Filed under: Film
Jarang saya bertemu film dengan latar belakang Hubungan Internasional yang sukses mencuri hati. Biasanya yang ditemukan adalah film-film berbau propaganda, biopik, spionase, atau teori konspirasi. Kesemuanya itu bukan tema favorit saya, apalagi kalau ending-nya depressing, disturbing, dan debatable. Dan lagi kalau tak ada amanat lain yang bisa diambil dari film-film tersebut selain, ‘Politik itu kotor’. Aduh!
Beruntung baru-baru ini saya menemukan dua film yang rasanya tidak termasuk dalam kategori ‘film politis yang biasa ditemukan’. Judulnya The Girl in the Cafe dan The Visitor. Menonton keduanya merupakan kejutan yang cukup menyenangkan dan membuat saya ingin membaginya. Oke, langsung saja:
The Girl in the Cafe (2005) disutradarai oleh David Yates (sutradara tiga film terakhir Harry Potter) dan skenarionya ditulis oleh Richard Curtis. Alkisah Lawrence (Bill Nighy, yang memerankan sisa rocker di Love Actually) adalah seorang staf ahli Konsulat Perdagangan Kerajaan Inggris. Ia hidup sendirian dan yang menjadi indikator dari seberapa buruk harinya adalah seberapa banyak ia menambahkan gula ke dalam tehnya. Pada suatu hari cafe penuh, dan Lawrence harus berbagi meja dengan seorang perempuan yang jauh lebih muda (dan cantik tentu saja) bernama Gina (Kelly McDonald). Ketika Lawrence mendapat tugas mendampingi menteri keuangan dalam G8 summit di Reykjavik, ia memberanikan diri untuk mengajak serta Gina. Tanpa banyak kata, Gina pun menyetujui.
Dengan munculnya nama Curtis sebagai penulis skenario, tentu saja saya berasumsi bahwa film ini bergenre komedi romantis seperti Notting Hill, Love Actually, Bridget Jones’s Diary, sampai Four Weddings and a Funeral. Dari sinopsis yang saya tulis pun kelihatannya seperti komedi romantis. Asumsi saya tetap terjaga nyaris hingga film selesai. Dan ketika muncul sebuah twist yang sukses membuka kedok film ini sebagai film yang lebih politis ketimbang romantis, saya tak sedikit pun kecewa. Ketika saya teliti lebih lanjut, ternyata film ini memang dibuat sebagai film televisi yang menjadi bagian dari kampanye besar Make Poverty History (Ingat ketika bintang-bintang papan atas Holywood tiba-tiba mengampanyekan ini dalam klip hitam-putih dalam siaran Metro TV?). Harus diakui memang agak ganjil bagi seorang Richard Curtis untuk menulis film serius yang diakhiri dengan kutipan dari Nelson Mandela (Film-filmnya memang suka menggunakan unsur politis, tetapi biasanya cuma untuk guyonan). Namun sekali lagi saya tidak kecewa. Mungkin The Girl in the Cafe agak berbau propaganda, tetapi propaganda itu hampir tidak terasa di mata.
Film kedua berjudul The Visitor (2008). Ditulis dan disutradarai oleh Thomas McCarthy, yang saya anggap berbakat (Filmnya yang lain berjudul The Station Agent, ratingnya sangat positif di Rotten Tomatoes). Film ini dibuka dengan kocak tetapi sedih, di mana pada usia agak tua Walter (Richard Jenkins, yang juga memerankan Nathaniel Fisher Sr dalam serial Six Feet Under) memulai belajar piano pada seorang wanita sebayanya. Belakangan (di adegan pembuka) diketahui kalau piano tersebut adalah peninggalan istrinya yang meninggal beberapa bulan yang lalu.
Walter adalah seorang profesor ekonomi Connecticut College yang mesti mempresentasikan makalah koleganya di New York. Di New York, ia mendapati apartemen lamanya ternyata ditempati secara ilegal oleh pasangan imigran ilegal dari Afrika, Tarek dan Zainab. Setelah mendapati bahwa pasangan tersebut tidak memiliki tempat tinggal yang lain, Walter mempersilakan keduanya untuk tinggal bersamanya. Hubungan satu atap menjadi hubungan pertemanan ketika Tarek, seorang musisi, mengajarkan Walter, yang payah dalam piano, bermain jembe. Keakraban mengalami ancaman ketika suatu hari Tarek ditangkap polisi.
Penonton The Visitor akan dibawa memahami situasi yang tumbuh antara Walter (seorang profesor kaya yang WASPy) dengan keluarga Tarek yang ilegal, Afrika, dan Islam. Sebagai catatan, film ini berlatarkan situasi New York paska-9/11. Di akhir film, saya tidak merasa mual karena terlalu banyak dijejali propaganda. Justru dengan sukarela saya jadi bersikap kritis. Tidak lupa, harus dicatat, nilai tambah film ini terletak pada permainan jembenya. Penonton akan merasa ingin juga belajar main jembe! Lagi-lagi hati ini adalah film yang berhasil mengemas pesan politiknya dengan halus. Bandingkan dengan The Life of David Gale, misalnya, yang agak-agak know-it-all (Hanya pendapat pribadi tentu saja:)).
Sekian untuk kali ini. Kedua film bisa dipinjam DVD-nya di Comic Corner, Bandung.