Saat Erick Tidak Hadir
7 Juni 08
Meskipun Erick tak
hadir (Erick=sang fasilitator), pertemuan Klab Nulis Reading Lights hari Sabtu ini tetap diadakan. Yang bertemu adalah
Dea, Anas, Opik, Ina, Nia, saya, dan Myra. Berhubung orang yang biasa
memberikan latihan menulis sedang berhalangan, kali ini kami tidak
melakukannya. Alih-alih, peserta yang membawa karya dipersilahkan membaca karya
tersebut untuk nantinya dikomentari oleh kami semua.
Peserta pertama
yang membaca karya adalah Dea. Jauh sebelum membacakan karyanya, ia sudah
berpromosi kepada kami: “Eh, tulisan gua agak pahit, nih!” Terang saja kami
semangat, apalagi kami terbiasa dengan karya Dea yang positif. Dan ketika gadis
itu selesai membacakan karya, kami pun mulai berkomentar. Rupanya karya yang
Dea bacakan adalah sebuah cerita yang sudah lama ada di dalam kepalanya.
Sambutannya positif: Myra menyukai tema yang disinggung dalam cerita Dea, Anas
suka dengan kalimat Dea yang pendek-pendek, kami semua bertanya tentang
serba-serbi cerita ini dan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Dea.
Bertolak dari antusiasme Myra terhadap Dea yang menulis cerita yang pahit, Anas
mengajukan sebuah pertanyaan menarik untuk kami semua: “Kalian lebih suka yang
mana, sad ending atau happy ending? Mana yang lebih menyentuh?”
Dea menjawab happy ending, Myra sad ending, saya lebih suka yang menggantung, kata Nia sad ending, Ina menolak menjawab dengan
mengatakan, “Nggak tahu.” Kami pun mendiskusikan alasan di balik jawaban
masing-masing. Dea berpendapat, sebetulnya sad
ending atau happy ending bisa
sama-sama menyentuh tergantung dari isi cerita, namun ia juga sadar
kecenderungan para penulis/sastrawan menulis cerita yang sad ending karena mereka mengutamakan realitas dan harus diakui
sekalipun real tapi happy ending is too good to be true. Myra setuju, ia menceritakan pengalamannya
ketika dulu ia menyukai sebuah buku berakhiran happy. Semakin lama Myra mendapati dirinya ill feel dengan buku itu,
ia mendapati bahwa kenyataan tidak se-happy
yang ada di buku. Myra merasa sebal karena ia merasa seharusnya buku tersebut
menggambarkan realita yang dalam pandangan Myra sad ending. Anas menyampaikan teori menarik tentang bagaimana
manusia berasal dari tanah (materi) dan kesedihan manusia bermuara dari
lepasnya hal-hal yang bersifat materi dari kendali manusia. Saya mengangguk,
saya lalu menceritakan bagaimana ketika kehilangan dompet tiba-tiba saya
mendapati diri saya berucap, “Ya Allah, ya Allah,” lalu tiba-tiba saya
marah-marah sendiri, “Apaan sih kamu? Malu-maluin saja. Baru kehilangan dompet
sudah nyebut-nyebut Allah. Biasanya juga nggak.” Myra memberikan pendapat yang
menguatkan teori tersebut, katanya bahkan untuk mendekat kepada Tuhan pun
manusia berada dalam kesedihan, dengan beribadah sebetulnya manusia kehilangan
materinya, katakanlah yang paling sederhana: kehilangan waktunya. Pertanyaan
yang mengemuka adalah: Lantas bagaimana dengan orang yang merasa senang justru
saat beribadah? Dea memberi tanggapan dengan menceritakan bahwa dalam keadaan
senang pun ia merasa dekat dengan Tuhan. Ketika melihat kupu-kupu, Dea merasa
bahagia. Ia merasa Tuhan juga melihat kupu-kupu bersamanya, ia merasa Tuhan
memperlihatkannya kupu-kupu. Begitupun ketika senyumnya dibalas orang lain. "Apakah itu bersifat materi?" tanya Dea. "Tidak," jawab
Anas.
Kami end up melanjutkan obrolan tentang
kebahagiaan dan kesedihan ini sampai kurang lebih satu jam berikutnya. Myra
mengemukakan bahwa ia selalu bersiap diri dalam menyambut kesedihan, dan
menerima kegembiraan dengan tanpa persiapan, saya jadi bertanya-tanya, “Kenapa
lu nggak menyambut kegembiraan dengan persiapan juga? Sekarang dengan elu yang
menyambut kesedihan dengan persiapan, bagaimana kalau nantinya lu malah nggak
bisa merasakan kegembiraan? Bagaimana kalau kegembiraan itu nggak akan pernah
muncul lagi karena nggak pernah diappreciate
dengan persiapan?” Nia menanggapi, “Cara Myra menghadapi kebahagiaan memang
begitu. Dengan kesedihan, ia justru merasakan kebahagiaan.” Pada akhirnya saya
sampai pada kesimpulan bahwa seseorang menyikapi kebahagiaan dan kesedihan
dengan caranya masing-masing/berpulang kepada diri masing-masing. Dea bilang
mungkin ini perbedaan cara pandang orang-orang terhadap mana yang kebahagiaan
dan mana yang kesedihan. Namun ketika menulis diary ini saya jadi kepikiran semuanya memang berpulang kepada diri
kita masing-masing, tetapi bukankah dialog berperan penting dalam menumbuhkan
rasa saling pengertian? Kalau sudah saling mengerti, maka akan tumbuh rasa
saling menghormati. Toh pertanyaan yang terlontar tidak bertujuan untuk
memojokkan atau mengintrusi otonomi orang lain, tetapi untuk memenuhi rasa
penasaran. Kalaupun pertanyaan saya terdengar seperti memojokkan, maksudnya sih
tidak begitu. Mungkin karena bersemangat, intonasinya jadi agak naik begitu.
Lalu Opik datang
di tengah pertemuan. Ia pun membacakan karyanya. Seperti biasa karya Opik
menggambarkan realitasnya dengan metafora-metaforanya. Masukan dari Myra: agar
tulisan Opik bisa dimengerti oleh lebih banyak orang, ada baiknya ia
menggunakan metafora yang punya asosiasi khusus dengan hal yang dimetaforakan.
