futualblog


2 Days in Paris
November 23, 2007, 5:19 pm
Filed under: Film

2_days_in_paris_1


Apa? Film bergenre komedi romantis yang ditulis, disutradarai,
dibintangi, bahkan di-scoring-i oleh Julie Delpy (Before Sunrise, Before
Sunset). Selain Delpy, film yang dirilis tahun 2007 ini juga dibintangi Adam
Goldman (mantan Delpy dalam kehidupan sebenarnya) dan kedua orang tua kandung
Delpy.

 

Bagaimana? Jack, seorang Yahudi-born-Amerika, tengah berlibur di
Eropa bersama dengan pacar-dua-tahunnya, Marion, si fotografer asli Perancis. Setelah
Venice, pasangan itu singgah dua hari di Paris, hometown Marion. Di sana mereka
tinggal di apartemen satu kamar di atas kediaman orang tua Marion. Dari sini
dimulailah momen lost in translation Jack, di mana ia berhadapan dengan orang
tua Marion yang tak berbahasa Inggris, perdebatan Marion-sopir taksi yang tidak
ia mengerti, sampai ‘teman-teman pria’ Marion yang membuat Jack sangat cemburu.

 

Mengapa? Heuhh, saya selalu punya soft spots buat komedi-komedi
romantis. Mulai dari yang bersetting jadul (Sense and Sensibility, A Knight’s
Tale, Pride and Prejudice) sampai yang bersetting masa kini (Must Love Dogs,
Love Actually, Moonstruck). Maka saya langsung tertarik ketika mendengar Julie
Delpy membuat film tentang perjalanan dua hari pasangan Amerika-Perancis di
Paris. Saya bertanya-tanya, wah, apa ini semacam pengulangan Before Sunset?
Before Sunset adalah film full dialog buatan sutradara favorit saya Richard
Linklater (Before Sunrise, School of Rock) yang dibintangi Ethan Hawke juga
Julie Delpy sendiri. Apakah Delpy bisa mengulang atau bahkan melampaui sukses
Before Sunset? Dan pertanyaan-pertanyaan itu pun terjawab ketika akhirnya saya
menonton 2 Days in Paris: film ini sangat segar dan layak tonton!

Meskipun settingnya sama, film ini berbeda dengan Before Sunset. 2 Days in
Paris bertutur dengan caranya sendiri. Temanya matang, komedinya nggak slapstick,
dan romantisnya nggak picisan. Kebetulan di DVD bajakan yang saya tonton
subtitlenya buruk, tapi justru membuat saya makin paham bagaimana si Jack
merasa terkucilkan di tengah orang-orang berbahasa Perancis. Menurut saya yang juga
bikin film ini tambah oke adalah narasi voice overnya. Manis dan personal.
Kalau sedang ingin feel good daripada baca buku self helping mending nonton
film ini saja.



The Boy in the Striped Pyjamas
November 18, 2007, 3:24 pm
Filed under: Books

Stripedpyjamas





















Apa? Buku
karangan John Boyne produksi tahun 2006 yang edisi berbahasa Indonesianya telah
diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

 

Bagaimana? Bercerita
tentang kehidupan seorang anak laki-laki bernama Bruno.

 

Hah? Pokoknya
buku ini highly recommended. Titik. Bukan apa-apa, tapi sebaiknya pas baca buku
ini kita nggak tahu tentang apa yang ditulis. John Boyne, sang pengarang,
sangat marah ketika harian terkemuka The Guardian
dalam reviewnya mencantumkan ending buku ini. Yang bisa diceritakan paling
proses kreatif pengarangnya, di mana konon Boyne menulis draft pertama buku ini
hanya dalam dua hari saja(!). Selama dua hari itu Boyne nggak tidur, ia
langsung menulis inspirasi yang ada di kepalanya. Hm, kabarnya buku ini sedang
dibuat filmnya. Mudah-mudahan bisa sebagus bukunya.



Krisis
November 15, 2007, 1:33 pm
Filed under: Me and My Pathetic Life

Belakangan ini saya merasakan ada yang salah dengan diri saya. Ada banyak
tanda yang mengindikasikan bahwa saat ini saya sedang bermasalah.

