak
prosa liris. Dengan demikian, ditetapkanlah prosa liris sebagai tema pertemuan
untuk minggu ini.
Diskusi tentang
prosa liris kemarin dibuka dengan Myra yang membacakan Surat Yang Tak Pernah
Sampai karya Dewi Lestari yang sarat dengan analogi. Begitu selesai, Myra
menoleh ke arah Opik. “Tulisan lu juga kayak gitu, kan?” katanya. Opik
mengiyakan. Myra lalu menjelaskan bagaimana Dewi Lestari memberikan pesan
melalui tulisan yang beranalogi seperti yang juga dilakukan Opik. Dua-duanya
sukar dipahami. Namun setelah dibaca berulang kali, pembaca akan mengerti
tulisan Dewi Lestari karena analoginya menerangi pemahaman pembaca, bukan malah
mengaburkan. Kemudian Anas membacakan contoh prosa liris yang dia ambil dari
buku … dari buku … oh sial saya lupa! Tapi kalau nggak salah judulnya ada
burung-burungnya, ya? Rupanya mendengar karya Dewi Lestari membuat Mirna, si
titisan Narcissus, bersemangat untuk membacakan karya lamanya yang juga mengambil
bentuk prosa liris. Menyadari bahwa prosanya, prosa Opik, bahkan prosa Dewi
Lestari sama-sama tentang cinta, Mirna mengutarakan pendapatnya bahwa prosa
liris umumnya ditulis saat: a) ketika seseorang jatuh cinta; dan b) ketika seseorang
putus cinta. Saya jadi curiga sebetulnya Mirna masih punya stok prosa liris
tentang jatuh cinta yang tidak dibacakannya. “Tapi pas pertama kali si Opik nulisnya
tentang telat kuliah, kok!” sahut Erick. Dea lantas menyetujui. Menurutnya
prosa liris sebetulnya bisa tentang apa saja. Sebagai contoh, Dea membacakan
prosa liris tentang bagaimana sifat-sifat plastik keresek mengingatkannya
kepada Tuhan. Berhubung tidak ada di antara kami yang betul-betul tahu definisi
dari prosa liris, maka yang bisa kami lakukan adalah meraba-raba. Caranya?
Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menulis prosa liris-mu sendiri. Mirna
menginstruksikan, tulis sesuatu sedang dirasakan, dan cobalah menggunakan
analogi-analogi dalam penyampaiannya, waktu yang diberikan lima belas menit. Di
tengah-tengah penulisan, saya tersadar bahwa tulisan saya terlalu absurd untuk dibacakan pada pertemuan
ini. Tidak kehabisan akal, saya membuka-buka catatan harian saya sebelum tidur.
Saya memilih secara acak paragraf yang kiranya menyerempet prosa liris, dan
mengeditnya agar pantas dibaca. Ketika sesi membacakan dimulai, saya sedikit
minder dengan tulisan teman lain yang memang bagus. Myra, Anas, Ina, Uli, Opik,
Fadil, dan Devi bergantian mendapat komentar positif dari Dea, Mirna, atau
Erick. Dengan kurang percaya diri saya membacakan tulisan ini,
18 Mei 2008. Kadang-kadang,
barusan, saya mempertanyakan apa kegunaan dari menulis buku harian ini. Buat
apa menulis daftar tugas? Toh buku ini hanya dibuka setiap saya hendak tidur.
Dan kebanyakan hal yang saya tulis tidak lagi bermakna pada keesokan hari. Kadang-kadang
saya berpikir bahwa saya ini palsu. Bukan. Saya berpikir orang lain berpikir
bahwa saya palsu. Kelakuan saya semuanya palsu. Apakah memang begitu? Saya
melihat diri saya sendiri dalam wujud teman saya, sebut saja X. Dan saya rasa
dia palsu. Tadi saya mengecek profil friendster-nya
dan tampak palsu. Bagaimana bisa seseorang menyatakan bahwa dirinya menyukai semua
film Keanu Reeves seakan-akan ia telah menonton semua film Keanu Reeves.
Seakan film sejelek apapun akan jadi bagus asalkan dibintangi Keanu Reeves. Saya
melihat diri saya sendiri dalam diri X. Individu yang mengisi profil friendster-nya dengan segala aspek yang
dianggapnya keren. Seakan orang akan membacanya dan merasa terkesan. Ataukah
ini hanya dalam pikiran saya saja?