Saya menambahkan, kalau di dalam tulisan menggunakan metafora sebaiknya ada
semacam penjelasan kenapa metafora itu digunakan, jadi pembaca memahami amanat
dari si pengarang. Nia membandingkan
tulisan Opik dengan Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dua-duanya
susah dibaca karena terlalu padat. Nia juga menceritakan kepada Opik langkah
Dewi Lestari di karya-karya selanjutnya, yaitu menyederhanakan penuturannya.
Nia lalu
membacakan karyanya yang memakai tiga sudut pandang. Anak muda, ayah yang juga
dokter, dan seorang istri. Tulisan Nia ini disukai Opik. Myra bilang ia pernah
membuat cerita yang mengalir dari sudut-sudut pandang yang berbeda juga. Saya
suka cerita ini, tapi saya agak terganggu dengan Nia yang mencantumkan nama beberapa
band seperti Radiohead, Bjork, Echobelly, dll, secara sekaligus untuk memberi clue bahwa si tokoh merupakan anak
muda. Kelemahan dari cara ini adalah
apabila seseorang merasa asing dengan nama-nama band tersebut maka clue dari Nia tidak akan tertangkap oleh
mereka. Saya menyarankan Nia memilih satu lagu dari satu artis, untuk
dituliskan liriknya. Contoh, lirik lagunya Bjork yang Triumph of a Heart . Kalau pembaca mengenali Bjork, tentunya ia
tahu bahwa Triumph of a Heart adalah
lagu yang joget banget, sangat anak muda. Kalaupun pembaca tidak mengenali
Bjork, maka dari lirik semacam:
Smooth soft red
velvety lungs
Are pushing a
network of oxygen joyfully
Through a nose,
through a mouth
But all enjoys,
which brings us to
The triumph of a
heart that gives all
That gives all
Akan memberikan
gambaran bahwa lagu yang disukai si tokoh memang benar-benar riang. Keriangan
khas anak muda yang tidak ingin dianggap terlalu riang sehingga ia mendengarkan
Bjork yang dianggapnya aneh dan tidak terlalu riang secara eksplisit. Atau
barangkali lu punya pendapat lain, Ni?
Terakhir Myra
membacakan karya temannya yang ikut knitting
club. Temannya itu menuliskan sebundel kumpulan cerpen, tapi yang dibacakan
Myra yang banyak kata bunuh-bunuhnya, hahaha.
Beberapa saat
setelah adzan maghrib berkumandang, Klab Nulis bubar teratur. Klab Nulis tanpa
latihan menulis ternyata sangat enjoyable
juga. Kami jadi mengobrol dan bertukar pikiran, komentar, sampai pengalaman
masing-masing dalam skala yang lebih luas, sampai-sampai saya tidak mampu menuliskan
semuanya dalam diary ini. Tanpa fasilitator, Klab Nulis menjadi berbeda dari Klab Nulis-Klab Nulis biasanya. In a good way.***
Hari Libur Terakhir, Saya Pun Menulis Diary
1 Juni 08
“Menulis fanfic melatih kita untuk lebih memahami
karakter dan alam (setting) dalam
cerita yang kita suka.” Begitu kira-kira perkataan Erick, fasilitator Klab
Nulis Reading Lights, pada pertemuan
mingguan hari Sabtu kemarin yang juga dihadiri oleh Aji, Myra, Uli, Alexandra the newcomer, saya, dan Anas.
Fanfic sendiri
merupakan karya fiksi berdasarkan buku, film, acara televisi, atau media
lainnya, yang dibuat oleh penggemar buku, film, acara televisi, atau media
lainnya tersebut. Maksudnya dalam membuat fanfic,
si penulis menggunakan setting,
penokohan, maupun alur dari karya yang disukainya. Ditunjang dengan
perkembangan teknologi internet, saat ini semakin banyak saja orang yang
menulis fanfic—klik deh
fanfiction.net. Semakin populer suatu karya, maka akan semakin banyak juga
penggemar yang menulis fanfic
berdasarkan karya tersebut.
Kira-kira bertolak
dari pemikiran tersebut, tantangan bagi peserta Klab Nulis kemarin adalah
membuat sebuah fanfic. Pertama-tama,
semua diinstruksikan untuk menulis karakter, setting, dan lain-lain dari buku,
film, atau serial televisi yang kami suka. Contoh: Harry, Ron, Hermione, setting Hogwarts. Walaupun begitu fanfic sebetulnya cukup fleksibel,
dengan menggunakan tokoh-tokoh yang sama dengan serial Harry Potter setting fanfic bisa dipindah, katakan
dari Hogwarts ke Tokyo. Atau setting-nya
tetap Hogwarts tetapi karakternya diganti Julian, Dick, George, Annie, dan
Timmy. Dipilih mana yang lebih merangsang imajinasi, lah. Lalu tulislah fanfic-nya!
Terakhir, kami
membacakan fanfic masing-masing.
Semua peserta muncul dengan karakter-karakternya yang khas: tulisan Myra
berdasarkan Veronica Decides to Die
karya Paolo Coelho, apabila di buku Paolo Coelho Veronica-nya hidup, di fanfic Myra Veronicanya mati dan menjadi
jahat; folk tale lelaki peniup
seruling pengusir tikus mempengaruhi fanfic
Uli; Alexandra menulis bagian
cerita dari Sandman-nya Neil Geiman
yang menurutnya kurang terjabarkan; saya menggunakan karakter
kakak-adik-benci-tapi-rindu, Vera dan Nadejda, dari novel A Short History of Tractors in Ukrainian; fanfic Anas berdasarkan film Swiss yang berjudul Vitus—ia mengubah settingnya jadi di Indonesia; tulisan Erick terinspirasi film Ada Apa dengan Cinta? dengan plot Rangga
yang tak jadi pulang disertai penampilan cameo
dari Cinta Laura; Aji menutupnya
dengan membacakan cerita yang surprisingly
orisinal tentang pertemuan Lucky Luke dengan The Beatles!
Kalau
dipikir-pikir, berdasarkan pengalaman kemarin, ternyata menulis fanfic nggak hanya membuat kami belajar
tentang unsur-unsur karya favorit masing-masing. Kami pun jadi semakin
mengenali karakter tulisan kami sendiri, toh meskipun menulis fanfic kami masih tetap lekat dengan ciri
khas penulisan masing-masing, ya kan?