 

Indikator 1

Sebagai orang yang gemar membaca, saya otomatis gemar belanja buku. Biasanya
buku yang saya beli, akan cepat saya baca. Apabila saya terlihat lagi di toko
buku, artinya saya sudah selesai membaca semua buku yang dibeli sebelumnya. Namun
saat ini saya mendapati setumpuk buku yang sudah lama dibeli tapi belum juga
selesai dibaca, bahkan ada yang belum disentuh sama sekali:

1) Vernon God Little
karya DBC Pierre. Pas pertama kali baca, saya agak terganggu dengan terjemahan
buku ini yang agak kurang lazim. Mabok setelah baca beberapa halaman, buku ini
pun saya tinggalkan. Eeh, tahu-tahunya beberapa bulan kemudian buku ini
direview oleh kolom Pustakaloka di harian Kompas. Alhasil saya, yang
‘mainstream’ ini, jadi merasa ada kewajiban untuk membaca buku ini sampai
tuntas. Namun kenyataannya buku itu belum saya keluarkan lagi dari lemari.

2) Orang-Orang Proyek
karya Ahmad Tohari. Buku ini sedang kubaca, tapi entah kapan selesainya karena
saya bahkan sekarang jarang membaca buku.

3) Abarat II karya
Clive Barker. Buku ini belum dibaca karena dibeli secara patungan bersama kakak.
Excuse macam apa itu?! Tetap saja buku ini jadi prioritas terakhir untuk bacaan
saya.

4) The Heart is a
Lonely Hunter karya Carson McCullers. Sebetulnya saya nggak sabar untuk baca
buku ini, tapi saya nggak enak bacanya kalau belum menyelesaikan Orang-Orang
Proyek nya Ahmad Tohari.

5) Wilt karya Tom
Sharpe. Selain overpriced (dasar gagas!), ternyata terjemahan buku ini juga
kurang menarik.

6) The Firework-Maker’s
Daughter karya Philip Pullman. Ini baru sekali dibuka sejak dibeli minggu lalu.

7) In Cold Blood karya
Truman Capote. Buku ini malah belum dibaca sama sekali.

8)  A Word Child karya
Iris Murdoch. Buku ini didapat karena memenangkan lomba scrabble secara
kontroversial. Berhubung pakai bahasa Inggris, usaha saya membaca buku ini
mentok pada halaman pertama.

 

Mengapa ini semua dianggap indikator krisis dalam diri saya? Karena saya
nggak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti! Secara kalap saya konstan
mengeluarkan uang tanpa melalui pertimbangan cerdas yang biasa dilakukan. Tadi
siang di kampus saya beli bukunya Ong Hok Ham yang dijual pada acara November
Festival. Tidak hanya itu, saya juga berniat untuk beli/baca Jukstaposisi:
Cerita tuhan Mati karya Calvin Michel Sidjaja, buku karangan kakak kelas (HI
Unpar 2004!) yang jadi Juara III Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian
Jakarta. Selain itu saya juga merasa perlu untuk membaca Dan Hujan pun Berhenti
karya Farida Susanty, sesama anak Klab Nulis yang novelnya ini masuk sepuluh besar
Khatulistiwa Award 2007 kategori Penulis Muda Berbakat, di mana saya betul-betul
appreciate dengan apa yang sudah dia lakukan. Hah! Bukannya masih ada banyak
buku yang bisa dibaca?

 

Indikator-Indikator
yang Lain

Selain belanja buku yang nggak berhenti, saya sekarang punya kebiasaan lain
yang nggak bisa berhenti pula:

1) Duduk di depan
televisi tanpa henti. Entah untuk nonton acara televisi ataupun nonton DVD. Dua
minggu terakhir ini kurang lebih saya sudah nonton kurang lebih sepuluh film
(baik yang diputar di TV maupun di DVD). Sebut saja: Zodiac, Year of the Dog,
All About My Mother, Breaking and Entering, Moonstruck, dll. Maraton season
lima Seinfeld. Jelas ini nggak sehat.  Kalau biasanya di depan TV itu dua-tiga jam, sekarang bisa sampai lima jam lebih.

2) Saya nggak terlalu
menggemari internet, tapi entah kenapa sekarang setiap ada jeda iklan di
televisi bawaannya online teruus. Entah cek e-mail, cek kemudian.com,
blogwalking, dll. Kalau cuma sebentar sih nggak apa-apa, tapi pada kasus saya
saat ini sudah sampai pada taraf yang mengganggu.

