futualblog


Oleh-Oleh dari Jendela Ide
July 13, 2008, 4:38 am
Filed under: Current Affairs

Jendela_ide_final


Sekilas
saya menemukan banyak hal ‘aman’ dalam lukisan Tiara: awan biru, burung-burung dua
garis lengkung, rumput hijau, kayu coklat, dan latar belakang yang putih polos
karena tidak diapa-apakan. Kesan pertama yang saya dapat adalah pelukisnya
merupakan anak kecil yang pretensius. Maksudnya dia terlalu banyak mengambil
langkah aman supaya lukisannya bisa dibilang bagus. Kaki ini ingin beranjak
sebelum kepala saya menegurnya, “Hei, bukannya kamu juga pretensius?”

 
Waktu
kecil ada banyak aturan yang muncul ketika guru saya memerintahkan muridnya
melukis. Jangan bikin kotor! Warnanya mesti rata! Jangan melampaui garis! Mewarnainya
mesti searah! Dan sebagainya. Dan
lain-lain. Lama-lama saya takut sendiri kalau-kalau sketsa saya kotor saat
diwarnai. Saya mulai membuat gambar-gambar yang aman untuk diwarnai—termasuk
dua gunung dan sebuah matahari di tengah-tengahnya. Saya teridentifikasi dengan
lukisan Tiara dan merasa kenal si pelukisnya secara personal. Saya suka Tiara
apa adanya, meskipun lukisannya terlalu aman.

 
Begitu
kenal dan suka, saya jadi betah memandangi lukisan ini lama-lama. Bahkan saya
mendadak tersadar ternyata Tiara tak sekadar berpegang pada yang ‘aman’, tetapi
juga bisa melakukan hal yang tidak biasa! Alih-alih mewarnai wajah anak
perempuan dalam lukisannya dengan warna kuning atau coklat muda, Tiara memilih
warna biru. Jemari si anak perempuan diwarnai hijau muda serasi dengan matanya.
Matahari pun berwarna merah. Tidak kalah keren Tiara memakaikan si anak perempuan
dalam gambar sweater leher kura-kura kuning yang kerahnya semerah celana
panjangnya.

 
Saya
sangat terwakili oleh lukisan ini, yang di satu sisi terlalu ‘aman’, tetapi di
sisi lain berusaha tetap orisinal. Bisa jadi jatuhnya kelihatan biasa saja. Seperti
orang-orang yang memandang saya biasa atau malah kurang penting. Barangkali ini
hanya sebentuk narsisme saya saja. Namun ingin rasanya memeluk lukisan ini dan
membawanya pulang.

 
Tulisan ini dibuat ketika Reading Lights Writer’s Circle mengadakan pertemuan mingguannya di Jendela Ide, Sabuga. Foto oleh Erick.
Reportase lengkap Myra dalam waktu dekat bisa dilihat di sini
.
<!– ckey="6DF48C85" –>




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>