Resensi Yang Ditolak
June 1, 2008, 6:50 am
Filed under:
Film

Judul Film: The
Crime of Padre Amaro
Pemain : Gael
Garcia Bernal, Ana Claudia Talancón, Sancho Gracia
The Crime of Padre Amaro (TCOPA)
bercerita tentang Padre Amaro (Gael Garcia Bernal), seorang pastor muda yang
tugas pertamanya adalah melayani gereja di Los Reyes, sebuah kota kecil di
Meksiko. Belum lama menjalani masa tugas, keimanan Padre Amaro sudah mendapatkan
ujian dari Amelia (Ana Claudia Talancón), seorang ABG cantik yang
pintar merayu. Padre Amaro juga mendapati bahwa seniornya, Padre Benito (Sancho
Gracia), diam-diam akrab dengan tuan kecil setempat. Seakan itu belum cukup,
hubungan gelap Padre Benito dan ibu Amelia pun terendus olehnya. Bertolak dari
situasi seperti ini, Padre Amaro membuat keputusan yang nantinya akan ia sesali.
Saat masih kecil
saya dan para pembantu keluarga kerap menonton sebuah telenovela, judulnya
Maria Mercedes. Semua terkagum dengan warna-warni telenovela ini: Maria
Mercedes-Jorge Luis Del Olmo yang beautiful,
kemegahan rumah keluarga Del Olmo, sampai kelakuan menggemaskan tokoh
antagonis, Malvina Del Olmo. Kami merasa dekat dengan kebudayaan Latin,
terutama nilai religi dan kekeluargaannya. Semakin besar, bersekolah membuat
saya tak bisa lagi menonton Maria
Mercedes yang ditayangkan pagi-pagi. Meskipun begitu kenangan menyenangkan tentang
telenovela membuat saya berasumsi baik kepada film-film Amerika Latin, termasuk
TCOPA.
TCOPA diadaptasi
bebas dari novel O Crime Do Padre Amaro
(1875), karya penulis Portugis José Maria Eça de Queirós. Dengan tema yang mengritik gereja
katolik, film produksi Meksiko ini sempat menuai kontroversi saat masyarakat katolik
di sana berupaya agar pemerintah mencekal film ini. Namun upaya itu gagal dan film
arahan Carlos Carrera ini menjadi box
office hit di Meksiko. Tidak tanggung-tanggung,
TCOPA sukses menembus nominasi Academy Award dan Golden Globe Award tahun 2002 kategori
Film Berbahasa Asing Terbaik. Apakah TCOPA memang sebaik itu?
Saya menemukan
hal-hal familiar yang menyenangkan saat menonton TCOPA: kehangatan budaya
Latin, kekentalan kehidupan beragama, dan yang terpenting ada unsur melodrama
yang kuat dalam film ini—peringatan bagi para pembenci telenovela. Saya juga menikmati
akting Gael Garcia Bernal yang memerankan pastor muda yang mendapat pelajaran
dari pengalaman. Adapun hal yang menurut saya mengganggu, TCOPA mengritik
gereja katolik dengan searah. Dalam film ini tak sekalipun gereja katolik
diberi kesempatan membela diri. Padahal bukankah kritik yang baik membuka
interaksi? Selain itu saya menikmati menonton film ini. TCOPA cukup berhasil
menjaga prasangka baik saya pada film-film Amerika Latin.
Libur Telah Tiba, Sebagai Selingan Saya Pun Menulis Diary 1
25 Mei 2008
KLAB NULIS
Pemeran tetap musim ini:
Uut, Myra, Opik, Fadil,
Aji, Anas, Erick, dan saya sebagai Andika Budiman.
Memperkenalkan:
Gilang, editor
buku pelajaran yang beralih menjadi editor fiksi.
Recurring
Characters:
Selvi, the missing child.
Mirna, eks-pemeran
tetap yang meninggalkan opera sabun Australia Neighbours demi mengejar karir di Inggris sebagai bintang pop.
Seperti biasa ia melanjutkan perannya sebagai fasilitator yang narsis, tak bisa
diam, dan … ehm, perhatian.
Plot:
Berlatarkan toko buku Reading Lights kegiatan pada
Klab Nulis Sabtu kemarin adalah latihan menulis dialog. Pertama-tama kami
diinstruksikan Mirna untuk menulis deskripsi kurang lebih sepuluh kalimat.
Contoh, Myra menulis:
Bim-bim
dan Sevrin berada di sebuah kamar 4 x 4 milik tante Sevrin. Ruangan dengan
kasur, meja baca, dan beberapa kotak kardus yang mengindikasikan ruangan itu
tidak terpakai. Bim-bim fokus pada layar komputer, sementara Sevrin duduk
malas-malasan di tempat tidur dengan laptop di pangkuannya sambil sekali-sekali
memijit-mijit pundaknya. Tidak adanya ventilasi udara membuat ruangan itu tidak
panas. Atap-atap yang tinggi dan kelembapan di dalam ruangan itu menjadi alasan
Bim-bim dan Sevrin tetap mengetik tanpa mengeluhkan suhu udara.
Instruksi kedua,
deskripsi kami yang kami tulis dibacakan dan ditukar dengan deskripsi peserta
lain. Berdasarkan deskripsi dari peserta lainlah masing-masing menulis sebuah
sebuah dialog yang akan dibacakan sebagai tugas akhir latihan ini. Berdasarkan
deskripsi Myra di atas saya menulis:
“Mas
Har kurang asem!” seru Sevri sambil menampar kasur yang didudukinya. “Paper lagi. Paper lagi. Padahal kalau nggak ada paper aku mau pulang ke Surabaya!”
Bim-bim
hanya tersenyum mendengar keluhan gadis itu. Matanya terpaku pada monitor
komputer, memilah-milah data yang dikeluarkan oleh search engine. Sejenak ia membiarkan Sevri beristirahat.
“Tapi
untung paper-nya per kelompok, ya
Bim! Jadi kan nggak terlalu berat!” Sevri kembali asyik dengan laptopnya.
Jempol
Bim-Bim teracung. “Begitu dong! Positive
thinking, bagianku juga sudah hampir selesai, kok! Penyebaran fast food dan sifat-sifat fast food. Kalau begini terus bisa, deh!
Paper MIHI kita selesai hari ini!”
Sevri
pun tersenyum. Jemarinya kian lincah mengetik keyboard laptopnya. “Menurut kamu bagaimana, Bim? Film Super Size Me termasuk, nggak?” Sevri
meminta pendapat.