3) Bergesernya jam
kuliah pada hari Senin ternyata berpengaruh juga. Saya sekarang jadi nggak bisa
ikutan Klab Nulis Senin yang notabene lebih penting karena ada sesi menulisnya.
Dodolnya, waktu luang akibat hilangnya Klab Nulis Senin dari jadwal mingguan
tanpa pikir panjang saya isi dengan mengikuti Klab Filsafat, yang ternyata
membuat saya tambah tertekan. Memang materi yang didiskusikan sangat menarik,
memang para klabber-nya juga menarik. Masalahnya pendapat/pertanyaan yang
muncul dalam diskusinya membuat saya tergugah, membuat saya mempertanyakan diri
sendiri, membuat saya berharap lebih banyak pada diri sendiri. Dan lagi,
mungkin kedengarannya dangkal, saya jauh lebih muda daripada klabber lainnya. Apa
yang sedang saya perhatikan rasanya tidak sesignifikan pengalaman hidup klabber
lainnya, saya merasa masih ingusan. Ya sudah berhenti datang saja! Nggak bisa
begitu, saya masih bisa mengikuti, kok. Dulu pas pertemuan-pertemuan awal Klab
Nulis, saya juga sering males kok. Butuh waktu lagi untuk bisa beradaptasi.

4) Temperamen yang
buruk.

 

Saya jadi teringat dengan komik Slam Dunk. Ada saat di mana Pak Anzai,
pelatih Shohoku, menasihati Sakuragi dengan kalimat yang mengesankan saya. Bunyinya
kira-kira begini: proses belajar untuk jadi lebih baik dimulai dari kesadaran
dan pengakuan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan

 

Analisis dan Solusi

Saya menduga indikator-indikator ini muncul akibat ketidakmampuan saya
menyelesaikan masalah yang ada di hadapan saya. Buku, televisi, internet, klab,
semuanya saya jadikan pelarian. Masalahnya malah nggak disentuh sama sekali. Saat
ini misalnya, bukannya mengerjakan power point untuk presentasi tugas BIHI yang
akan dipresentasikan besok (Huaaaa!), saya malah sibuk membuat tulisan untuk
diposting di blog. Meskipun ini dilakukan bukan tanpa alasan (di mana blog ini
ditulis duluan sebagai refleksi agar saya semangat buat power point), tapi ini
nggak bisa terus-terusan. Waktu terus berjalan, skala prioritas harus terus
dibuat.

 

Jadi bagaimana dengam buku dan yang lainnya?

1) Untuk buku. Sebelum
beli buku baru lagi saya berkomitmen untuk menyelesaikan membaca paling tidak
setengah dari buku yang belum dibaca. Saya berjanji pada diri sendiri.

2) Untuk televisi.
Rencananya dalam sehari saya hanya akan menonton maksimal tiga acara televisi
reguler dan satu film saja. Dengan begitu saya punya waktu untuk mengerjakan
hal-hal lainnya. Menulis fiksi misalnya. Mungkin ini saatnya untuk mulai
melepas ketergantungan pada latihan menulis Klab Nulis. Di mana hal-hal seperti
setting, plot, penokohan, dialog, harus rajin-rajin saya latih sendiri.

3) Untuk Internet. Akan
saya batasi sehari dua kali saja: pagi dan malam. Masing-masing antara setengah
jam sampai satu jam saja.

4) Untuk dilema Klab
Filsafat. Saya harus bisa menarik garis batas, di mana ada hal-hal di mana saya
harus bisa kritis sesuai dengan apa yang saya yakini. Jadi intinya ada pegangan
sehingga saya nggak merasa ada tekanan.

5) Untuk temperamen
yang buruk. Sabar. Gampang dikatakan susah dilakukan. Tarik napas dalam-dalam. Perlakukan
orang lain bukan sebagai obyek, melainkan subyek yang juga punya perasaan.

 

Rasanya cukup.



Zodiac
November 11, 2007, 6:11 pm
Filed under: Film

408pxzodiac32432

























Apa? Film suspense produksi tahun 2007 ini disutradarai oleh David Fincher
(sutradara Se7en, The Fight Club, dll). Aktor-aktrisnya keren-keren antara lain
Jake Gyllenhaal, Mark Ruffalo (aktor kesukaanku), Robert Downey Jr., Chloe
Sevigny dll.