Ah, kalau salah biarin saja, pikir
saya setelah membacakan. Dibantai juga nggak apa-apa, kalau ditertawakan saya
malah bakal ikut senang. Tak disangka Mirna malah memberikan komplimen, “Ini
adalah tulisanmu yang paling bagus dari tulisan-tulisan yang lain. Sangat intense! Kamu sangat efektif dalam
menggunakan pengulangan-pengulangan.” Saya pun terbengong tidak percaya. Dodol!
Yang benar saja? Bagaimana mungkin tulisan asal yang diambil dari catatan
sebelum tidur itu lebih bagus daripada tulisan yang dikonsep berminggu-minggu-siang-dan-malam?
Elu ngawur ah, Mir!
Kira-kira
begitulah jalannya pertemuan mingguan The
Circle kemarin. Maklumilah saya yang tak spesifik menuliskan setiap prosa
liris yang dibuat oleh para peserta. Bukan karena tak mau, melainkan kemarin
saya tak terpikir untuk mem-back up
ingatan lemah saya dengan membuat catatan kejadian. Jadi mungkin tulisan ini
kurang mewakili apa yang terjadi pada kemarin sore. Oh ya, saya sempat iseng
membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebelum menulis diary ini. Menurut KBBI definisi prosa
liris adalah … well teman-teman,
ternyata tidak ada definisi khusus tentang prosa liris di kamus ini. Alih-alih KBBI
mencantumkan prosa lirik, yang didefinisikan sebagai prosa berima. Jemari saya
lantas melompat mundur ke kurang lebih dua ratus halaman sebelumnya. Di sana
mata saya menemukan kata ‘liris’, sebuah kata sifat yang bermakna emosional; penuh
perasaan. Maka dapat dikatakan prosa liris merupakan prosa yang emosional,
prosa yang penuh perasaan. Yea, betapa lebarnya pintu interpretasi terbuka
untuk definisi seperti ini.***
Saat Erick Tidak Hadir
7 Juni 08
Meskipun Erick tak
hadir (Erick=sang fasilitator), pertemuan Klab Nulis Reading Lights hari Sabtu ini tetap diadakan. Yang bertemu adalah
Dea, Anas, Opik, Ina, Nia, saya, dan Myra. Berhubung orang yang biasa
memberikan latihan menulis sedang berhalangan, kali ini kami tidak
melakukannya. Alih-alih, peserta yang membawa karya dipersilahkan membaca karya
tersebut untuk nantinya dikomentari oleh kami semua.
Peserta pertama
yang membaca karya adalah Dea. Jauh sebelum membacakan karyanya, ia sudah
berpromosi kepada kami: “Eh, tulisan gua agak pahit, nih!” Terang saja kami
semangat, apalagi kami terbiasa dengan karya Dea yang positif. Dan ketika gadis
itu selesai membacakan karya, kami pun mulai berkomentar. Rupanya karya yang
Dea bacakan adalah sebuah cerita yang sudah lama ada di dalam kepalanya.
Sambutannya positif: Myra menyukai tema yang disinggung dalam cerita Dea, Anas
suka dengan kalimat Dea yang pendek-pendek, kami semua bertanya tentang
serba-serbi cerita ini dan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Dea.
Bertolak dari antusiasme Myra terhadap Dea yang menulis cerita yang pahit, Anas
mengajukan sebuah pertanyaan menarik untuk kami semua: “Kalian lebih suka yang
mana, sad ending atau happy ending? Mana yang lebih menyentuh?”
