Oleh-Oleh dari Jendela Ide
Sekilas
saya menemukan banyak hal ‘aman’ dalam lukisan Tiara: awan biru, burung-burung dua
garis lengkung, rumput hijau, kayu coklat, dan latar belakang yang putih polos
karena tidak diapa-apakan. Kesan pertama yang saya dapat adalah pelukisnya
merupakan anak kecil yang pretensius. Maksudnya dia terlalu banyak mengambil
langkah aman supaya lukisannya bisa dibilang bagus. Kaki ini ingin beranjak
sebelum kepala saya menegurnya, “Hei, bukannya kamu juga pretensius?”
Waktu
kecil ada banyak aturan yang muncul ketika guru saya memerintahkan muridnya
melukis. Jangan bikin kotor! Warnanya mesti rata! Jangan melampaui garis! Mewarnainya
mesti searah! Dan sebagainya. Dan
lain-lain. Lama-lama saya takut sendiri kalau-kalau sketsa saya kotor saat
diwarnai. Saya mulai membuat gambar-gambar yang aman untuk diwarnai—termasuk
dua gunung dan sebuah matahari di tengah-tengahnya. Saya teridentifikasi dengan
lukisan Tiara dan merasa kenal si pelukisnya secara personal. Saya suka Tiara
apa adanya, meskipun lukisannya terlalu aman.
Begitu
kenal dan suka, saya jadi betah memandangi lukisan ini lama-lama. Bahkan saya
mendadak tersadar ternyata Tiara tak sekadar berpegang pada yang ‘aman’, tetapi
juga bisa melakukan hal yang tidak biasa! Alih-alih mewarnai wajah anak
perempuan dalam lukisannya dengan warna kuning atau coklat muda, Tiara memilih
warna biru. Jemari si anak perempuan diwarnai hijau muda serasi dengan matanya.
Matahari pun berwarna merah. Tidak kalah keren Tiara memakaikan si anak perempuan
dalam gambar sweater leher kura-kura kuning yang kerahnya semerah celana
panjangnya.
Saya
sangat terwakili oleh lukisan ini, yang di satu sisi terlalu ‘aman’, tetapi di
sisi lain berusaha tetap orisinal. Bisa jadi jatuhnya kelihatan biasa saja. Seperti
orang-orang yang memandang saya biasa atau malah kurang penting. Barangkali ini
hanya sebentuk narsisme saya saja. Namun ingin rasanya memeluk lukisan ini dan
membawanya pulang.
Tulisan ini dibuat ketika Reading Lights Writer’s Circle mengadakan pertemuan mingguannya di Jendela Ide, Sabuga. Foto oleh Erick.
Reportase lengkap Myra dalam waktu dekat bisa dilihat di sini. <!– ckey="6DF48C85" –>
Huek, Resensi Yang Ditolak 2: Trip to the Wound
July 9, 2008, 12:22 am
Filed under:
Film

Judul film: Trip
to the Wound
Sutradara dan
Penulis skenario: Edwin
Penata Kamera:
Sidi Saleh
Pemain: Ladya
Cheryll, Carlo Genta Saputra
Dua kali saya
menonton Trip to the Wound.
Pengalaman pertama berlangsung di sebuah pertemuan penulis pemula yang rutin
saya kunjungi. Arief Ash-Shiddiq, fasilitatornya kala itu, tengah membuat
tulisan tentang film-film Edwin, sutradara Trip
to the Wound. Sambil membuat kerangka tulisannya, redaktur majalah Visual
Art itu menjelaskan pengaruh struktur bagi penyampaian makna cerita kepada
saya dan penulis pemula lainnya.