“Kamu
sudah berapa halaman?” tanya Bim-bim.
“Baru
tiga!”
“Kalau
begitu masukkan saja Super Size Me
sebagai counter culture budaya fast food!” saran Bim-bim.
Setelah
beberapa saat copying, pasting, editing, dan memasukkan referensi, Bim-bim
mengumumkan, “Aku sudah selesai! YM kamu dinyalain, dong!”
Sevri
tertawa. “Memang kamar kos kamu ini ada wi
fi nya?”
Tawa
Bim-bim pecah juga. “Iya, ya. Kebiasaan ngerjain tugas di Senpus kebawa-bawa
sampai ke sini.”
“Laptop
kamu nggak bervirus, kan Bim?” tanya Sevri sembari menangkap USB yang
dilontarkan Bim-bim.
“Nggak
ada. Tapi discan saja buat
jaga-jaga,” jawab Bim-bim. Ia pun pindah duduk ke sebalah Sevri, kepalanya
menengadah menghadap plafon kamar kosnya. Mulut Bim-bim setengah terbuka.
“Gagal,” keluh saya setelah membacakannya.
“Pointless,” tambah Mirna menyetujui.
Tentu saja tidak
berakhir di hasil akhir. Saya lantas tergugah untuk menggali apa yang terjadi
di dalam proses penulisan sehingga tulisan saya menjadi pointless. Setelah berpikir sejenak, saya rasa dalam pembuatan tulisan
ini saya terlalu hati-hati. Belum apa-apa saya sudah menetapkan standar: harus
logis, tak boleh berlebihan, harus bagus, dll. Sebetulnya nggak terlalu salah
juga, saya nggak mau mempermalukan diri di depan Mirna, hahaha. Namun
standarisasi menjadi salah ketika hal itu membatasi saya untuk menulis dengan
bebas—memasukkan semangat menulis ke dalam kotak-kotak yang sempit.
Standarisasi juga salah kalau itu membuat saya melupakan tujuan awal dari
latihan ini: membuat dialog. Seharusnya saya mencoba menulis dialog yang
menjadi basis dari cerita. Namun yang saya lakukan adalah memutuskan tema
cerita tertentu, memaksanya masuk ke dalam deskripsi, dan menjadikan dialog
soal belakang. Bukannya mendahulukan membuat dialog yang pas, saya malah
mendahulukan membuat cerita yang nyata buat saya: tugas-tugas kuliah jahanam
dan usaha mahasiswa dalam menunaikan kejahanaman itu. Dan ini salah besar.
Tidak heran tulisan saya menjadi a very
boring conversation.
Di akhir diary kali ini saya ingin menyampaikan
kekaguman saya kepada Mirna. Jadi kemarin ia sempat mengritik tulisan Opik
dengan agak dalam. Lalu Opik bertanya, “Tulisan Kakak sudah dimuat di mana
saja?” Agak offensive menurut saya. Saya
kira Mirna akan memberi Opik jawaban bernada tinggi, tak disangka anak itu menjawab
dengan ceria, “Tulisan saya yang diterbitkan baru buku pesanan orang. Ada juga
proyek-proyek yang nggak selesai. Kalau cerpen sih banyak di internet, search deh Freyja Gryffin. Saya berani
mengritik karena saya membaca banyak!” Saya tertegun butuh kematangan emosi
untuk menjawab pertanyaan offensive
dengan sebaik itu. Sungguh Mirna keren minggu ini!
Demi Kontinuitas Menulis, Saya Pun Membuat Diary 3
18 Mei 2008
Hari Sabtu
kemarin Klab Nulis melakukan acara nonton bareng untuk pertama kalinya semenjak
saya ikut bergabung. Sekitar jam empat lebih, kami semua sudah berkumpul di
lantai atas toko buku Reading Lights
yang sudah diset untuk acara nonton bareng. Kami adalah Dea, Myra, Erick, Nia,
Uli, Anas, saya, dan Ina. Kami belum menentukan film yang akan diputar. Pilihan
filmnya antara lain, Grave of the
Fireflies, Curse of the Golden Flower
(saran Erick), There Will Be Blood (saran
saya), dan beberapa film lain yang menurut Erick tidak penting. Hm, sangat
disayangkan teman-teman yang lain tidak ikut merekomendasikan film kesukaan
mereka. Bukannya lebih baik kalau kami memiliki sebanyak mungkin pilihan yang
ada? Adapun syarat-syarat yang mesti dipenuhi film yang akan diajukan adalah:
bersifat fresh di Rotten Tomatoes (ratingnya 60% ke atas),
memiliki plot yang tak konvensional, dan tidak mengandung nudity. Apa mungkin film-film yang memenuhi syarat-syarat ini
termasuk sulit untuk dicari? Berhubung Dea tak mau menonton Grave of the Fireflies dan saya
mati-matian merekomendasikan There Will
Be Blood, demi semangat demokrasi akhirnya Erick memilih There Will Be Blood. Lampu dimatikan dan
film pun diputar.
There Will Be Blood adalah
film arahan Paul Thomas Anderson, sutradara Boogie
Night, Magnolia, dan Punch Drunk Love. Akting Daniel Day
Lewis dalam film ini menyabet piala Oscar kategori Aktor Terbaik. Uut dan teman
Anas datang di tengah-tengah film. Tema film ini menyentuh minyak, ketamakan,
gereja, dan pilihan untuk menyendiri. There
Will Be Blood berlatarkan Amerika Serikat yang lain. Amerika Serikat yang
belum berubah menjadi negara super power
tunggal yang dikendalikan para teknokapitalis dengan politik luar negeri yang assertive, unilateral, dengan war on terrorism yang tak menilik akar
permasalahan … ck, apa sih? Pokoknya yang disorot dalam film ini adalah
Amerika Serikat dengan padang ilalang yang luas, berpasir, alam yang belum
terjamah, dll. Rentang film ini dari tahun 1908 sampai 1920-an. Hal inilah yang
luput dari pemikiran saya ketika merekomendasikan There Will Be Blood.
