futualblog


Sisterhood of Traveling Pants 2
December 21, 2008, 7:20 pm
Filed under: Current Affairs, Film, Television

Rabu, 2008 Desember 17

Seperti yang sudah diduga urusan iPod ini menjadi semakin lama dan tidak jelas akan berujung ke mana. Untung hari ini saya menyempatkan ke Comic Corner dan menyewa film jadinya agak terhibur, berikut film yang saya sewa: Sixteen Candles, Lars and the Real Girl, The Sisterhood of Traveling Pants 2, dan Love Songs.

Pertama-tama saya akan menulis tentang The Sisterhood of Traveling Pants 2,berhubung baru ini film yang sudah saya tonton. Film ini sangat-sangat mengangkat problematika young woman. Saya setengah berbisik ketika mengutarakan hendak meminjamnya pada penjaga rental film, Comic Corner. Namun resensi yang lumayan bagus dari para kritikus top di situs Rotten Tomatoes membuat saya cuek menonton film ini. Serial The Sisterhood of Traveling Pants dibintangi idola-idola (dan mantan idola) remaja saat ini. Ada America Ferrera (Ugly Betty), Blake Lively (Gossip Girl), Alexis Bledel (Gilmore Girls), dan Amber Tamblyn (Joan of Arcadia, ada yang ingat serial ini pernah diputar di Global TV?). Sanaa Hamri, sutradara Sisterhood, pun tidak bisa dianggap kacangan. Sebelum mengarahkan film ini, Hamri telah menyutradarai film Something New yang diakui oleh para kritikus sebagai film yang berhasil mengangkat masalah rasialisme dengan kritis meskipun berbumbu komedi romantis.

Alkisah musim panas ini adalah musim panas kesekian sejak musim panas di mana para tokoh utama: Carmen, Lena, Tibby, dan Bridget, pertama kali menghabiskan waktu dengan celana jeans yang muat di badan mereka berempat, sekalipun ukuran tubuh mereka berbeda. Para gadis kini sudah berstatus sebagai mahasiswa di perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat. Carmen masuk Yale, Lena diterima di Rhode Island School of Design, Tibby mengikuti program film di New York University, dan Bridget masuk Brown. Masing-masing punya masalah tertentu, entah Tibby takut hamil dan takut berkomitmen dengan pasangan, Lena mesti berhadapan dengan cinta pertamanya, Carmen harus mengatasi sifat pemalunya, dan upaya Bridget berdamai dengan keluarganya. Persahabatan mereka pun diuji dengan semakin sedikitnya waktu yang dihabiskan bersama-sama, dan semakin beratnya masalah yang harus dihadapi sendiri.

Agak pusing juga mengikuti film ini, mungkin karena saya kurang memahami permasalahan yang dikemukakan, karena saya bukan target market Sisterhood. Kecepatan alurnya, juga bukan di kecepatan yang saya suka. Film ini bergulir lumayan cepat, dengan konflik yang betul-betul padat. Beberapa storyline terasa kurang meyakinkan. Contoh: ketakutan Tibby pada kehamilan, dan dilema cinta pertama Lena. Adegan yang menunjukkan ketakutan Tibby dibuat agak slapstick, sementara akting Alexis Bledel, yang memerankan Lena, entah bagaimana terasa sedemikian datar sehingga tidak menimbulkan keterkaitan dengan penonton. Oke, dia memang cantik, pucat dan bermata bagus. Namun suara manjanya terlalu manis, membuat saya betul-betul ingin mencekiknya dengan bantal. Suara Bledel mungkin cocok buat serial Gilmore Girls, di mana dia berperan sebagai know-it-all daughter, tetapi akan sangat menyebalkan mendengar suaranya pada film-film lain. Out of topic, saya lega dengan siratan nasibnya pada film Sin City, yang berarti besar kemungkinan ia tak akan muncul lagi pada Sin City 2. Walaupun demikian, ada satu kelebihan dari film ini, penonton akan percaya bahwa keempat tokoh utamanya memang benar-benar bersahabat.

Namun, dengan segala kekurangannya, saya cukup merekomendasikan The Sisterhood of Traveling Pants 2. I can’t help it! Film ini mengingatkan saya dengan seorang teman. Nilainya 7, deh.




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>