Dea menjawab happy ending, Myra sad ending, saya lebih suka yang menggantung, kata Nia sad ending, Ina menolak menjawab dengan
mengatakan, “Nggak tahu.” Kami pun mendiskusikan alasan di balik jawaban
masing-masing. Dea berpendapat, sebetulnya sad
ending atau happy ending bisa
sama-sama menyentuh tergantung dari isi cerita, namun ia juga sadar
kecenderungan para penulis/sastrawan menulis cerita yang sad ending karena mereka mengutamakan realitas dan harus diakui
sekalipun real tapi happy ending is too good to be true. Myra setuju, ia menceritakan pengalamannya
ketika dulu ia menyukai sebuah buku berakhiran happy. Semakin lama Myra mendapati dirinya ill feel dengan buku itu,
ia mendapati bahwa kenyataan tidak se-happy
yang ada di buku. Myra merasa sebal karena ia merasa seharusnya buku tersebut
menggambarkan realita yang dalam pandangan Myra sad ending. Anas menyampaikan teori menarik tentang bagaimana
manusia berasal dari tanah (materi) dan kesedihan manusia bermuara dari
lepasnya hal-hal yang bersifat materi dari kendali manusia. Saya mengangguk,
saya lalu menceritakan bagaimana ketika kehilangan dompet tiba-tiba saya
mendapati diri saya berucap, “Ya Allah, ya Allah,” lalu tiba-tiba saya
marah-marah sendiri, “Apaan sih kamu? Malu-maluin saja. Baru kehilangan dompet
sudah nyebut-nyebut Allah. Biasanya juga nggak.” Myra memberikan pendapat yang
menguatkan teori tersebut, katanya bahkan untuk mendekat kepada Tuhan pun
manusia berada dalam kesedihan, dengan beribadah sebetulnya manusia kehilangan
materinya, katakanlah yang paling sederhana: kehilangan waktunya. Pertanyaan
yang mengemuka adalah: Lantas bagaimana dengan orang yang merasa senang justru
saat beribadah? Dea memberi tanggapan dengan menceritakan bahwa dalam keadaan
senang pun ia merasa dekat dengan Tuhan. Ketika melihat kupu-kupu, Dea merasa
bahagia. Ia merasa Tuhan juga melihat kupu-kupu bersamanya, ia merasa Tuhan
memperlihatkannya kupu-kupu. Begitupun ketika senyumnya dibalas orang lain. "Apakah itu bersifat materi?" tanya Dea. "Tidak," jawab
Anas.
Kami end up melanjutkan obrolan tentang
kebahagiaan dan kesedihan ini sampai kurang lebih satu jam berikutnya. Myra
mengemukakan bahwa ia selalu bersiap diri dalam menyambut kesedihan, dan
menerima kegembiraan dengan tanpa persiapan, saya jadi bertanya-tanya, “Kenapa
lu nggak menyambut kegembiraan dengan persiapan juga? Sekarang dengan elu yang
menyambut kesedihan dengan persiapan, bagaimana kalau nantinya lu malah nggak
bisa merasakan kegembiraan? Bagaimana kalau kegembiraan itu nggak akan pernah
muncul lagi karena nggak pernah diappreciate
dengan persiapan?” Nia menanggapi, “Cara Myra menghadapi kebahagiaan memang
begitu. Dengan kesedihan, ia justru merasakan kebahagiaan.” Pada akhirnya saya
sampai pada kesimpulan bahwa seseorang menyikapi kebahagiaan dan kesedihan
dengan caranya masing-masing/berpulang kepada diri masing-masing. Dea bilang
mungkin ini perbedaan cara pandang orang-orang terhadap mana yang kebahagiaan
dan mana yang kesedihan. Namun ketika menulis diary ini saya jadi kepikiran semuanya memang berpulang kepada diri
kita masing-masing, tetapi bukankah dialog berperan penting dalam menumbuhkan
rasa saling pengertian? Kalau sudah saling mengerti, maka akan tumbuh rasa
saling menghormati. Toh pertanyaan yang terlontar tidak bertujuan untuk
memojokkan atau mengintrusi otonomi orang lain, tetapi untuk memenuhi rasa
penasaran. Kalaupun pertanyaan saya terdengar seperti memojokkan, maksudnya sih
tidak begitu. Mungkin karena bersemangat, intonasinya jadi agak naik begitu.
Lalu Opik datang
di tengah pertemuan. Ia pun membacakan karyanya. Seperti biasa karya Opik
menggambarkan realitasnya dengan metafora-metaforanya. Masukan dari Myra: agar
tulisan Opik bisa dimengerti oleh lebih banyak orang, ada baiknya ia
menggunakan metafora yang punya asosiasi khusus dengan hal yang dimetaforakan.
Saya menambahkan, kalau di dalam tulisan menggunakan metafora sebaiknya ada
semacam penjelasan kenapa metafora itu digunakan, jadi pembaca memahami amanat
dari si pengarang. Nia membandingkan
tulisan Opik dengan Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dua-duanya
susah dibaca karena terlalu padat. Nia juga menceritakan kepada Opik langkah
Dewi Lestari di karya-karya selanjutnya, yaitu menyederhanakan penuturannya.