“Sekalipun
ceritanya rumit, kalau strukturnya jelas maka orang lain juga bisa paham,”
kurang lebih begitu kata Arief. Sebagai contoh ia lantas memutarkan A Very Slow Breakfast, Dajang Soembi, Kara, A Very Boring
Conversation, dan Trip to the Wound
secara berurutan. Kelar dua film diputar, Arief memperlihatkan adanya kesamaan
struktur antara keduanya yang bisa dijadikan petunjuk untuk memahami film
tersebut. Pertama, Edwin menggunakan ‘panggung’ dalam kedua film, panggung yang
dibuat begitu sempit sehingga karakter-karakternya terpaksa berinteraksi.
Kedua, Edwin memanfaatkan hal-hal teknis, seperti perubahan gerak kamera, tata
suara, pencahayaan, dsb, guna menekankan adegan-adegan yang dianggapnya
penting.
Ketika struktur
yang sama dan makin matang keluar pada film-film berikutnya, kami mulai bisa
meraba-raba apa yang sebenarnya ingin disampaikan sutradara. Kekaguman kami
memuncak pada A Very Boring Conversation
yang menjebak. Sayang kami gagal memecahkan makna Trip to the Wound. Arief sendiri saat itu bilang tak melihat adanya
gebrakan pada Trip to the Wound,
“Edwin udah membuat penonton jadi pengganggu di Kara. Penonton juga udah berburuk sangka di Boring Conversation. Mana yang baru?” Kami pun setuju tanpa banyak
perdebatan.
Berbulan-bulan
kemudian saya kembali menonton Trip to
the Wound. Kali ini pada pemutaran antologi 9808 di Selasar Sunaryo. Rupanya
film ini termasuk dalam sepuluh film pendek dalam 9808, sebuah antologi sepuluh tahun reformasi yang bertolak dari
peristiwa Mei 1998. Trip to the Wound
bercerita tentang seorang perempuan muda (Ladya Cheryll) yang berjumpa
laki-laki sebayanya (Carlo Genta Saputra) dalam sebuah perjalanan. Entah dari
mana si perempuan tahu ada bekas luka di bahu si laki-laki, mereka pun terlibat
dalam percakapan tentang luka. Seiring bergulirnya roda-roda bus, mereka tak
cuma terlibat dalam percakapan saja. Tiba-tiba lampu di kepala saya menyala.
Saya baru sadar ada satu lagi petunjuk yang tak didapatkan waktu pertama kali
menonton Trip to the Wound: latar
belakang film. Teka-teki makna film ini pun sedikit terkuak.
Saya teringat
pesan Arief, untuk memahami film Edwin perhatikan hal-hal teknis yang berubah.
Saat Edwin yang biasanya minim berdialog (kecuali A Very Boring Conversation)
tiba-tiba jadi cukup cerewet dalam Trip
to the Wound, penonton boleh percaya kalau dialognya memuat pesan penting.
Perubahan suasana kembali terasa ketika kamera menyorot para karakter dari
sela-sela bangku bus, membuat penonton mengalami sensasi mengintip. Dan memang
mengintip. Besar kemungkinan adegan ini juga salah satu kunci pemaknaan Trip to the Wound. Coba kaitkan dialog
dan adegan ‘mengintip’ tadi dengan peristiwa Mei 1998 yang merupakan titik
tolak pembuatan film ini. Apakah lampu di kepala Anda juga menyala?
Bagi saya Trip to the Wound bisa jadi merupakan
cerita tentang luka yang dalam. Luka yang sekalipun akan kering, namun bekas
lukanya tetap sulit dipercakapkan. Luka ini belum tentu dipahami semua orang,
meskipun si perempuan telah mencoba menunjukkannya. Meskipun Edwin telah
mencoba menunjukkannya. Percakapan soal
bekas luka berujung pada bagaimana luka terjadi dan tak semua orang ingin
kembali ke ingatan terburuknya.***
Gambar
dipinjam dari sini
Pindahan
8 Juli 08
Reading Lights Writer’s Circle Diary pindah ke blog
baru. Kali ini siapa saja bisa ikut menulis. Siapa saja bisa ikut berkomentar.
Enjoy!