Lars and The Real Girl
December 21, 2008, 7:37 pm
Filed under:
Film
Kamis, 2008 Desember 18
Persoalan iPod selesai juga, yes! Sayang earbud-nya cuma ada satu, mendengarkan iPodnya jadi kurang maksimal. Namun, untuk sementara masalah selesai, the conflict is temporary terminated.
Saya menghabiskan sepanjang siang dengan menonton sebuah film yang quirky dan solid berjudul Lars and the Real Girl. Film ini dibintangi Ryan Gosling, Emily Mortimer (Match Point, 30 Rock, Paris, I Love You di segmen yang ada Oscar Wilde-nya), Paul Schneider, favorit saya Patricia Clarkson, dan Kelli Garner. Kesemuanya berakting dengan adorable. Ini pertama kalinya saya menyaksikan akting Ryan Gosling dan saya menyukainya. Eh nggak, deng. Sebelumnya saya sudah melihat Gosling di film United States of Leland yang kualitasnya agak biasa.
Alkisah Lars, tokoh protagonis film ini, adalah seorang anti-sosial yang benar-benar merasakan kesakitan apabila disentuh orang lain. Yang tidak disadari oleh Lars adalah bahwa sebetulnya ia dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, ketika Lars menderita kelainan delusional yang membuatnya mengakui Bianca, sebuah boneka sex, sebagai kekasihnya, ketulusan kasih sayang dari orang-orang di sekitar Lars mendapatkan ujian. Apakah mereka akan ikut dalam pemahaman Lars bahwa Bianca merupakan sosok yang hidup senyata mereka? Lars and the Real Girl bercerita tentang bagaimana kehadiran sebuah boneka sex justru ‘mengembalikan’ Lars kepada orang-orang yang menyayanginya.
Lars and the Real Girl disutradarai oleh Craig Gillespie, saya tidak terlalu mengenal karyanya yang lain, tetapi Lars sendiri cukup bagus. Cerita laki-laki dan boneka ini sedikit banyak mengingatkan saya kepada film Dummy, yang dibintangi Adrien Brody, Vera Vermiga, dan Milla Jovovich. Meskipun dalam Dummy karakter yang diperankan Adrien Brody tidak mengalami kelainan delusional. Skenario Lars ditulis oleh Nancy Oliver, seorang penulis veteran HBO yang juga menulis Six Feet Under, True Blood, dll. Selain akting yang enak dilihat, cerita film ini juga sangat-sangat menghangatkan hati. Pokoknya cocok dengan selera Sundance Americindie saya :). DVD bajakan film ini bisa dipinjam di Comic Corner, Bandung.
Sisterhood of Traveling Pants 2
Rabu, 2008 Desember 17
Seperti yang sudah diduga urusan iPod ini menjadi semakin lama dan tidak jelas akan berujung ke mana. Untung hari ini saya menyempatkan ke Comic Corner dan menyewa film jadinya agak terhibur, berikut film yang saya sewa: Sixteen Candles, Lars and the Real Girl, The Sisterhood of Traveling Pants 2, dan Love Songs.
Pertama-tama saya akan menulis tentang The Sisterhood of Traveling Pants 2,berhubung baru ini film yang sudah saya tonton. Film ini sangat-sangat mengangkat problematika young woman. Saya setengah berbisik ketika mengutarakan hendak meminjamnya pada penjaga rental film, Comic Corner. Namun resensi yang lumayan bagus dari para kritikus top di situs Rotten Tomatoes membuat saya cuek menonton film ini. Serial The Sisterhood of Traveling Pants dibintangi idola-idola (dan mantan idola) remaja saat ini. Ada America Ferrera (Ugly Betty), Blake Lively (Gossip Girl), Alexis Bledel (Gilmore Girls), dan Amber Tamblyn (Joan of Arcadia, ada yang ingat serial ini pernah diputar di Global TV?). Sanaa Hamri, sutradara Sisterhood, pun tidak bisa dianggap kacangan. Sebelum mengarahkan film ini, Hamri telah menyutradarai film Something New yang diakui oleh para kritikus sebagai film yang berhasil mengangkat masalah rasialisme dengan kritis meskipun berbumbu komedi romantis.