 

Bagaimana? Berdasarkan kisah nyata, kota San Francisco pada dekade
70an dirudungi sebuah momok. Momok itu berupa pembunuhan beruntun yang
dilakukan oleh seorang yang menamakan dirinya sebagai ‘Zodiac’. Meskipun sering
membunuh, hebatnya kedok si Zodiac ini tidak pernah berhasil diungkap oleh
polisi. Padahal setelah membunuh Zodiac selalu menghubungi polisi dan mengontak
surat kabar terkemuka. Robert Graysmith, seorang komikus lurus [tidak merokok,
minum, atau mengumpat (not that there is something wrong with them)] yang
bekerja di surat kabar penasaran untuk mengungkap kedok Zodiac. Sebagian besar
film ini menceritakan usaha polisi, reporter kriminal surat kabar, dan Robert
Graysmith yang diperankan Jake Gyllenhaal dalam memecahkan misteri indentitas
Zodiac.


Mengapa? Film ini signifikan karena super luar biasa keren.
Konklusinya tidak instan. Rentang waktu film ini antara akhir enam puluhan
sampai pertengahan tahun sembilan puluhan. Nonton film ini sekilas aku teringat
dengan All the President’s Men (filmnya
Alan J. Pakula, dibintangi Robert Redford dan Dustin Hoffman) yang bercerita
tentang investigasi kasus Watergate di AS. Menurutku kesamaan antara dua film
itu, selain sama-sama bertema investigasi, adalah keduanya menggambarkan
situasi bekerja di sebuah surat kabar besar pada tahun 70an. Mmm, jadi pengen
tahu rasanya hidup di masa itu. Yang menarik sebenarnya film ini disiapkan
untuk berkompetisi dalam Oscar 2007, tapi karena durasinya terlalu panjang
(sebelum diedit lagi sampai tiga jam lebih) akhirnya film ini dirilis untuk
berkompetisi dalam Cannes saja. Versi yang kutonton durasinya cuma dua jam
lebih. Sayang di DVD bajakan yang kusewa nggak ada special features nya, jadi
adegan yang dipotong nggak bisa diliahat. Aku sempet bingung kok film sekeren
ini nggak terlalu kedengeran gaungnya, tapi itulah gunanya DVD kan?



The Kite Runner
November 8, 2007, 3:45 am
Filed under: Books

Kite_runner

















Apa? Buku yang
ditulis oleh
Khaled
Hosseini
ini merupakan buku ketiga paling laku di Amerika Serikat
pada tahun 2005 menurut Nielsen rating. Edisi berbahasa Indonesianya
diterbitkan oleh penerbit Qanita dan diterjemahkan oleh Berliani M. Nugrahani
(yang menerjemahkan buku favoritku Middlesex dengan sangat baik).

 

Bagaimana? Buku ini bercerita tentang persahabatan beda kasta yang
terjalin di Afghanistan pada tahun 70an. Afghanistan pada masa itu merupakan
negara berkembang yang tidak tertinggal modernisasi (diceritakan film Charles
Bronson masuk ke Afghanistan dan didubbing dalam bahasa Iran, jangan disamakan
dengan Afghanistan era Taliban). Persahabatan dalam buku ini terjalin antara
dua orang anak lelaki, Amir dan Hassan. Persahabatan mereka tidak berbeda
dengan persahabatan lainnya di mana selain ada saat-saat menyenangkan, ada juga
saat-saat ketika yang satu mengecewakan yang lain.

 

Mengapa? Ceritanya sangat logis dan believeable. Penulisnya
sendiri lahir dan tumbuh di Afghanistan pada masa yang sama ketika tokoh cerita
ini hidup. Selain itu buku ini punya kadar drama yang hebat. Semua hal yang
disinggung dalam cerita memang betul-betul menyentuh. Sebut saja: persahabatan,
iri hati, perbedaan kasta, kadang-kadang uang bukan segalanya, masalah perang,
kesempatan untuk mulai hidup baru, pengkhianatan, petualangan, sampai rahasia.
Lengkap untuk nangis-nangisan, bukan berarti ini buku yang cengeng.



Efter brylluppet aka After the Wedding
November 3, 2007, 9:55 pm
Filed under: Film

After_the_wedding_2


Apa?
Film drama produksi Denmark ini masuk nominasi Oscar
untuk film berbahasa asing terbaik tahun 2006. Sutradaranya Susanne Bier (
Things We Lost
in the Fire
).