Film yang
rentangnya sepanjang ini, durasinya pasti lama. Dan durasi yang lama tidak
mengakomodasi kepentingan masing-masing dari kami. Bagaimana kalau ada yang
pulang duluan untuk urusan lain? Bagaimana kalau ada yang mau sholat di
tengah-tengah film? Bagaimana kalau Myra nggak selesai menonton karena harus
bekerja? Bagaimana kalau film ini membuat Erick telat mengapel? Bagaimana
dengan Dea yang tak suka pulang malam? Pikiran saya sebelumnya tidak ke situ.
Dan benar saja, Uli meninggalkan kami di tengah-tengah film. Myra juga sempat
meninggalkan film untuk sholat dan ke bawah entah untuk apa. Mungkin minta
izin, “Eh, gua mulai kerjanya agak telat, ya? Filmnya masih lama!” Akhirnya
hampir semua orang sempat sibuk dengan ponsel masing-masing, mungkin
memberitahu bahwa mereka akan telat. Maaf, semuanya! Selain itu kami menonton film sampai selesai.
Saya sendiri senang ‘menonton’ reaksi teman-teman lain yang menonton There Will Be Blood. Dan menonton reaksi
mereka atas adegan terakhir sangatlah priceless.
Film selesai diiringi musik ceria. Credit
dimulai. Saya meminta agar DVD jangan dimatikan dulu. Tangan saya teracung
ke layar ketika nama Jonny Greenwood muncul sebagai penata musik. “Jonny Greenwood
adalah gitaris Radiohead,” ujar saya. “Pantesan musiknya bagus,” komentar Dea.
“Suka, nggak?
Dengan film ini?” tanya saya. Erick menyukai shot-shot film ini yang
indah. Myra ’sukaaa’ banget sama film ini. Anas dan Ina menjawab suka, tapi seperti
kurang tulus begitu, sepertinya mereka masih shock dengan bagaimana film ini berakhir, hahaha. Uut bilang tak
bisa menjawab karena dia baru datang di tengah-tengah film. Nia suka musiknya
yang kata dia, “Mirip Bjork.” Dea tidak suka film ini, “Perasaan gua jadi nggak
enak.” Yah sepertinya saya memilih film yang salah, I’m sorry! Semoga cepat baikan! Sebelum semua bubar, Erick
menugaskan pada kami untuk menuliskan adegan yang paling membekas pada film ini
dan karakter mana yang mengingatkan kami dengan seseorang. Dia juga mempunyai
ide agar acara nonton bareng ini diadakan sebulan sekali. Boleh!
Belajar dari kali
ini, ada baiknya film yang akan diputar durasinya tidak lebih dari dua jam.
Teman-teman yang lain juga sebaiknya turut merekomendasikan film. Soalnya kalau
Erick terus, filmnya pasti yang art house-b movie-superhero movie begitu. Kalau
saya terus, pasti yang dipilih yang melodrama melulu. Syaratnya juga nggak
terlalu berat kan?***
Demi Kontinuitas Menulis, Saya Pun Membuat Diary 2
11 Mei 2008
Seperti biasa kemarin
Klab Nulis dilaksanakan di smoking area toko
buku Reading Lights. Dihadiri Uli,
Fadil, Ina, Anas, Zia, Erick, saya, Myra, dan Uut, kemarin kami mempraktekkan sebuah
teknik menggali ide yang didapatkan Erick dari buku Creative Writing.
Jadi instruksi
pertama: kami semua diminta menuliskan nama, nama orang asli yang kami kenali—bukan
nama yang dikarang-karang, sebanyak mungkin selama lima menit. Instruksi
selanjutnya, dari daftar nama tersebut dilakukan penglasifikasian, contoh: nama
Imroatus Solihah akan sangat cocok untuk cerita-cerita yang berlatar belakang
kehidupan beragama islam (atau malah generik, ya?). Terakhir, kami diminta menulis
dan membacakan sinopsis cerita yang tokoh-tokohnya berasal dari nama yang telah
ditulis dan diklasifikasikan tadi.
Menurut saya,
teknik yang diberikan Erick itu cukup berhasil. Dari nama-nama itu saya jadi
membayangkan sebuah cerita yang betul-betul ingin digarap. Dan ini lumayan oke.
Saya suka ide Uut yang ‘saya belum mencintaimu’. ‘Belum mencintaimu’! Bukan ‘tidak
mencintaimu’! Hahaha!
Kalaupun ada kesulitan,
paling bagaimana mesti berkomentar sehabis peserta lain membacakan tulisan. Masalahnya
tulisan yang dibacakan adalah sinopsis cerita, jadi belum banyak yang bisa
dikomentari. Dan sebetulnya saya juga kurang suka kalau mesti berkomentar yang
menuntut adanya perubahan cerita. Misalnya, ‘bagaimana kalau si A mati saja?’ atau
‘tokohnya yang itu, tapi bagaimana kalau ceritanya gini gini gini’, aduh! Baru
terpikir sekarang, sebetulnya kemarin si fasilitator klab bisa lebih keren
dengan melontarkan pertanyaan, ‘Bagaimana teknik ini membantu, nggak? Kalau ya,
kenapa? Kalau nggak, juga kenapa?’ Jadi interaksinya bisa lebih dua arah. Kalau
peserta baru kecenderungannya kan iya-iya saja, atau malah nggak?
Dapat dikatakan
Klab Nulis kemarin cukup menyenangkan, tapi bukan menyenangkan yang
menggembirakan juga, sih. Hahaha! Menurut saya interaksi antar peserta sangat
penting. Semua peserta harus merasa memiliki kesempatan untuk membela
diri/membela tulisan. Karena kalau saya tidak memiliki kesempatan itu, bukankah
saya tak punya cukup alasan buat datang ke Klab Nulis lagi?
TRIVIA
1. Sebelum sesi menulis dimulai, beberapa
dari kami sempat membicarakan pengalaman nonton film. Saya Friends With Money, Ina Kunfayakun
dan DO di bioskop FFB, dan Anas August Rush. Namun kami semua gagal
mengalahkan Erick dalam hal spoiling
menceritakan pengalamannya menonton The
Host. Ia bercerita dari awal, tengah, klimaks, sampai ending film Korea
tersebut. HELP!
2. Erick bawa dua contoh Nelen Matahari, buku cerita bergambar imut
yang digarapnya bersama Dea ‘Sundea’. Menurut Fadil buku itu lucu tetapi
anak-anak kecil diragukan bisa memahami joke-joke-nya.
Sementara itu kira-kira Zia berkomentar, ‘Mataharinya kayak keluar begitu saja.’