Alkisah musim panas ini adalah musim panas kesekian sejak musim panas di mana para tokoh utama: Carmen, Lena, Tibby, dan Bridget, pertama kali menghabiskan waktu dengan celana jeans yang muat di badan mereka berempat, sekalipun ukuran tubuh mereka berbeda. Para gadis kini sudah berstatus sebagai mahasiswa di perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat. Carmen masuk Yale, Lena diterima di Rhode Island School of Design, Tibby mengikuti program film di New York University, dan Bridget masuk Brown. Masing-masing punya masalah tertentu, entah Tibby takut hamil dan takut berkomitmen dengan pasangan, Lena mesti berhadapan dengan cinta pertamanya, Carmen harus mengatasi sifat pemalunya, dan upaya Bridget berdamai dengan keluarganya. Persahabatan mereka pun diuji dengan semakin sedikitnya waktu yang dihabiskan bersama-sama, dan semakin beratnya masalah yang harus dihadapi sendiri.
Agak pusing juga mengikuti film ini, mungkin karena saya kurang memahami permasalahan yang dikemukakan, karena saya bukan target market Sisterhood. Kecepatan alurnya, juga bukan di kecepatan yang saya suka. Film ini bergulir lumayan cepat, dengan konflik yang betul-betul padat. Beberapa storyline terasa kurang meyakinkan. Contoh: ketakutan Tibby pada kehamilan, dan dilema cinta pertama Lena. Adegan yang menunjukkan ketakutan Tibby dibuat agak slapstick, sementara akting Alexis Bledel, yang memerankan Lena, entah bagaimana terasa sedemikian datar sehingga tidak menimbulkan keterkaitan dengan penonton. Oke, dia memang cantik, pucat dan bermata bagus. Namun suara manjanya terlalu manis, membuat saya betul-betul ingin mencekiknya dengan bantal. Suara Bledel mungkin cocok buat serial Gilmore Girls, di mana dia berperan sebagai know-it-all daughter, tetapi akan sangat menyebalkan mendengar suaranya pada film-film lain. Out of topic, saya lega dengan siratan nasibnya pada film Sin City, yang berarti besar kemungkinan ia tak akan muncul lagi pada Sin City 2. Walaupun demikian, ada satu kelebihan dari film ini, penonton akan percaya bahwa keempat tokoh utamanya memang benar-benar bersahabat.
Namun, dengan segala kekurangannya, saya cukup merekomendasikan The Sisterhood of Traveling Pants 2. I can’t help it! Film ini mengingatkan saya dengan seorang teman. Nilainya 7, deh.
True Blood
December 21, 2008, 6:29 pm
Filed under:
Television
Senin, 15 Desember 2008
Siang ini, setelah membayar kartu kredit dan coba menebus iPod di IBCC, saya iseng mencari-cari DVD di Vertex. Tanpa disangka saya menemukan True Blood! Serial HBO yang sudah lama saya incar karena dibuat oleh Alan Ball, yang juga membuat Six Feet Under dan menulis skenario American Beauty. Premis True Blood, yang diangkat dari novel berseri The Southern Vampire Mysteries, sebetulnya agak mirip dengan Twilight:(Serial yang cuma saya baca buku pertamanya dan tidak saya tonton filmnya, tapi cukup untuk membuat saya dituduh sebagai penggemarnya.) seorang perempuan aneh yang jatuh cinta kepada vampir ganteng. Memang harus diakui, sejauh ini episode-episode yang saya tonton kualitasnya lumayan so-so.
Mungkin yang menarik di serial ini, para vampir diceritakan sudah legal berkeliaran di dunia manusia. Terima kasih kepada para ilmuwan Jepang yang menemukan minuman substansi pengganti darah bermerk Tru Blood, sehingga kaum vampir bisa keluar dari persembunyiannya malam-malam dan membaur dengan manusia. (Istilahnya mainstreaming.) Tentu ada beberapa vampir yang tidak puas dengan Tru Blood, dan masih menebar ancaman pada manusia. Plot berkisar pada kasus pembunuhan berantai di Bon Temps, kota fiksional di Louisiana. Benang merahnya, setiap perempuan yang dibunuh pernah berhubungan dengan vampir. Entah hubungan seks, hubungan pertemanan, atau hubungan adiksi terhadap darah vampir yang memang bikin kecanduan. Magnet yang membuat saya menonton True Blood adalah hubungan romantik kering antara si vampir mainstream Bill Compton (Stephen Moyer) dan si tokoh utama Sookie Stackhouse (Anna Paquin), seorang waitress yang bisa membaca pikiran setiap orang, kecuali Bill dan tentu saja, inilah yang menjadi daya tarik si vampir. Serial ini mungkin lebih sebagai guilty pleasure daripada a must-watch television series. Nonton lagi, ah!