Filed under: Diary Klab Nulis
20 Juni 08
Setiap sebulan
sekali, Reading Lights Writer’s Circle in
Indonesian melakukan acara nonton bersama. Jika There Will Be Blood merupakan film yang sama-sama ditonton terakhir,
maka kali ini filmnya adalah Persepolis,
sebuah film yang diangkat dari novel grafis otobiografi berjudul sama karya
Marjane Sartrapi.
Persepolis adalah film
pilihan Erick. Selain film ini, sebetulnya putra dari aktor Robert Syarif ini
juga membawa alternatif film lain, judulnya Pom
Poko. Persepolis akhirnya jadi
pilihan Erick untuk ditonton bersama karena ia juga belum menonton film ini. Selain
Erick, adapun yang pada sore hari kemarin sama-sama belum menonton Persepolis adalah Uli, Fadil, Alexandra,
Zia, Opik, Selvi, Wahyu, saya, dan Myra—dengan kata lain ini merupakan
pengalaman pertama bagi kami semua. Sayang Dea sedang nggak ada, padahal dia
suka dengan versi komiknya.
Kopi Persepolis yang kemarin diputar didapatkan
Erick dengan mengunduh dari internet. “Nggak apa-apa,” ujarnya ketika memasang
kabel yang menghubungkan laptop
dengan in-focus, “Film ini nggak
muncul-muncul di bioskop, dan lagi bajakan yang ada subtitle-nya nggak betul,
padahal ini pakai Bahasa Perancis.”
Lampu dimatikan,
film pun diputar. Berlatarbelakangkan perubahan situasi politik di Iran, Persepolis bercerita tentang proses
pencarian jati diri Marjane Sartrapi. Persepolis sendiri merupakan nama ibukota
Iran sebelum berganti menjadi Teheran. Pergantian kekuasaan bisa jadi
menyebabkan pergantian nama tempat, contoh: Irian Jaya -> Papua, Leningard
-> St. Petersburg, dll. Persepolis
menggunakan plot yang bergerak mundur, yang membedakan antara masa kini dengan
masa lalu adalah warna. Apabila pada bagian masa lalu warnanya hitam putih, ada
warna lain di bagian masa kini. Film ini juga menggunakan narasi voice over.
Erick menyalakan
lampu pada bagian credit ends.
Seperti biasa ia menugakan kami untuk membuat tulisan, entah resensi atau
sekadar catatan tentang momen mana yang paling berkesan. Erick mengatakan
selain menyukai musiknya, dia juga memikirkan tentang berapa besar porsi
pengalaman pribadi yang dijadikan cerita komik, berapa besar porsi komik yang
dijadikan ke film, berapa besar bagian yang dikarang-karang untuk membuat film jadi
seru. Alexandra mengatakan ia harus membaca tentang Marjane Sartrapi sebelum
bisa berkomentar lebih jauh. Uli terkagum dengan jalan hidup Marjane. Saya suka
karena adaptasi ini setia dengan komiknya. Saya terkagum dengan film kartun
hitam putih. Sederhana tetapi tegas, walaupun kadang-kadang karakternya terasa
kurang menyatu dengan background.
Saya kepikiran perkataan Erick tentang porsi pengalaman pribadi yang dijadikan
ke komik dan jadi ingin berkomentar, “Katakanlah lu bikin graphic diary. Mestinya lu menggambar tentang kehidupan elu,
bukan kehidupan orang lain.” Hahaha!
Kebetulan sewaktu
menulis diary ini saya bertemu dengan
Selvi di Yahoo! Messenger. Tiba-tiba
saya terpikir membuat wawancara dadakan yang setelah diedit sedikit akan saya
jadikan penutup tulisan ini. Ngomong-ngomong, kemarin Erick bilang dua minggu
lagi, tanggal 5 Juli, programnya adalah belajar membuat resensi untuk seni rupa
jadi kumpulnya di Jendela Ide. Kepastiannya minggu depan, sih. Untuk ide film
buat acara nonton bareng bulan depan, saya mau mengajukan Me and You and Everyone We Know. Sepertinya saya harus mulai
berpromosi dari minggu depan untuk bisa menggolkan film ini.