Nia lalu
membacakan karyanya yang memakai tiga sudut pandang. Anak muda, ayah yang juga
dokter, dan seorang istri. Tulisan Nia ini disukai Opik. Myra bilang ia pernah
membuat cerita yang mengalir dari sudut-sudut pandang yang berbeda juga. Saya
suka cerita ini, tapi saya agak terganggu dengan Nia yang mencantumkan nama beberapa
band seperti Radiohead, Bjork, Echobelly, dll, secara sekaligus untuk memberi clue bahwa si tokoh merupakan anak
muda. Kelemahan dari cara ini adalah
apabila seseorang merasa asing dengan nama-nama band tersebut maka clue dari Nia tidak akan tertangkap oleh
mereka. Saya menyarankan Nia memilih satu lagu dari satu artis, untuk
dituliskan liriknya. Contoh, lirik lagunya Bjork yang Triumph of a Heart . Kalau pembaca mengenali Bjork, tentunya ia
tahu bahwa Triumph of a Heart adalah
lagu yang joget banget, sangat anak muda. Kalaupun pembaca tidak mengenali
Bjork, maka dari lirik semacam:
Smooth soft red
velvety lungs
Are pushing a
network of oxygen joyfully
Through a nose,
through a mouth
But all enjoys,
which brings us to
The triumph of a
heart that gives all
That gives all
Akan memberikan
gambaran bahwa lagu yang disukai si tokoh memang benar-benar riang. Keriangan
khas anak muda yang tidak ingin dianggap terlalu riang sehingga ia mendengarkan
Bjork yang dianggapnya aneh dan tidak terlalu riang secara eksplisit. Atau
barangkali lu punya pendapat lain, Ni?
Terakhir Myra
membacakan karya temannya yang ikut knitting
club. Temannya itu menuliskan sebundel kumpulan cerpen, tapi yang dibacakan
Myra yang banyak kata bunuh-bunuhnya, hahaha.
Beberapa saat
setelah adzan maghrib berkumandang, Klab Nulis bubar teratur. Klab Nulis tanpa
latihan menulis ternyata sangat enjoyable
juga. Kami jadi mengobrol dan bertukar pikiran, komentar, sampai pengalaman
masing-masing dalam skala yang lebih luas, sampai-sampai saya tidak mampu menuliskan
semuanya dalam diary ini. Tanpa fasilitator, Klab Nulis menjadi berbeda dari Klab Nulis-Klab Nulis biasanya. In a good way.***
Hari Libur Terakhir, Saya Pun Menulis Diary
1 Juni 08
“Menulis fanfic melatih kita untuk lebih memahami
karakter dan alam (setting) dalam
cerita yang kita suka.” Begitu kira-kira perkataan Erick, fasilitator Klab
Nulis Reading Lights, pada pertemuan
mingguan hari Sabtu kemarin yang juga dihadiri oleh Aji, Myra, Uli, Alexandra the newcomer, saya, dan Anas.
Fanfic sendiri
merupakan karya fiksi berdasarkan buku, film, acara televisi, atau media
lainnya, yang dibuat oleh penggemar buku, film, acara televisi, atau media
lainnya tersebut. Maksudnya dalam membuat fanfic,
si penulis menggunakan setting,
penokohan, maupun alur dari karya yang disukainya. Ditunjang dengan
perkembangan teknologi internet, saat ini semakin banyak saja orang yang
menulis fanfic—klik deh
fanfiction.net. Semakin populer suatu karya, maka akan semakin banyak juga
penggemar yang menulis fanfic
berdasarkan karya tersebut.
Kira-kira bertolak
dari pemikiran tersebut, tantangan bagi peserta Klab Nulis kemarin adalah
membuat sebuah fanfic. Pertama-tama,
semua diinstruksikan untuk menulis karakter, setting, dan lain-lain dari buku,
film, atau serial televisi yang kami suka. Contoh: Harry, Ron, Hermione, setting Hogwarts. Walaupun begitu fanfic sebetulnya cukup fleksibel,
dengan menggunakan tokoh-tokoh yang sama dengan serial Harry Potter setting fanfic bisa dipindah, katakan
dari Hogwarts ke Tokyo. Atau setting-nya
tetap Hogwarts tetapi karakternya diganti Julian, Dick, George, Annie, dan
Timmy. Dipilih mana yang lebih merangsang imajinasi, lah. Lalu tulislah fanfic-nya!
Terakhir, kami
membacakan fanfic masing-masing.