3. Di sela-sela pembacaan karya, kami mendapat
kuliah psikologi menarik dari Uut, sang sarjana psik0logi. Bertolak dari
tulisan Zia, Uut menjelaskan mulai dari definisi neurotis, klasifikasi neurotik,
sampai menjawab pertanyaan Anas, “Apakah penderita Schizophrenia dikaruniai
otak yang sangat-sangat cerdas?” Sepertinya Uut bisa dijadikan sebagai life coach Klab Nulis.***
Demi Kontinuitas Menulis, Saya Pun Membuat Diary
3 Mei 08
Klab Nulis di
toko buku Reading Lights dimulai
kurang lebih sejak jam empat sore. Yang hadir hari ini antara lain, Erick, Aji,
Uli, teman Anas, Anas, Myra, Neni, Zia, saya, dan Dea.
Pertemuan dimulai
dengan Erick, fasilitator yang membicarakan pengalamannya menonton film super hero. Film yang baru dia tonton
adalah Iron Man. Intinya omongan
Erick, meskipun Iron Man mengikuti
kaidah film super hero: ada
transformasi dari orang biasa menjadi sang pahlawan, ada mentor, ada romance, ada musuh, dan ada asisten yang
lucu, tetapi di dalam Iron Man
aspek-aspek itu dibuat menjadi sangat mungkin terjadi. Kata Erick, plausible. Dan itu bagus. Bertolak dari
film ini Erick menugaskan anak-anak untuk menulis sebuah thriller. Hmm, saya nggak terlalu yakin apa korelasinya antara film
super hero ini dengan thriller. Sepertinya ada missing link di sini. Apa menurut si
Erick Iron Man merupakan thriller?
Awalnya saya agak
kesulitan dalam menentukan ingin menulis apa. Tapi waktu terus berjalan. Erick
memberikan waktu dua puluh menit untuk menulis thriller masing-masing. Maka saya mencoba membuat tulisan sadis
garing, kira-kira begini:
Di
dinding depan ranjang terlihat siluet pisau yang meneteskan darah. Husen
gemetaran hebat di belakang pintu. Telinganya menempel ke dinding. Dadanya naik
turun seperti pompa air. Suara derap langkah ibu menandakan keberadaan beliau
yang semakin dekat saja.
“TIDAK!”
seru Nani, adik Husen. “TI ….” Tak terdengar suara lagi. Entah apa kata bapak
kalau tahu Nani mati.
Menyadari
kemungkinan bahwa ibu tengah sibuk menyantap daging Nani, Husen memberanikan
untuk melarikan diri dari kamar. Dan benar saja, dari sudut matanya, di ruang
tengah ia melihat ibu tangah menyantap paha Nani yang di betisnya masih
terpasang kaus kaki warna pink.
Sial
bagi Husen, ternyata ibu juga melihatnya. Dari telapak tangan ibu tiba-tiba
keluar sebuah rantai berujung lancip yang seketika menancap di kemaluan Husen.
Darah berhamburan. Daging berhamburan. Secara paksa Husen mencoba melepaskan
ujung rantai yang tertancap kukuh di selangkangannya. Namun, usahanya sia-sia.
Alih-alih, ibu kembali mengeluarkan rantai yang kali ini ujungnya menancap di
bahu Husen.
Kesadaran
Husen kini sudah setipis selembar tissue.
Piyama merahnya terkoyak dan semakin merah lagi oleh darah. Di dada dan
selangkangannya menancap ujung-ujung rantai yang terbuat dari logam berkarat.
Darah Husen mulai menggenangi marmer putih yang susah payah diimpor bapak dari
Italia. Ibu telah selesai dengan Nani, sementara itu badan Husen makin lama
makin terseret ke tubuh ibunya, sang monster. Di akhir hayatnya Husen berpikir,
“Sudah terlambatkah bagiku untuk menyadari akan ada kehidupan setelah
kematian?”
Kalau dibaca lagi
memang nggak begitu bagus, tapi inilah usaha terbaik saya dalam waktu dua puluh
menit. Dan rupanya ini cukup membuat beberapa teman merasa jijik, hahaha.
Tulisan
teman-teman yang lain juga bagus, kok. Myra menulis tegangnya backstreet, Zia tentang seorang ayah
yang abusive, Dea menulis Coki, Dodo,
dan Barry yang mengincar mangga, Erick tentang keterdamparan, Aji menulis sepak
bola, Uli tentang seorang perawan tua yang menghantui dukun, teman Anas menulis
tentang bangun kesiangan dan takut dosen, aih! Dengan bahasa yang puitis! Dan
Anas menulis tentang orang tersesat yang sebetulnya merupakan eksperimen.
Dapat dikatakan
Klab Nulis tadi siang cukup menyenangkan. Pengajarannya lumayan sistematik (saya
masih agak bingung, euy: korelasi Iron Man sama thriller itu apa ya?), suasananya juga nggak terlalu kompetitif.
Klab diakhiri, saya bermain scrabble
dan tiba-tiba mendapat terobosan teori tentang bagaimana pembantai tulisan Myra
sebetulnya naksir dengan Myra.
Dan Hujan pun Berhenti
December 15, 2007, 11:15 pm
Filed under:
Books




Apa? Novel bergenre teen
angst yang mengantarkan penulisnya, Farida Susanty, menjadi nominator
Khatulistiwa Literary Awards 2007 kategori Penulis Muda Berbakat. Farida ini
adalah seorang mahasiswi ITB tingkat pertama yang tengah berjuang menghadapi
masalah eating disorder.
Bagaimana? Leo adalah siswa SMA bermasalah. Tidak betah dengan
kondisi rumah orang tuanya yang selalu panas, Leo memutuskan untuk minggat ke
apartemen ibunya. Berbekal tampang indo, mobil Escudo, dan gang Bunch of Bastards Leo menjadi berandalan di sekolah sebagai
topeng untuk menutupi ketidakbahagiaannya. Kesuraman mewarnai hari-hari Leo
sampai suatu hari, setelah membakar kaca mobil temannya, ia tanpa sengaja
menggagalkan usaha bunuh diri Spiza, seorang siswi yang sempat ia yakini
merupakan reinkarnasi dari perempuan yang pernah menyentuh hatinya: Iris.