 

Bagaimana? Ceritanya tentang Jakob, seorang pria bule single
idealis  (it’s not that there is something wrong about them) pengelola panti asuhan bagi anak-anak miskin di India. Bule itu
dihadapkan pada fakta bahwa dirinya mesti kembali lagi ke Denmark, tanah
kelahiran pun masa lalunya. Tujuan Jakob pulang kampung adalah mencari sokongan
dana bagi panti asuhan yang dikelolanya. Ia berniat kembali ke India segera
setelah urusan dengan donatur rampung. Namun rupanya di Denmark Jakob menemukan
bahwa ternyata ia punya keluarga yang juga harus dipertimbangkan.

 

Mengapa? Film ini signifikan karena ceritanya logis, sederhana
tapi digarap dengan total. Benar-benar total. Plotnya yang lurus (yang
berpotensi membosankan) dibuat jadi indah dengan angle kameranya yang luar biasa.
Kasarnya After the Wedding adalah versi bagusnya Heart [meskipun antara film
ini dan Heart bisa diibaratkan seperti langit dan bumi (hahahahahah)]. Secara
pribadi yang membuat saya suka dengan After the Wedding adalah lagu-lagunya. Pembukaannya
saja Sigur Ros yang Vaka. Pedih tapi uplifting, film ini sangat direkomendasikan.



Middlesex
October 26, 2007, 6:05 am
Filed under: Books

Middlesex_novel_1



Buku ini bercerita tentang seorang anak hermaprodit dan keluarganya. Penulisnya
adalah Jeffrey Euginides yang buku pertamanya, The Virgin Suicides, telah
difilmkan oleh salah satu sutradara favoritku, Sofia Coppola.

Deskripsi buku ini sangat kaya. Membahas banyak hal, mulai dari kebudayaan
Yunani, isu-isu populer pada tahun 40-70an (kisaran latar buku ini kurang lebih
memang seluas itu), kepribadian dan interaksi antara masing-masing tokoh. Semuanya
tergambar dengan jelas. Tidak heran kalau buku ini jatuhnya sampai 800 halaman
(edisi Bahasa Indonesia), walaupun begitu buku ini terus membangkitkan rasa penasaran sehingga terasa ringan di kepala. Saya meyakini salah satu faktor yang bikin buku ini mudah dibaca adalah alih bahasa yang sangat baik oleh Berliani M. Nugrahani (dia masih 26 tahun!). Meskipun ada beberapa kekurangan yang nggak etis
untuk diungkap di sini (demi nggak spoiler), buku ini sangaat direkomendasikan.



Dialog Lost in Translation
October 19, 2007, 10:39 pm
Filed under: Film

388pxlost_in_translation_movie_2

























Ada untungnya juga lebih milih nonton Lost in Translation daripada
film-film horor Indonesia. Ada aja dialog yang berbekas. Contohnya yang ini:

 

Charlotte: I’m stuck …. Does it get easier?

 

Bob : No …. Yes. It gets easier.

 

Charlotte : Oh yeah? Look at you.

 

Bob : Thanks.

 

Charlotte : (Chuckles).

 

Bob : The more you know who you are … and what you want
… the less you let … things upset you.

 

Charlotte : Yeah. I just don’t know what I’m supposed to be. You
know? I tried being a writer, but I hate what I write. And I tried taking
pictures. but they’re so mediocre, you know. Every girl goes through
photography phase. You know, like horses? You know? Take, uh, dumb pictures of
your feet.

 

Bob : You’ll figure that out. I’m not worried about you.
Keep writing.

 

Charlotte : But I’m so mean.

 

Bob : Mean is okay.

 

Charlotte : Yeah?

 

Yang jadi Bob si Bill Murray, yang jadi Charlotte si Scarlett Johansson,
yang jadi John, suami Charlotte, si Giovanni Ribisi. Aktingnya bagus-bagus.
Sebetulnya ini cuma sepenggal dialog dari salah satu adegan di mana Bob dan
Charlotte berusaha untuk bisa tidur malam. Saya haha-hihi pas bagian, ‘I tried
being a writer …”. Dialog ini aslinya lebih panjang lagi. Penasaran? Tonton
lagi deh filmnya.



