futualblog


Saat Erick Tidak Hadir
June 8, 2008, 7:44 am
Filed under: Diary Klab Nulis

7 Juni 08

 
Meskipun Erick tak
hadir (Erick=sang fasilitator), pertemuan Klab Nulis Reading Lights hari Sabtu ini tetap diadakan. Yang bertemu adalah
Dea, Anas, Opik, Ina, Nia, saya, dan Myra. Berhubung orang yang biasa
memberikan latihan menulis sedang berhalangan, kali ini kami tidak
melakukannya. Alih-alih, peserta yang membawa karya dipersilahkan membaca karya
tersebut untuk nantinya dikomentari oleh kami semua.

 
Peserta pertama
yang membaca karya adalah Dea. Jauh sebelum membacakan karyanya, ia sudah
berpromosi kepada kami: “Eh, tulisan gua agak pahit, nih!” Terang saja kami
semangat, apalagi kami terbiasa dengan karya Dea yang positif. Dan ketika gadis
itu selesai membacakan karya, kami pun mulai berkomentar. Rupanya karya yang
Dea bacakan adalah sebuah cerita yang sudah lama ada di dalam kepalanya.
Sambutannya positif: Myra menyukai tema yang disinggung dalam cerita Dea, Anas
suka dengan kalimat Dea yang pendek-pendek, kami semua bertanya tentang
serba-serbi cerita ini dan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Dea.
Bertolak dari antusiasme Myra terhadap Dea yang menulis cerita yang pahit, Anas
mengajukan sebuah pertanyaan menarik untuk kami semua: “Kalian lebih suka yang
mana, sad ending atau happy ending? Mana yang lebih menyentuh?”

 
Dea menjawab happy ending, Myra sad ending, saya lebih suka yang menggantung, kata Nia sad ending, Ina menolak menjawab dengan
mengatakan, “Nggak tahu.” Kami pun mendiskusikan alasan di balik jawaban
masing-masing. Dea berpendapat, sebetulnya sad
ending
atau happy ending bisa
sama-sama menyentuh tergantung dari isi cerita, namun ia juga sadar
kecenderungan para penulis/sastrawan menulis cerita yang sad ending karena mereka mengutamakan realitas dan harus diakui
sekalipun real tapi happy ending is too good to be true. Myra setuju, ia menceritakan pengalamannya
ketika dulu ia menyukai sebuah buku berakhiran happy. Semakin lama Myra mendapati dirinya ill feel dengan buku itu,
ia mendapati bahwa kenyataan tidak se-happy
yang ada di buku. Myra merasa sebal karena ia merasa seharusnya buku tersebut
menggambarkan realita yang dalam pandangan Myra sad ending. Anas menyampaikan teori menarik tentang bagaimana
manusia berasal dari tanah (materi) dan kesedihan manusia bermuara dari
lepasnya hal-hal yang bersifat materi dari kendali manusia. Saya mengangguk,
saya lalu menceritakan bagaimana ketika kehilangan dompet tiba-tiba saya
mendapati diri saya berucap, “Ya Allah, ya Allah,” lalu tiba-tiba saya
marah-marah sendiri, “Apaan sih kamu? Malu-maluin saja. Baru kehilangan dompet
sudah nyebut-nyebut Allah. Biasanya juga nggak.” Myra memberikan pendapat yang
menguatkan teori tersebut, katanya bahkan untuk mendekat kepada Tuhan pun
manusia berada dalam kesedihan, dengan beribadah sebetulnya manusia kehilangan
materinya, katakanlah yang paling sederhana: kehilangan waktunya. Pertanyaan
yang mengemuka adalah: Lantas bagaimana dengan orang yang merasa senang justru
saat beribadah? Dea memberi tanggapan dengan menceritakan bahwa dalam keadaan
senang pun ia merasa dekat dengan Tuhan. Ketika melihat kupu-kupu, Dea merasa
bahagia. Ia merasa Tuhan juga melihat kupu-kupu bersamanya, ia merasa Tuhan
memperlihatkannya kupu-kupu. Begitupun ketika senyumnya dibalas orang lain. "Apakah itu bersifat materi?" tanya Dea. "Tidak," jawab
Anas.