Semua peserta muncul dengan karakter-karakternya yang khas: tulisan Myra
berdasarkan Veronica Decides to Die
karya Paolo Coelho, apabila di buku Paolo Coelho Veronica-nya hidup, di fanfic Myra Veronicanya mati dan menjadi
jahat; folk tale lelaki peniup
seruling pengusir tikus mempengaruhi fanfic
Uli; Alexandra menulis bagian
cerita dari Sandman-nya Neil Geiman
yang menurutnya kurang terjabarkan; saya menggunakan karakter
kakak-adik-benci-tapi-rindu, Vera dan Nadejda, dari novel A Short History of Tractors in Ukrainian; fanfic Anas berdasarkan film Swiss yang berjudul Vitus—ia mengubah settingnya jadi di Indonesia; tulisan Erick terinspirasi film Ada Apa dengan Cinta? dengan plot Rangga
yang tak jadi pulang disertai penampilan cameo
dari Cinta Laura; Aji menutupnya
dengan membacakan cerita yang surprisingly
orisinal tentang pertemuan Lucky Luke dengan The Beatles!
Kalau
dipikir-pikir, berdasarkan pengalaman kemarin, ternyata menulis fanfic nggak hanya membuat kami belajar
tentang unsur-unsur karya favorit masing-masing. Kami pun jadi semakin
mengenali karakter tulisan kami sendiri, toh meskipun menulis fanfic kami masih tetap lekat dengan ciri
khas penulisan masing-masing, ya kan?
Resensi Yang Ditolak
June 1, 2008, 6:50 am
Filed under:
Film

Judul Film: The
Crime of Padre Amaro
Pemain : Gael
Garcia Bernal, Ana Claudia Talancón, Sancho Gracia
The Crime of Padre Amaro (TCOPA)
bercerita tentang Padre Amaro (Gael Garcia Bernal), seorang pastor muda yang
tugas pertamanya adalah melayani gereja di Los Reyes, sebuah kota kecil di
Meksiko. Belum lama menjalani masa tugas, keimanan Padre Amaro sudah mendapatkan
ujian dari Amelia (Ana Claudia Talancón), seorang ABG cantik yang
pintar merayu. Padre Amaro juga mendapati bahwa seniornya, Padre Benito (Sancho
Gracia), diam-diam akrab dengan tuan kecil setempat. Seakan itu belum cukup,
hubungan gelap Padre Benito dan ibu Amelia pun terendus olehnya. Bertolak dari
situasi seperti ini, Padre Amaro membuat keputusan yang nantinya akan ia sesali.
Saat masih kecil
saya dan para pembantu keluarga kerap menonton sebuah telenovela, judulnya
Maria Mercedes. Semua terkagum dengan warna-warni telenovela ini: Maria
Mercedes-Jorge Luis Del Olmo yang beautiful,
kemegahan rumah keluarga Del Olmo, sampai kelakuan menggemaskan tokoh
antagonis, Malvina Del Olmo. Kami merasa dekat dengan kebudayaan Latin,
terutama nilai religi dan kekeluargaannya. Semakin besar, bersekolah membuat
saya tak bisa lagi menonton Maria
Mercedes yang ditayangkan pagi-pagi. Meskipun begitu kenangan menyenangkan tentang
telenovela membuat saya berasumsi baik kepada film-film Amerika Latin, termasuk
TCOPA.
TCOPA diadaptasi
bebas dari novel O Crime Do Padre Amaro
(1875), karya penulis Portugis José Maria Eça de Queirós. Dengan tema yang mengritik gereja
katolik, film produksi Meksiko ini sempat menuai kontroversi saat masyarakat katolik
di sana berupaya agar pemerintah mencekal film ini. Namun upaya itu gagal dan film
arahan Carlos Carrera ini menjadi box
office hit di Meksiko. Tidak tanggung-tanggung,
TCOPA sukses menembus nominasi Academy Award dan Golden Globe Award tahun 2002 kategori
Film Berbahasa Asing Terbaik. Apakah TCOPA memang sebaik itu?
Saya menemukan
hal-hal familiar yang menyenangkan saat menonton TCOPA: kehangatan budaya
Latin, kekentalan kehidupan beragama, dan yang terpenting ada unsur melodrama
yang kuat dalam film ini—peringatan bagi para pembenci telenovela. Saya juga menikmati
akting Gael Garcia Bernal yang memerankan pastor muda yang mendapat pelajaran
dari pengalaman. Adapun hal yang menurut saya mengganggu, TCOPA mengritik
gereja katolik dengan searah. Dalam film ini tak sekalipun gereja katolik
diberi kesempatan membela diri. Padahal bukankah kritik yang baik membuka
interaksi? Selain itu saya menikmati menonton film ini. TCOPA cukup berhasil
menjaga prasangka baik saya pada film-film Amerika Latin.