Kenangan Mudik yang Nyaris Terlupakan
September 27, 2007, 6:20 am
Filed under: Me and My Pathetic Life

Saya ikut mudik
bersama keluarga begitu cukup besar untuk melakukan perjalanan panjang. Bagi kedua
orang tua saya yang perantau, papa asli Solo dan mama asli Magelang, mudik
hukumnya wajib. Tali silaturrahmi harus tetap tersambung, tegas mereka. Maka setiap
lebaran orang tua saya mengambil cuti dan memboyong dua anaknya menemui
keluarga besar di kampung halaman.

 

Agar terhindar
dari kemacetan arus lalu lintas, biasanya keluarga kami berangkat dari rumah di
Bandung sebelum H-7. Selain itu kami sering melakukan perjalanan malam.
Perjalanan malam memudahkan saya lekas tidur dan baru bangun ketika sudah
sampai di rumah orang tua papa di Semarang. Kami selalu menginap beberapa hari di
Semarang sebelum hari lebaran pertama. Pada malam takbir baru kami pindah ke
rumah orang tua mama di Magelang. Pengaturan ini disebabkan keluarga papa
sebagian besar nasrani. Mereka maklum bila keluarga kami merayakan lebaran di
rumah orang tua mama yang berlatar belakang muslim.

 

Ketika masih kecil,
mudik adalah salah satu kegiatan tahunan yang selalu saya nantikan. Saya, yang
waktu itu belum kenal puasa, tarawih, dan putus asa karena macet, selalu tak
sabar untuk bermain bersama sepupu-sepupu yang jarang saya temui. Ke Semarang berarti
main-kartu-yang-kalah-dicolek-bedak, petak umpet tengah malam di pabrik
timbangan milik eyang, dan memanggil tukang bakso yang mangkal di ujung jalan. Ke
Magelang berarti memanjat pohon kersen, tiduran di dangau tengah sawah,
jauh-jauhan melempar sendal di pekarangan, juga berlebaran dengan anak-anak
panti asuhan milik orang tua mama. Di mana-mana disangoni, seru!

 

Waktu tak pernah menunggu.
Semakin besar saya jadi semakin terikat dengan kesibukan di kota tempat saya menetap.
Bermain dengan sepupu di kampung halaman bukan lagi hal yang sangat saya
tunggu. Begitu juga dengan yang lain. Ada banyak hal yang terjadi dalam
keluarga besar kami, di Semarang: serangan stroke eyang kakung dan eyang putri,
kematian eyang kakung, kematian eyang putri, air pasang laut yang kerap
membanjiri rumah, dan peninggian rumah yang banyak menghilangkan kenangan masa
kecil. Di Magelang: sepupu yang tak lagi datang saat lebaran, kesumpekan rumah
Magelang, kematian kakek, pohon kersen yang dipotong pendek nenek karena
dianggap berbahaya, dan krisis ekonomi. Internal keluarga kami: kematian papa
dan kakak yang kini enggan mudik.

 

Perubahan membawa
banyak perbedaan pada keadaan keluarga kami. Memang tak sedrastis perbedaan
nilai seratus ribu rupiah sebelum dan sesudah tahun sembilan tujuh yang membuat
saya berharap dulu uang sangu dibayar
dengan dollar. Namun perbedaan tetap menuntut adaptasi dari kami, sebagai
anggota keluarga. Dan kami pun beradaptasi dengan cara kami masing-masing.
Acara menginap di Semarang hilang digantikan acara berkunjung. Ini berarti saya
bertemu dengan para sepupu hanya dalam hitungan jam. Nenek di Magelang
mengabaikan kesulitan anak-anaknya yang sebagian besar tinggal di bagian barat
pulau Jawa. Beliau bersikeras melanjutkan tradisi berlebaran di Magelang. Naluri
berbakti membuat mama mengabaikan saya dan kakak yang malas bila harus ikut
bermacet-macet dalam perjalanan mudik. Tanpa perlawanan, mama setuju dengan
tekad nenek melanjutkan tradisi mudik ke Magelang.