 
Kami end up melanjutkan obrolan tentang
kebahagiaan dan kesedihan ini sampai kurang lebih satu jam berikutnya. Myra
mengemukakan bahwa ia selalu bersiap diri dalam menyambut kesedihan, dan
menerima kegembiraan dengan tanpa persiapan, saya jadi bertanya-tanya, “Kenapa
lu nggak menyambut kegembiraan dengan persiapan juga? Sekarang dengan elu yang
menyambut kesedihan dengan persiapan, bagaimana kalau nantinya lu malah nggak
bisa merasakan kegembiraan? Bagaimana kalau kegembiraan itu nggak akan pernah
muncul lagi karena nggak pernah diappreciate
dengan persiapan?” Nia menanggapi, “Cara Myra menghadapi kebahagiaan memang
begitu. Dengan kesedihan, ia justru merasakan kebahagiaan.” Pada akhirnya saya
sampai pada kesimpulan bahwa seseorang menyikapi kebahagiaan dan kesedihan
dengan caranya masing-masing/berpulang kepada diri masing-masing. Dea bilang
mungkin ini perbedaan cara pandang orang-orang terhadap mana yang kebahagiaan
dan mana yang kesedihan. Namun ketika menulis diary ini saya jadi kepikiran semuanya memang berpulang kepada diri
kita masing-masing, tetapi bukankah dialog berperan penting dalam menumbuhkan
rasa saling pengertian? Kalau sudah saling mengerti, maka akan tumbuh rasa
saling menghormati. Toh pertanyaan yang terlontar tidak bertujuan untuk
memojokkan atau mengintrusi otonomi orang lain, tetapi untuk memenuhi rasa
penasaran. Kalaupun pertanyaan saya terdengar seperti memojokkan, maksudnya sih
tidak begitu. Mungkin karena bersemangat, intonasinya jadi agak naik begitu.

 
Lalu Opik datang
di tengah pertemuan. Ia pun membacakan karyanya. Seperti biasa karya Opik
menggambarkan realitasnya dengan metafora-metaforanya. Masukan dari Myra: agar
tulisan Opik bisa dimengerti oleh lebih banyak orang, ada baiknya ia
menggunakan metafora yang punya asosiasi khusus dengan hal yang dimetaforakan.
Saya menambahkan, kalau di dalam tulisan menggunakan metafora sebaiknya ada
semacam penjelasan kenapa metafora itu digunakan, jadi pembaca memahami amanat
dari si pengarang. Nia membandingkan
tulisan Opik dengan Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dua-duanya
susah dibaca karena terlalu padat. Nia juga menceritakan kepada Opik langkah
Dewi Lestari di karya-karya selanjutnya, yaitu menyederhanakan penuturannya.

 
Nia lalu
membacakan karyanya yang memakai tiga sudut pandang. Anak muda, ayah yang juga
dokter, dan seorang istri. Tulisan Nia ini disukai Opik. Myra bilang ia pernah
membuat cerita yang mengalir dari sudut-sudut pandang yang berbeda juga. Saya
suka cerita ini, tapi saya agak terganggu dengan Nia yang mencantumkan nama beberapa
band seperti Radiohead, Bjork, Echobelly, dll, secara sekaligus untuk memberi clue bahwa si tokoh merupakan anak
muda. Kelemahan dari cara ini adalah
apabila seseorang merasa asing dengan nama-nama band tersebut maka clue dari Nia tidak akan tertangkap oleh
mereka. Saya menyarankan Nia memilih satu lagu dari satu artis, untuk
dituliskan liriknya. Contoh, lirik lagunya Bjork yang Triumph of a Heart . Kalau pembaca mengenali Bjork, tentunya ia
tahu bahwa Triumph of a Heart adalah
lagu yang joget banget, sangat anak muda. Kalaupun pembaca tidak mengenali
Bjork, maka dari lirik semacam:

Smooth soft red
velvety lungs
Are pushing a
network of oxygen joyfully
Through a nose,
through a mouth
But all enjoys,
which brings us to
The triumph of a
heart that gives all
That gives all

Akan memberikan
gambaran bahwa lagu yang disukai si tokoh memang benar-benar riang. Keriangan
khas anak muda yang tidak ingin dianggap terlalu riang sehingga ia mendengarkan
Bjork yang dianggapnya aneh dan tidak terlalu riang secara eksplisit. Atau
barangkali lu punya pendapat lain, Ni?

 
Terakhir Myra
membacakan karya temannya yang ikut knitting
club
. Temannya itu menuliskan sebundel kumpulan cerpen, tapi yang dibacakan
Myra yang banyak kata bunuh-bunuhnya, hahaha.

 
Beberapa saat
setelah adzan maghrib berkumandang, Klab Nulis bubar teratur. Klab Nulis tanpa
latihan menulis ternyata sangat enjoyable
juga. Kami jadi mengobrol dan bertukar pikiran, komentar, sampai pengalaman
masing-masing dalam skala yang lebih luas, sampai-sampai saya tidak mampu menuliskan
semuanya dalam diary ini. Tanpa fasilitator, Klab Nulis menjadi berbeda dari Klab Nulis-Klab Nulis biasanya. In a good way.***




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>