futualblog


ProsA liRIS, je t’aime
June 15, 2008, 8:37 am
Filed under: Diary Klab Nulis

15 Jun. 08

 
Banyak juga anak-anak
Reading Lights Writer’s Circle in Indonesian yang hadir pada kemarin sore. Ada
Mirna, Devi the newcomer, Uli, Anas,
Opik, Dea, Erick, Farida, Myra, Fadil, Wahyu the missing child, saya, dan Ina. Tiga belas orang! Padahal kali
ini kami membahas sesuatu yang menurut saya agak berat: prosa liris. Kebayang
dong bagaimana sesaknya smoking area
toko buku Reading Lights yang memang
bukan untuk tiga belas orang. Akhirnya kami hijrah ke lantai atas yang jauh
lebih luas. Tikar digelar, bantal dibagi, makanan dipindahkan, pertemuan pun
dilanjutkan.

 
Awal cerita
bagaimana prosa liris terpilih jadi tema pertemuan The Circle minggu ini terjadi pada minggu lalu. Paska Opik
membacakan tulisan yang ambigu itu, Myra berkomentar ada baiknya Opik
menggunakan metafora yang punya asosiasi khusus dengan hal yang dimetaforakan
(lihat posting minggu lalu).  Sebagai
contoh, Myra menjanjikan akan membacakan sebuah prosa liris karya Dewi Lestari
yang diambil dari buku Filosofi Kopi. Kata mahasiswi Sastra Inggris Universitas
Padjadjaran angkatan 2004 itu, karya Opik mirip tulisan Dewi Lestari, agak-agak
prosa liris. Dengan demikian, ditetapkanlah prosa liris sebagai tema pertemuan
untuk minggu ini.

 
Diskusi tentang
prosa liris kemarin dibuka dengan Myra yang membacakan Surat Yang Tak Pernah
Sampai karya Dewi Lestari yang sarat dengan analogi. Begitu selesai, Myra
menoleh ke arah Opik. “Tulisan lu juga kayak gitu, kan?” katanya. Opik
mengiyakan. Myra lalu menjelaskan bagaimana Dewi Lestari memberikan pesan
melalui tulisan yang beranalogi seperti yang juga dilakukan Opik. Dua-duanya
sukar dipahami. Namun setelah dibaca berulang kali, pembaca akan mengerti
tulisan Dewi Lestari karena analoginya menerangi pemahaman pembaca, bukan malah
mengaburkan. Kemudian Anas membacakan contoh prosa liris yang dia ambil dari
buku … dari buku … oh sial saya lupa! Tapi kalau nggak salah judulnya ada
burung-burungnya, ya? Rupanya mendengar karya Dewi Lestari membuat Mirna, si
titisan Narcissus, bersemangat untuk membacakan karya lamanya yang juga mengambil
bentuk prosa liris. Menyadari bahwa prosanya, prosa Opik, bahkan prosa Dewi
Lestari sama-sama tentang cinta, Mirna mengutarakan pendapatnya bahwa prosa
liris umumnya ditulis saat: a) ketika seseorang jatuh cinta; dan b) ketika seseorang
putus cinta. Saya jadi curiga sebetulnya Mirna masih punya stok prosa liris
tentang jatuh cinta yang tidak dibacakannya.  “Tapi pas pertama kali si Opik nulisnya
tentang telat kuliah, kok!” sahut Erick. Dea lantas menyetujui. Menurutnya
prosa liris sebetulnya bisa tentang apa saja. Sebagai contoh, Dea membacakan
prosa liris tentang bagaimana sifat-sifat plastik keresek mengingatkannya
kepada Tuhan. Berhubung tidak ada di antara kami yang betul-betul tahu definisi
dari prosa liris, maka yang bisa kami lakukan adalah meraba-raba. Caranya?
Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menulis prosa liris-mu sendiri. Mirna
menginstruksikan, tulis sesuatu sedang dirasakan, dan cobalah menggunakan
analogi-analogi dalam penyampaiannya, waktu yang diberikan lima belas menit. Di
tengah-tengah penulisan, saya tersadar bahwa tulisan saya terlalu absurd untuk dibacakan pada pertemuan
ini. Tidak kehabisan akal, saya membuka-buka catatan harian saya sebelum tidur.
Saya memilih secara acak paragraf yang kiranya menyerempet prosa liris, dan
mengeditnya agar pantas dibaca. Ketika sesi membacakan dimulai, saya sedikit
minder dengan tulisan teman lain yang memang bagus. Myra, Anas, Ina, Uli, Opik,
Fadil, dan Devi bergantian mendapat komentar positif dari Dea, Mirna, atau
Erick. Dengan kurang percaya diri saya membacakan tulisan ini,