Mengapa(1)? Kebetulan saya mengenal Farida secara langsung melalui
kegiatan-seminggu-dua-kali saya, Klab Nulis Tobucil. Dalam beberapa sesi
pembacaan karya, saya kagum dengan deskripsi-deskripsi Farida yang terasa
spontan dan lepas. Ketika berbincang lebih lanjut, saya jadi mengetahui bahwa
ulikan kata Farida telah menghasilkan sebuah novel berjudul Dan Hujan pun
Berhenti, membuat saya penasaran untuk membaca novel itu. Maka ketika saya
mendengar bahwa novel tersebut masuk nominasi KLA 2007, saya langsung merasa
wajib untuk punya dan baca.
Mengapa(2)? Di antara tema kekerasan, cinta, bunuh diri, dll, ada
sebuah tema sangat menarik yang disodorkan oleh buku ini, yaitu kegagalan
sekolah, sebagai badan pendidikan, dalam membantu murid-murid bermasalah.
Segala permasalahan seakan langsung selesai dengan skorsing. Guru BK
digambarkan sebagai orang yang begitu judgmental dan tak terlalu peduli dengan
akar masalah. Seandainya sekolah memiliki sistem yang peduli dengan
siswa-siswinya tentu tragedi di Columbine tak perlu terjadi, begitu pun di
Virginia Tech. Siswa-siswi di Indonesia tak perlu gantung diri karena tak mampu
membayar pungutan sekolah. Sebetulnya sistem yang peduli murid bukan hal yang
mustahil untuk dibangun, kan?
Saya juga menyukai sepiring anggur yang disajikan sebagai kata pengantar
novel ini. Sebetulnya saya bukan penggemar penulis yang menulis kata pengantar
di bukunya sendiri. Namun di Dan Hujan pun Berhenti, selain setumpuk ucapan
terima kasih, kata pengantar juga berfungsi sebagai pembeberan proses kreatif.
Dari kata pengantar, saya mengetahui betapa hebohnya riset di balik pembuatan
Dan Hujan pun Berhenti. Akhir kata, saya berharap Farida tidak bosan untuk
terus belajar, meriset, dan menulis sehingga dapat memperkaya khazanah teenlit, atau bahkan bukan teenlit, Indonesia dengan karya-karyanya
yang bermutu.
The Fact That No One Understands You Doesn’t Make You an Artist
Sunday, December 2,
2007
Oleh Primadonna Angela
Bincang Kecil Tono
oleh dikadiman
Kisah yang baik, sepantasnya dimulai dengan kalimat pembuka dan paragraf yang
dapat menarik perhatian pembaca. Sayangnya, tidak demikian di kisah ini. Awal
yang biasa-biasa saja, membuat saya sebagai pembaca memiliki ekspektasi yang
rendah.
Dimulai dengan, “Sore hari awal perkuliahan ini tidak terasa istimewa bagi
Tono.” Reaksi awal saya sebagai pembaca, ingin berkata, “Terus kenapa?”
Memangnya yang spesial bagi Tono seperti apa? Memangnya seperti apa sih, Tono
ini? Tidak begitu jelas. Mungkin kalau diganti dengan, “Kalaupun ada yang
menciumnya di bibir pagi ini, Tono masih akan beranggapan harinya biasa-biasa
saja.” Dengan membaca kalimat ini, pembaca bisa berkesimpulan, barangkali
Tono tipe yang memandang dunia dengan pahit, atau, tak ada apa pun yang bisa
membuatnya kaget.
Dan penjabaran kisah yang apa adanya, deskripsi yang menurut saya sebaiknya
diganti aksi (show, don’t tell!), membuat kisah ini terasa semakin datar
saja. Sebagai contoh, lihat tiga kalimat dari paragraf pertama ini:
Kegagalannya meraih nilai baik pada semester pendek membuat Tono bosan
kuliah. Tidak hanya itu, ternyata kegagalan akademis ini juga membuatnya malas
bergaul. Maka, alih-alih menyapa pacar atau teman-teman, alih-alih memberi
tanda tangan pada anak-anak baru, begitu jam tangan menunjukan pukul setengah
empat, Tono langsung menuju ke ruang kuliah. Padahal perkuliahan sendiri baru
dimulai setengah jam lagi.
Tono dikisahkan sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, malas bergaul, dan
sebagainya. Daripada menceritakan apa adanya seperti ini, mungkin akan lebih
menarik kalau Tono digambarkan sedang terburu-buru menuju kelas (begitu sampai
di sana, baru diceritakan padahal kelasnya masih setengah jam lagi, jadi
sebenarnya dia tidak punya alasan kuat untuk tergesa-gesa), dengan sengaja
menghindari para mahasiswa baru, melengos saat ada yang berusaha menegurnya.
Para pembaca akan dapat menarik kesimpulan, oh, barangkali Tono orangnya
penyendiri, agak antisosial.
Tiadanya konflik juga membuat kisah ini terasa flat. Tono mau kuliah,
bertemu teman, mengaku dia homo, diterima, kemudian mendapatkan teman baru(?).
Sebagai pembaca, saya tidak merasa ada keterlibatan emosi dengan Tono. Tidak
ada misteri yang membuat saya bersemangat untuk membaca kisah ini sampai akhir.
Barangkali penulis memaksudkan, asalkan Tono mau membuka diri pada seseorang,
dia akan sadar, bahwa sebenarnya tidak semua orang punya prasangka buruk pada
homoseksualitas. Ini adalah tema atau pesan moral yang bagus, dan patut
dikembangkan.
Barangkali kalau penulis memasukkan sedikit flash back, mengenai trauma
Tono dalam menjalin persahabatan, kisah akan menjadi lebih hidup. Mungkin untuk
membangun suspense, saat Tono memberitahu Herman bahwa dia homo, ada jeda yang
signifikan. Ekspresi tertentu di wajah Herman, gerak-gerik tubuhnya, yang
membuat Tono merasa dirinya akan menerima penolakan. Lagi, (walau ternyata
tidak demikian kejadiannya.) menurut saya juga, sebaiknya dituturkan sedikit
mengapa Herman bisa menerima Tono begitu mudahnya. Apa karena dia sendiri
adalah seorang homo? Atau karena dia tipe yang mudah bersimpati? Sayangnya
karakter Herman kurang tergali, padahal sebagai teman berbicara Tono, menurut
saya, Herman sebaiknya diberikan porsi yang cukup penting.