Andika Budiman
(AB): Selvi, lagi sibuk nggak?
Selvi (S): Nggak.
Memangnya kenapa?
AB: Mau ngajak
ngobrol saja, saya lagi stuck bikin diary tentang acara nonton kemarin.
S: (Tertawa) Silakan
saja!
AB: Jadi
bagaimana pendapat kamu tentang Persepolis
bagus, nggak?
S: Bagus banget. Saya
tadi cari komiknya tapi nggak ketemu, di toko buku Gramedia nggak ada.
AB: Dalam versi
Indonesia judulnya bukan Persepolis, Sel.
Penerbitnya menggantinya jadi Revolusi Iran
Dongeng Seorang Anak. Tapi mungkin di Gramedia nggak ada juga, penerbitnya
Resist Book. Dulu saya beli di toko buku Togamas.
S: Oh pantesan.
(Tertawa) Pinjam, dong!
AB: Boleh.
Ngomong-ngomong bagian mana yang paling berkesan buat kamu?
S: Waktu Marjane,
si tokohnya, hidup sendiri tanpa keluarga setelah pergi dari Iran dan dia
sempet jadi gembel.
AB: Kalau
dipikir-pikir Marjane kan seumuran kamu waktu dia jadi gembel. Kamu jadi mau
ngegembel juga, ya?
S: (Tertawa) Iya.
Dia keren! Saya sih nggak bakal bisa kayak gitu.
AB: Jangan
pesimis begitu. Kita kan nggak pernah betul-betul tahu.
S: Iya, sih. Menurut
kamu?
AB: Saya sih
selalu berniat buat membuka diri pada setiap kesempatan yang ada.
S: Maksudnya?
AB: Jangan takut
dengan hal-hal baru. Apalagi kalau itu sesuai dengan apa yang kita yakini …
apa sih! Kalau saya berkesan banget dengan adegan waktu dia kembali lagi ke
Iran, waktu dia jadi depresi. Di Austria merasa jadi orang asing, kembali ke Iran
jadi orang asing lagi.
S: Iya yang itu.
Keren, sedih. Ending-nya terasa gimana gitu ….
AB: Kalau kamu
ada di posisi yang sama dengan Marjane: diselingkuhi pacar, dianggap orang
asing dll, apa yang kamu lakukan? Kamu bakal ngegembel juga atau bagaimana?
S: Saya bakal melakukan
hal yang sama, bakal jadi gembel!
AB: Kenapa?
S: Tapi kayaknya saya
bakal nggak kuat mental. Ngegembel kan gila (Tertawa).
AB: Yee, terus bagaimana
dong?
S: Saya mau jadi
gembel, tapi kayaknya saya nggak bakalan kuat kalau dikasih masalah yang segitu
banyak.
AB: Tapi kalo
masalahnya sudah ada?
S: Yah dijalanin
….
AB: Tergantung
kondisi, ya Sel?
S: Masalah kan
membuat kita jadi dewasa, bukan waktu.
AB: Iya, sih.
S: Kalau kamu
bagaimana?
AB: Saya
ngegembel juga. Perasaan saya pasti campur aduk kalau mengalami hal seperti
itu. Punya masalah kecil saja suka jadi stress-stress yang nggak penting.
S: Iya jadi aral!
Dan depresi mendadak.***
1 Comment so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Andika, baca blog kamu saya jadi aware sama kegiatan “klubbing”. Jadi kangen ikutan, karena kayaknya seru! Dan saya pun bertanya, apakah kalau saya hadir di sana akan juga merasakan keseruan yang sama, atau keseruan itu saya dapat karena saya baca blog kamu,pikiran kamu yang tentu aja berbeda sama saya dalam memaknai setiap pertemuan klub..=)
Neni 06.30.08 @ 6:49 pmWell, apa pun itu…keep writing gals…
let’s leave a trace through creative writing (ini kata2 yang saya tulis di skripsi–ucapan thanks–u kalian semua. Klarer bilang salah satu alasan manusia menulis adl krn mereka ingin meninggalkan “jejak”!)
Sukses…