 
18 Mei 2008. Kadang-kadang,
barusan, saya mempertanyakan apa kegunaan dari menulis buku harian ini. Buat
apa menulis daftar tugas? Toh buku ini hanya dibuka setiap saya hendak tidur.
Dan kebanyakan hal yang saya tulis tidak lagi bermakna pada keesokan hari. Kadang-kadang
saya berpikir bahwa saya ini palsu. Bukan. Saya berpikir orang lain berpikir
bahwa saya palsu. Kelakuan saya semuanya palsu. Apakah memang begitu? Saya
melihat diri saya sendiri dalam wujud teman saya, sebut saja X. Dan saya rasa
dia palsu. Tadi saya mengecek profil friendster-nya
dan tampak palsu. Bagaimana bisa seseorang menyatakan bahwa dirinya menyukai semua
film Keanu Reeves seakan-akan ia telah menonton semua film Keanu Reeves.
Seakan film sejelek apapun akan jadi bagus asalkan dibintangi Keanu Reeves. Saya
melihat diri saya sendiri dalam diri X. Individu yang mengisi profil friendster-nya dengan segala aspek yang
dianggapnya keren. Seakan orang akan membacanya dan merasa terkesan. Ataukah
ini hanya dalam pikiran saya saja?

 
Ah, kalau salah biarin saja, pikir
saya setelah membacakan. Dibantai juga nggak apa-apa, kalau ditertawakan saya
malah bakal ikut senang. Tak disangka Mirna malah memberikan komplimen, “Ini
adalah tulisanmu yang paling bagus dari tulisan-tulisan yang lain. Sangat intense! Kamu sangat efektif dalam
menggunakan pengulangan-pengulangan.” Saya pun terbengong tidak percaya. Dodol!
Yang benar saja? Bagaimana mungkin tulisan asal yang diambil dari catatan
sebelum tidur itu lebih bagus daripada tulisan yang dikonsep berminggu-minggu-siang-dan-malam?
Elu ngawur ah, Mir!

 
Kira-kira
begitulah jalannya pertemuan mingguan The
Circle
kemarin. Maklumilah saya yang tak spesifik menuliskan setiap prosa
liris yang dibuat oleh para peserta. Bukan karena tak mau, melainkan kemarin
saya tak terpikir untuk mem-back up
ingatan lemah saya dengan membuat catatan kejadian. Jadi mungkin tulisan ini
kurang mewakili apa yang terjadi pada kemarin sore. Oh ya, saya sempat iseng
membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebelum menulis diary ini. Menurut KBBI definisi prosa
liris adalah … well teman-teman,
ternyata tidak ada definisi khusus tentang prosa liris di kamus ini. Alih-alih KBBI
mencantumkan prosa lirik, yang didefinisikan sebagai prosa berima. Jemari saya
lantas melompat mundur ke kurang lebih dua ratus halaman sebelumnya. Di sana
mata saya menemukan kata ‘liris’, sebuah kata sifat yang bermakna emosional; penuh
perasaan. Maka dapat dikatakan prosa liris merupakan prosa yang emosional,
prosa yang penuh perasaan. Yea, betapa lebarnya pintu interpretasi terbuka
untuk definisi  seperti ini.***




1 Comment so far
Leave a comment

kalo boleh saya minta informasi tentang prosa liris ini,mengenai pengertian dan jenis jenisnya,sebelumnya saya ucapkan terima kasih sebanyak banyaknya buat penulis atas kebaikan hatinya meluangkan waktu untuk membaca comment saya ini.

   heri 11.27.08 @ 1:56 am



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>