 

Ketika Semarang
hanya dinikmati dalam hitungan jam, perjalanan mudik di benak saya hanya
tentang nenek di Magelang. Tekad mulia nenek tak diikuti dengan pengembangan
yang membuat anak cucunya tetap ketagihan datang ke kampung halaman. Bertambahnya
usia membuat nenek enggan berubah. Rumah nenek sangat minim teknologi. Contoh
konkret, di sana tak ada kulkas ataupun kompor gas. Nenek masak pakai kayu,
mungkin kedengaran romantis, tapi jadi depressing
begitu asapnya masuk ke dalam rumah. Hal ini secara nggak langsung membuat
masakan nenek jadi tak higienis. Semut di sop merupakan hal yang lazim. Cicak
dan kecoa sering dijumpai di meja makan. Dodolnya hal itu tak mengurangi gairah
nenek untuk memasak. Alhasil setiap lebaran paling sedikit dua tante bekerja di
dapur siang malam mengawasi mutu makanan yang dimasak nenek.

 

Rumah nenek juga
sangat kekurangan di departemen hiburan. Di sana tak ada satu pun permainan
anak besar. Tidak ada monopoli, ular tangga, ludo, halma, kartu (nenek percaya semua
permainan kartu adalah judi), play
station
, apalagi jaringan internet dua empat tujuh. Otomatis cucu nenek
yang sudah besar cenderung memojok di sudut masing-masing. Mereka sibuk dengan
ponsel, play station portable, atau
mainan lain yang mereka bawa sendiri-sendiri. Merasa bosan, kebanyakan dari
mereka tak kembali lagi saat lebaran. Ini sudah tidak seru lagi, tetapi pusing!

 

Mudik. Saya rindu
bertemu sepupu, menyapa, mengobrol, dan bersenda gurau. Saya tak rindu
kemacetan, masakan nenek, dan kebosanan yang biasa menemani saya di kampung
halaman.

 

Sampai saat ini
mama masih meminta agar saya dan kakak saya ikut mudik ke Magelang. Saya pun bertanya,
buat apa mudik, Ma? Untuk menyenangkan nenek, jawab mama. Buat apa menyenangkan
hati orang yang tak peka dengan keadaan kita? Tanya saya lagi. Hus! Seru mama. Begitu-begitu
dia ibu mama.

 

Tahun ini saya
belum tahu akan mudik atau tidak. Rasanya tidak nyaman. Kalau dipaksa takutnya
membuat kenangan indah mudik jadi semakin kabur. Kalau ditinggal berpotensi
membuat keluarga di Semarang dan nenek menjadi sedih. Nenek pasti sedih karena
berpikir keluarganya sudah malas bersilaturrahmi. Ya nenek, pikir saya kecewa.

 

Kalau saja nenek
murah hati menyisihkan uang untuk memasang internet di rumah. Kalau saja nenek
mau membuka diri pada Friendster
maupun My Space. Nenek kan jadi
mengerti bahwa jalur silaturrahmi sekarang tak cuma lewat mudik saja.



Apel Jeruk dan Penggemar Jeruk
September 25, 2007, 6:42 am
Filed under: Fiksi

LEBARAN

“Minal Aidin, Danang.”
“Sama-sama, Bude.”
“Sekarang kamu kelas berapa?”
“Kelas tiga, Bude.”
“Oh ya! Kamu kan sebaya sama anak bude, si Joko! Joko mau
melanjutkan ke perminyakan ITB, katanya gampang kerja, doakan dia lulus ya? Memang
masuknya sulit, tapi dia tahu bakatnya memang di situ, doakan dia ya?”
“Iya Bude.”
“Kamu mau melanjutkan ke mana?”
“Ke Marnat, Bude. Kemarin saya lulus USM nya di jurusan kedokteran.”
“Nggak ikut SPMB?”
“Nggak Bude. Hahaha, saya sadar kemampuan, hahahaha.”
“Begitu? Jadi maksud kamu Joko nggak sadar kemampuan?”
“Wah! Ya nggak begitu bude! Saya…”

 