Pesan saya pada penulis, dalam menuliskan sebuah kisah, jangan takut untuk
“menyiksa” para karakter, asalkan mereka diberi bekal untuk menanggulangi
cobaan itu. Mungkin akan lebih seru dan menggigit kalau Tono mengalami hari
yang benar-benar menyebalkan, hingga saat bertemu Herman, dia belum apa-apa
sudah emosi? Atau, saat Herman ingin bertanya lebih lanjut pada Tono mengenai
homoseksualitas (bukan untuk mencela, hanya sekadar ingin tahu), Tono
marah-marah atau langsung berprasangka buruk? Saya yakin, penulis pasti mampu
menuliskan adegan yang lebih memesona bagi pembaca, dengan sedikit latihan!
Hasil resensi yang diadakan oleh kemudian.com. Ada dua kemungkinan positif
yang bisa diambil dari sini:
- Saya terpacu untuk terus
melatih pembukaan dan pendalaman karakter. Atau:
- Saya bisa jadi lebih fokus mendalami
ilmu hubungan internasional (bercanda).
The Office
November 28, 2007, 9:07 am
Filed under:
Television
Apa? Serial televisi Amerika Serikat yang diadaptasi dari
serial produksi BBC Inggris yang berjudul sama. The Office pertama kali diputar
di NBC sebagai serial baru di tengah musim. Pada awal kemunculannya serial ini
disebut-sebut gagal menyamai kelucuan yang dicapai The Office buatan Inggris.
Namun seiring dengan bergulirnya musim kedua, The Office Amerika ini mulai
menemukan karakternya dan mendapatkan rating yang cukup kuat. Eh
ngomong-ngomong meskipun bergenre komedi, The Office ini bukan sitkom. Bisa
dibilang serial ini adalah mockumentary. Selain pengadeganan standar, ada saat
di mana tokoh-tokohnya berbicara straight to the camera (kurang lebih seperti John
Cusack di High Fidelity). Castnya antara lain: Steve Carell,
Rainn Wilson,
John
Krasinski, Jenna Fischer, B.J. Novak.
Bagaimana? The Office bercerita tentang keseharian di sebuah kantor
cabang perusahaan kertas Dunder Mifflin di Scranton, Pennsylvania. Membosankan?
Tunggu dulu sampai bertemu dengan karyawan-karyawannya! Mulai dari Michael si
bos eksentrik, sampai dengan Ryan, pegawai magang yang hampir membakar kantor.
Siapa? Berhubung kelucuan The Office terkait erat dengan
karakterisasi tokoh-tokohnya. Kali ini saya mencoba mendeskripsikan sebagian
karakter-karakter dalam The Office.
-Michael Scott: Regional Manager Dunder Mifflin, Scranton ini termasuk
orang yang mempunyai gambaran yang salah tentang dirinya sendiri. Hm, mungkin
semua orang begitu, tapi Michael ini termasuk sangat parah. Michael menganggap
dirinya adalah bos yang baik, lucu, dan pengertian. Namun pada prakteknya, para
karyawan menganggap Michael adalah bos yang merepotkan, cenderung meremehkan
karyawan: perempuan, ras minoritas, penderita obesitas, sampai homoseksual,
dengan ide yang selalu salah sasaran. Hm, bisa dibilang serial ini cocok untuk
penikmat humor sinis berselera sadis, tapi lama-lama humornya jadi nggak
terlalu sadis, kok.
-Dwight Schrute: Pria berkacamata ini sebetulnya adalah sales terbaik yang
dimiliki perusahaan. Namun lagi-lagi tokoh ini eksentrik. Dwight itu tipikal
karyawan yang haus kekuasaan tapi agak bodoh. Semacam wet blanket bagi karyawan
yang lain. Dwight besar di sebuah tanah pertanian Amish. Ketika dewasa, Dwight
jadi percaya Star Trek, Lord of the Ring, Battlestar Galactica, Harry Potter,
pokoknya segala hal yang berhubungan dengan fantasi. Di akhir pekan Dwight
biasa menjadi sukarelawan di kantor Sherif.
-Jim Halpert: Berbeda dengan Michael dan Dwight, Jim ini termasuk normal.
Dia pintar dan gampang disukai. Masalahnya Jim bekerja di Scranton, tempat di
mana dia nggak bisa menggali potensinya lebih jauh. Untuk menjaga kewarasannya,
Jim menjalin hubungan romantis kering dengan Pam, yang sebenarnya sudah bertunangan.
Bersama Pam inilah Jim melakukan kejailan-kejailan kecil kepada Dwight.
-Pam Beesly: Sebetulnya Pam ini ingin menjadi ilustrator buku anak-anak,
tapi dengan alasan keamanan akhirnya dia bekerja sebagai resepsionis. Pam
bertunangan dengan Roy, pegawai gudang, juga dengan alasan keamanan. Di mana
sebetulnya ia takut untuk sendirian. Gampang ditebak, demi menjaga kewarasan
akhirnya Pam bersahabat baik dengan Jim. Sepanjang musim pertama dan kedua,
roman kering antara Pam dan Jim termasuk ke cerita sentral.
Selain Michael, Dwight, Jim, dan Pam sebetulnya masih ada banyak karakter
yang nggak kalah menarik untuk diceritakan. Cuma malas ngetik saja.

THE OFFICE — Pictured: (l-r) Standing: Phyllis Smith as Phyllis Lapin,
Paul Lieberstein as Toby, Oscar Nuñez as Oscar Martinez, Jenna Fischer as Pam
Beesly, Angela Kinsey as Angela, B.J. Novak as Ryan Howard, Creed Bratton as
Creed, Steve Carell as Michael Scott, Brian Baumgartner as Kevin, Kate Flannery
as Meredith Palmer, Melora Hardin as Jan Levinson, Leslie David Baker as
Stanley, David Denman as Roy; Seated: John Krasinski as Jim Halpert, Mindy Kaling
as Kelly, Rainn Wilson as Dwight Schrute — NBC Photo: Mitchell Haaseth
Mm, DVD
bajakan The Office sudah beredar sampai musim ketiga. Musim pertama dan kedua
gambarnya dan subtitle bagus. Musim ketiga gambarnya dari TV tapi tertolong
dengan subtitlenya yang lumayan. Dari segi cerita sih favorit saya musim kedua.