KETIKA KAKEK MENINGGAL

“Pakde, saya ikut berduka cita.”
“Wajarlah ‘Nang, beliau kan kakekmu juga.”
“Kata Mama, Pakde paling dekat sama kakek. Ya sudahlah.”
“Iya sudah. Ngomong-ngomong bagaimana kedokteran Marnat?”
“Nggak gimana-gimana, Pakde.”
“Senang di kampus?”
“Ya, Pakde.”
“Banyak teman?”
“Ada, Pakde.”
“Kalau si Joko temannya banyak, setiap hari di rumah ada saja temannya yang
datang, Joko itu anaknya aktif di kampus.”
“Iya, Pakde.”
“Kamu ikut kegiatan apa di kampus?”
“Ngg, nggak ikut apa-apa, Pakde, hahaha.”
“Nggak ikut apa-apa?”
“Ya, paling di semester depan kalau belajarnya sudah mantap saya mau coba jadi
reporter jurnal jurusan.”
“Biasanya kalau ditunda-tunda orang jadi malas.”
“Hahaha, saya kagum sama Joko, kampus di ITB, kuliah di jurusan favorit, sempat
juga ikut kegiatan kampus, hebat.”
“Kamu nyindir ya? Danang, kampus Joko bukan di ITB, dia sekarang kuliah di
polman!”
“Ah! Maaf, Pakde, saya kira …, ah sudahlah …”

 

DI GEDEBAGE

“Bude!”
“…”
“Bude Sum!”
“Danang?”
“Ternyata memang betul Bude Sum, saya kira salah orang, habis dipanggil nggak
noleh-noleh sih!”
“…”
“Bude sedang apa di sini?”
“Biasalah, belanja baju. Kamu?”
“Habis belanja baju juga, baru mau pulang, eh lihat Bude.”
“Begitu? Kamu belum punya pacar, ya? Belanja baju kok sendirian.”
“Belum, Bude.”
“Hah belum!? Si Joko sudah, pacarnya orang sunda, hitam manis, berjilbab,
anaknya sopan pisan, kuliahnya di psikologi Unpad! Bude jadi tenang, eh
sekarang kamu sudah tingkat tiga, ya?”
“Iya Bude.”
“Di sana ada teman yang islam nggak?”
“Ada, Bude.”
“Ada dosen yang islam?”
“Ada, Bude.”
“Banyak yang keturunan Cina?”
“Tergantung jurusannya, Bude.”
“Kalau mereka agamanya apa ya?”
“Wah kurang tahu, Bude.”
“Bukan islam ya?”
“Mungkin, Bude.”
“Hati-hati kamu! Jangan terlalu pilih-pilih nanti dapetnya malah yang nggak
seiman, beda latar belakang. Ke depannya susah! Jangan harap dapat restu dari
…”

TELEPON

“Assalamualaikum.”
“Iya halo? Di sini rumah Pak Mardi.”
“Danang? Assalamualaikum.”
“Oh Pakde, ya? Mau bicara sama papa, ya? Papa lagi istirahat, nanti saya
pesenin, biar papa yang telepon balik.”
“Ya sudah. Danang baru wisuda, ya?”
“Nggak baru juga sih, Pakde. Saya diwisuda awal tahun ini.”
“Apa?”
“Nggak baru …ah, bukan apa-apa kok Pakde.”
“Si Joko semester depan lulusnya, kamu sekarang sibuk kerja apa?”
“Nggak ngapa-ngapain, Pakde. Paling sekarang saya ambil kursus bahasa Jerman,
rencananya Desember ke Jerman, ngelanjutin kuliah.”
“Kamu sekarang ada usaha sampingan nggak?”
“Nggak ada, Pakde.”
“Kalau Si Joko lagi bisnis studio musik, pemasukannya lumayan, dan …”

SUAMI ISTRI PENGGEMAR JERUK
“Bagaimana si Mardi, Mas?”
“Kata Danang lagi istirahat.”
“Maghrib-maghrib begini? Katanya Danang sudah lulus, ya?”
“Iya, tapi sekarang dia masih nganggur katanya mau ngelanjutin di Jerman.”
“Nggak heranlah, kuliahnya cuma di kampus kelas dua begitu mana kredibel. Jatuhnya
harus kuliah di luar negeri lagi, biaya lagi.”
“Kalau kulihat dia itu belum bisa kerja, kurang mandiri. Bergaulnya saja
susah.”
“Juga kurang cekatan, ngomongnya saja dia pintar, kalau lawan bicaranya nggak
lebih pintar mungkin sindiran dia itu nggak terasa!”
“Nggak heranlah. Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Danang juga bisa dibilang
kurang religius, tadi aku ‘Assalamualaikum’ sampai dua kali nggak dibalas, tapi
kita nggak bisa menyalahkan dia juga, ini salah komunitasnya.”
“Iya,
ya. Alhamdulillah Joko nggak begitu ya, Mas.”

***